Studi Ungkap, Sering Mmpi Buruk Mempercepat Penuaan Biologis
Ilustrasi mimpi(SHUTTERSTOCK)
07:55
18 Januari 2026

Studi Ungkap, Sering Mmpi Buruk Mempercepat Penuaan Biologis

– Hampir semua orang pernah mengalami mimpi buruk setidaknya sekali seumur hidup. Kondisi ini umumnya masih tergolong normal, selama tidak terjadi terlalu sering.

Namun, jika mimpi buruk muncul berulang kali, hal tersebut bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan, sebagaimana dilaporkan Today, Minggu (18/1/2026).

Sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam European Academy of Neurology Congress pada Juni 2025 mengungkap, orang dewasa yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki risiko kematian dini sebelum usia 70 tahun hingga tiga kali lipat lebih tinggi, dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mengalaminya.

Penuaan biologis yang lebih cepat

Tak hanya berkaitan dengan risiko kematian dini, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang yang sering mengalami mimpi buruk cenderung mengalami proses penuaan biologis yang lebih cepat.

Percepatan penuaan ini diukur melalui panjang telomer, yaitu bagian kecil dari DNA yang berfungsi sebagai penanda usia sel dalam tubuh.

"Pengukuran juga berdasarkan jam epigenetik mereka, yaitu penanda molekuler yang mengukur kecepatan penuaan tubuh," kata penulis utama studi sekaligus ahli saraf di Imperial College London, Inggris, Dr. Abidemi Otaiku.

Prediktor kematian dini yang lebih kuat

Dalam temuan yang sama, Otaiku menyebut, mimpi buruk yang terjadi setiap minggu merupakan indikator risiko kematian dini yang bahkan lebih kuat dibandingkan faktor gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, obesitas, pola makan buruk, maupun kurang aktivitas fisik.

Padahal, mimpi buruk merupakan pengalaman yang cukup umum dialami banyak orang. Lalu, mengapa tubuh memiliki mekanisme yang justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan?

“Masih belum ada konsensus tentang mengapa kita bermimpi, apalagi mengapa kita mengalami mimpi buruk,” ucap Otaiku.

Ilustrasi rebahan di rumah.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi rebahan di rumah.

Otaiku menjelaskan bahwa saat tidur, otak manusia tidak mampu membedakan antara pengalaman nyata dan mimpi. Akibatnya, mimpi buruk dapat memicu respons stres alami tubuh, yakni mekanisme “lawan atau lari”.

Respons ini memicu peningkatan hormon kortisol dalam jangka waktu yang lebih lama. Kortisol sendiri diketahui berkaitan dengan percepatan penuaan sel jika kadarnya terus meningkat.

Mimpi buruk dan kesehatan

Dampak mimpi buruk tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga fisik. Seseorang yang mengalami mimpi buruk bisa terbangun dengan jantung berdebar, napas cepat, tubuh berkeringat, bahkan menangis.

Otaiku menuturkan bahwa paparan stres berulang akibat mimpi buruk yang sering dialami berpotensi memberi tekanan besar pada tubuh dan mempercepat proses penuaan.

“Selain itu, mimpi buruk mengganggu kualitas dan durasi tidur, yang dapta merusak pemulihan dan perbaikan sel tubuh yang penting di malam hari," terang dia.

"Kombinasi beracun ini kemungkinan berkontribusi pada percepatan penuaan," sambung Otaiku.

Menurut American Psychological Association (APA), mimpi buruk juga dapat meningkatkan tingkat kecemasan serta memengaruhi kondisi emosional seseorang sepanjang hari.

Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mimpi buruk berkaitan dengan meningkatnya risiko bunuh diri.

Studi terbaru Otaiku yang masih menunggu publikasi di jurnal ilmiah ini melibatkan lebih dari 183.000 orang dewasa yang melaporkan frekuensi mimpi buruk mereka dan dipantau hingga 19 tahun.

Penelitian ini juga mencakup lebih dari 2.400 anak, dengan data frekuensi mimpi buruk yang dicatat oleh orang tua. Hasilnya, anak-anak yang mengalami mimpi buruk setiap minggu juga menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat.

Penyebab mimpi buruk

Berdasarkan informasi dari National Library of Medicine, mimpi buruk dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pengalaman traumatis, tingkat stres tinggi, konsumsi obat-obatan tertentu, kebiasaan minum alkohol berlebihan, penyakit, hingga depresi.

Kebiasaan makan sebelum tidur juga bisa berperan. Misalnya, mengonsumsi keju pada orang yang memiliki intoleransi laktosa dapat memicu mimpi buruk.

Tema mimpi buruk yang paling sering dilaporkan meliputi dikejar, mengalami kekerasan fisik, terjatuh, atau kehilangan orang terdekat. Sebagian orang juga kerap bermimpi tenggelam atau giginya tanggal.

Mimpi buruk bersifat universal

Ahli bedah otak sekaligus ahli saraf, Dr. Rahul Jandial, mengatakan bahwa mimpi buruk dan mimpi erotis pada dasarnya merupakan pengalaman universal yang hampir pasti pernah dialami semua orang.

“Akan tetapi, jika mimpi buruk itu sering muncul, terus-menerus, dan baru, saya akan menganggapnya sebagai tanda vital, seperti rasa sakit yang tidak kunjung hilang. Ini adalah sesuatu yang harus dibicarakan dengan dokter,” ucap Jandial.

Ia menambahkan bahwa mimpi buruk yang muncul secara persisten bisa menjadi tanda awal adanya gangguan fisik, seperti penyakit Parkinson atau lupus.

Teori lain menyebutkan bahwa mimpi buruk berfungsi sebagai simulasi mental, tempat seseorang dapat “berlatih” menghadapi ancaman, seperti dikejar, dalam kondisi yang relatif aman.

“Ini bisa memberikan keuntungan bertahan hidup bagi nenek moyang kita ketika mereka hidup di lingkungan yang sangat berbahaya dan bermusuhan,” kata Otaiku.

“Namun, dunia modern secara keseluruhan tidak seberbahaya itu. Dan tampaknya bagi kebanyakan orang, kerugian jangka panjang dari mimpi buruk lebih besar," lanjut dia.

Tag:  #studi #ungkap #sering #mmpi #buruk #mempercepat #penuaan #biologis

KOMENTAR