Jangan Asal Bersikap, Pola Asuh Orangtua Pengaruhi Hubungan Kakak Adik
Ilustrasi kakak adik.(Google Gemini AI)
20:10
19 Januari 2026

Jangan Asal Bersikap, Pola Asuh Orangtua Pengaruhi Hubungan Kakak Adik

- Hubungan antara kakak dan adik sering kali dianggap sebagai dinamika yang akan berjalan dengan sendirinya.

Pertengkaran, kecemburuan, hingga kedekatan emosional, dipandang sebagai bagian wajar dari proses tumbuh bersama.

Namun, di balik interaksi sehari-hari tersebut, ada peran besar orangtua yang membentuk bagaimana relasi kakak-adik berkembang dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

"Hubungan horizontal ini adalah manifestasi dari bagaimana orangtua memperlakukan kita dan saudara kita," tutur Wenny Aidia, M.Psi., Psikolog, dalam kelas daring KALM Counseling bertajuk "Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman", Minggu (18/1/2026).

Dalam suatu keluarga, ada yang namanya hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal mengacu pada hubungan antara anak dan orangtua, sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan antara saudara kandung.

Relasi horizontal ini tidak terlepas dari pola asuh yang diterapkan orangtua sejak awal, terutama dalam menempatkan peran, tanggung jawab, dan ekspektasi kepada masing-masing anak.

Relasi yang dipengaruhi oleh pola asuh ayah dan ibu

Ilustrasi kakak adik.Google Gemini AI Ilustrasi kakak adik.

Psikolog yang berpraktik di KALM Counseling ini melanjutkan, relasi kakak-adik terbentuk melalui interaksi sehari-hari, mulai dari bermain bersama, berbagi ruang, hingga menghadapi konflik kecil.

Namun, pola interaksi tersebut tidak muncul secara acak. Cara orangtua mengasuh dan merespons situasi antaranak menjadi dasar pembentukan relasi tersebut.

Ia menjelaskan, perlakuan ayah dan ibu terhadap masing-masing anak akan memengaruhi bagaimana kakak dan adik memandang satu sama lain, termasuk soal peran, hak, dan batasan dalam hubungan.

Ketika peran kakak dan adik ditetapkan sejak dini

Dalam banyak keluarga, peran kakak dan adik sering kali ditetapkan secara tidak tertulis.

Sebagai seorang "kakak", anak diharapkan lebih dewasa, lebih sabar, dan sering kali diminta mengalah. Sementara sebagai seorang "adik", anak kerap diposisikan sebagai pihak yang perlu dilindungi atau diutamakan.

Wenny mencontohkan situasi sederhana yang kerap terjadi di rumah, seperti saat kakak dan adik berebut mainan. Respons orangtua dalam kondisi ini dapat meninggalkan makna mendalam bagi kedua anak.

“Misalnya saya sebagai kakak punya adik, terus lagi berantem, berebut mainan, terus orang tua bilang, 'kakak ngalah dong',” ujar Wenny.

Ilustrasi kakak adik.Google Gemini AI Ilustrasi kakak adik.

Dari situasi tersebut, anak dapat menangkap pesan tertentu. Kakak bisa menanamkan keyakinan bahwa dirinya harus selalu mengalah, sedangkan adik bisa merasa bahwa kebutuhannya lebih diutamakan.

Kemungkinan lainnya yang dapat terjadi pada pola asuh seperti itu adalah pemberontakan.

"Karena selalu dibilang selalu mengalah, akhirnya kita (kakak) memberontak," ujar Wenny.

Pesan-pesan ini kemudian menjadi bagian dari dinamika hubungan kakak-adik dalam keluarga. Sebagian anak menerima peran tersebut dan menjadikannya sebagai kewajiban, sementara sebagian lain justru menyimpan perasaan tidak adil.

Dalam konteks hubungan kakak-adik, pola ini dapat memicu jarak emosional, rasa iri, atau konflik lainnya, yang terus terbawa hingga dewasa.

“Pertengkaran ketika bermain itu hal yang wajar sebenarnya, tapi sikap atau value (nilai) yang ditanamkan oleh orangtua kita akan nempel,” ujar Wenny.

Nilai yang dimaksud mencakup rasa keadilan, penghargaan terhadap perasaan masing-masing anak, serta bagaimana perbedaan disikapi dalam keluarga.

Ketika orangtua cenderung berpihak atau tidak konsisten, anak-anak akan menyerap pola tersebut dalam relasi mereka satu sama lain.

Peran orangtua dalam mengakrabkan anak

Hubungan kakak-adik tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan usia, tetapi juga oleh bagaimana orangtua secara aktif membangun kedekatan di antara anak-anaknya.

Ilustrasi kakak adik.Google Gemini AI Ilustrasi kakak adik.

Pasalnya, orangtua memiliki peran penting dalam menciptakan suasana keluarga yang aman dan adil bagi setiap anak.

“Bagaimana orangtua kita menempatkan si kakak, menempatkan si adik, menempatkan si mungkin ada anak tengah, itu tuh fondasi awal terbentuknya hubungan kita sesama keluarga, antara kakak dan adik,” kata Wenny.

Ketika setiap anak merasa dilihat dan dipahami, ditambah lagi diperlakukan secara adil, hubungan kakak-adik cenderung lebih hangat dan suportif.

Sebaliknya, jika salah satu anak merasa terpinggirkan, relasi antarsaudara bisa diwarnai kecemburuan dan konflik berkepanjangan.

Pola asuh yang diwariskan

Menurut Wenny, banyak orangtua tanpa sadar mengulang pola asuh yang mereka alami di masa kecil. Anggapan bahwa anak yang lebih besar harus selalu mengalah, sering kali berasal dari nilai yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

“Orangtua kita juga terbawa dari orangtuanya dulu, bahwa yang besar harus ngalah. Padahal yang kecil juga belum paham,” ujar Wenny.

Padahal, setiap anak, baik kakak maupun adik, memiliki kebutuhan emosional yang perlu dipahami secara seimbang.

Jika pola lama ini tidak disadari, hubungan kakak-adik berpotensi terus dibangun di atas ketimpangan peran. Kesadaran orangtua terhadap dampak pola asuh menjadi kunci dalam membangun hubungan kakak-adik yang sehat.

“Jadi, memang banyak yang perlu kita cut circle-nya, biar jangan jadi masalah lagi untuk ke depan-depannya,” pungkas Wenny.

Tag:  #jangan #asal #bersikap #pola #asuh #orangtua #pengaruhi #hubungan #kakak #adik

KOMENTAR