Ini Pola Child Grooming yang Sering Tak Disadari Orangtua
ilustrasi anak. Child grooming dapat muncul dalam berbagai bentuk manipulasi yang kerap tidak disadari, sehingga orangtua perlu memahami pola-pola yang sering terjadi.(Freepik)
19:35
18 Januari 2026

Ini Pola Child Grooming yang Sering Tak Disadari Orangtua

Child grooming tidak terjadi dalam satu bentuk tunggal, melainkan melalui berbagai pola manipulasi psikologis yang sering kali tidak disadari oleh anak maupun orang dewasa di sekitarnya.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa memahami tipe-tipe child grooming menjadi kunci penting untuk mengenali hubungan yang tampak aman, tetapi sebenarnya berisiko melukai anak.

Kesadaran ini diperlukan agar orangtua tidak terlambat menyadari proses grooming yang berlangsung bertahap.

Tipe child grooming yang perlu diwaspadai orangtua

Menurut Lahargo, berikut adalah beberapa tipe child grooming yang perlu diwaspadai oleh orangtua.

  • Emotional grooming

Emotional grooming terjadi ketika pelaku membangun kedekatan emosional yang intens dengan anak.

Pelaku memosisikan diri sebagai satu-satunya orang yang benar-benar mengerti perasaan anak. Anak dijadikan tempat berbagi rahasia, keluhan, dan emosi yang tidak disampaikan kepada orangtua.

Dalam kondisi ini, anak dapat merasa lebih aman bersama pelaku dibandingkan keluarganya sendiri.

“Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika,” kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Sabtu (17/1/2026).

Pelan-pelan, anak bisa merasa bersalah jika menjauh atau takut kehilangan kedekatan tersebut.

  • Authority grooming

Ilustrasi anak. Child grooming dapat muncul dalam berbagai bentuk manipulasi yang kerap tidak disadari, sehingga orangtua perlu memahami pola-pola yang sering terjadi.Freepik Ilustrasi anak. Child grooming dapat muncul dalam berbagai bentuk manipulasi yang kerap tidak disadari, sehingga orangtua perlu memahami pola-pola yang sering terjadi.

Authority grooming memanfaatkan posisi kuasa pelaku terhadap anak. Pelaku bisa berperan sebagai guru, pelatih, pembina rohani, mentor, atau senior.

Anak diajarkan untuk patuh tanpa mempertanyakan, dengan dalih demi kebaikan atau masa depannya. Kalimat seperti “jangan melawan” atau “ini demi kebaikanmu” sering digunakan untuk menekan anak.

“Otoritas tanpa batas bisa berubah dari membimbing menjadi mengendalikan,” ujar Lahargo.

Dalam situasi ini, anak kesulitan membedakan antara bimbingan yang sehat dan kontrol yang berlebihan.

  • Digital atau online grooming

Child grooming juga banyak terjadi di ruang digital. Pelaku memanfaatkan media sosial, aplikasi pesan pribadi, atau gim online untuk membangun kedekatan.

Interaksi biasanya dimulai dengan pujian berlebihan, perhatian intens, atau hadiah virtual. Anak kemudian diajak memiliki rahasia berdua dan menjauh dari pengawasan orang dewasa.

“Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap,” kata Lahargo.

Karena terjadi secara privat, bentuk grooming ini sering luput dari pengawasan keluarga.

  • Gradual boundary crossing

Tipe grooming ini berlangsung paling halus dan sering tidak disadari. Pelaku perlahan menggeser batasan yang sebelumnya jelas.

Topik pembicaraan diubah sedikit demi sedikit, perilaku yang awalnya terasa tidak pantas dinormalisasi.

Anak dibuat bingung antara rasa nyaman dan tidak nyaman. Banyak anak berpikir bahwa apa yang dialaminya mungkin tidak salah, meski terasa aneh.

“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” ujar Lahargo.

Mengapa penting mengenali tipe grooming?

Setiap tipe child grooming memiliki pola yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama, yaitu membangun kontrol dan ketergantungan emosional pada anak.

Lahargo menegaskan bahwa grooming bukan peristiwa instan, melainkan proses yang berlangsung bertahap.

Dengan mengenali tipe-tipe ini, orangtua dapat lebih peka terhadap perubahan perilaku dan relasi anak. Kesadaran dini membantu mencegah manipulasi berkembang menjadi luka psikologis jangka panjang.

Peran orang dewasa dalam pencegahan

Orangtua dan pengasuh memiliki peran penting dalam mencegah child grooming.

Membangun ruang aman agar anak berani bercerita tanpa takut dihakimi menjadi langkah awal yang krusial.

Keterlibatan yang konsisten, tanpa mengontrol secara berlebihan, membantu orang dewasa memahami dunia anak.

“Anak yang aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi,” kata Lahargo.

Tag:  #pola #child #grooming #yang #sering #disadari #orangtua

KOMENTAR