Transformasi Busana Cheongsam, Tetap Relevan Tanpa Meninggalkan Budaya
Vest dengan siluet cheongsam.(KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai)
09:05
16 Januari 2026

Transformasi Busana Cheongsam, Tetap Relevan Tanpa Meninggalkan Budaya

– Seiring perkembangan tren, busana bernuansa tradisional China seperti cheongsam kini mulai tampil lebih modern dan fleksibel untuk berbagai kesempatan.

Minat masyarakat terhadap pakaian tradisional China yang makin terbuka membuat cheongsam perlahan bergeser dari busana seremonial menjadi bagian dari gaya sehari-hari.

Perubahan cara pandang inilah yang mendorong lahirnya koleksi cheongsam modern dari brand lokal.

“Untuk Chinese New Year itu selalu identiknya kita harus pakai merah, pokoknya sesuatu yang lebih tradisional. Cuma kali ini aku mau bikin yang lebih modern,” ujar pemilik brand Jii, Gloria saat ditemui di OADKIDS Pop-up Market di Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, konsep tersebut menjadi cara menghadirkan busana bernuansa oriental yang tetap relevan dengan gaya masa kini, salah satunya dengan menghadirkan siluet cheongsam ke dalam bentuk outer dan vest.

Terinspirasi dari gaya sehari-hari di China

Outer bersiluet cheongsam dengan bahan katun denim.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Outer bersiluet cheongsam dengan bahan katun denim.

Inspirasi cheongsam modern ini datang dari pengamatannya saat beberapa kali berkunjung ke China. 

Ia melihat masyarakat setempat mengenakan busana dengan sentuhan oriental dalam aktivitas harian.

“Aku lihat, ternyata di hari-hari biasa mereka pakai jenis yang ada Chinese influence-nya, tapi masih kelihatan keren,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa elemen budaya tidak harus selalu tampil formal. Sentuhan tradisional justru bisa menyatu dengan gaya kasual jika dikemas dengan tepat.

Hal inilah yang kemudian diterapkan pada desain cheongsam modern, agar tetap memiliki identitas budaya, tetapi lebih mudah dipakai dalam berbagai situasi.

Detail kecil jadi penanda budaya

Meski tampil lebih modern, ciri khas oriental tetap dipertahankan melalui detail.

“Aku interpret dalam bentuk kemeja. Warnanya butter, tapi kancingnya aku infuse oriental feeling lewat bentuk bambu,” katanya.

Menurutnya, detail kecil seperti kancing menjadi cara paling halus untuk menghadirkan nuansa cheongsam tanpa membuat busana terlihat terlalu tradisional. 

Dengan begitu, pemakai tetap merasakan unsur budaya, sekaligus tampil lebih santai dan kasual.

Tahun baru Imlek 2025 diwarnai oleh shio ular dengan elemen kayu.Pexels/ALEXEY DEMIDOV Tahun baru Imlek 2025 diwarnai oleh shio ular dengan elemen kayu.

Bahan dibuat lebih ringan dan nyaman

Inovasi juga dilakukan pada pemilihan material. Salah satunya dengan menggunakan katun yang dikembangkan agar memiliki tampilan seperti denim.

“Ini bukan denim asli seperti jeans. Tapi katun yang dikembangkan supaya kesannya seperti denim. Jadi enggak sampai tebal, tapi masih ada feeling denimnya,” jelasnya.

Bahan tersebut dipilih agar busana tetap nyaman digunakan di iklim tropis seperti Indonesia. Selain itu, beberapa koleksi dibuat menggunakan bahan semi wol yang tidak terlalu berat.

Bisa dipakai di luar momen perayaan

Desain yang lebih modern membuat cheongsam tidak lagi terbatas pada perayaan Imlek.

“Supaya dipakai weekend pun masih kelihatan keren, enggak kelihatan seperti baju sincia banget,” katanya.

Lewat desain yang lebih kasual, cheongsam bisa menjadi bagian dari gaya berpakaian yang lebih luas, bukan sekadar busana musiman.

“Kalau dipakai saat Chinese New Year masih ada relasinya. Tapi habis itu mau dipakai lagi juga masih bisa,” ujarnya.

Dengan tampilan yang lebih fleksibel, cheongsam modern kini dapat dipadukan dengan celana, rok, atau bahkan dijadikan outer, sehingga lebih mudah menyesuaikan dengan gaya personal.

Tag:  #transformasi #busana #cheongsam #tetap #relevan #tanpa #meninggalkan #budaya

KOMENTAR