Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans, Waspada Grooming Juga Bisa Terjadi di Medsos
- Aktris sekaligus penyanyi Aurelie Moeremans mengungkap, bahwa dirinya pernah menjadi korban grooming ketika berusia 15 tahun. Hal buruk ini ia ceitakan dalam bukunya yang berjudul Broken Wings.
Ia menceritakan kisahnya bertemu seorang pria bernama Bobby, bukan nama sebenarnya, yang kala itu sudah berusia 29 tahun.
Proses grooming terjadi sejak pertemuan mereka di lokasi syuting iklan, dan berlanjut sampai Bobby mengontrol segala hal dalam hidup Aurelie.
Grooming, juga disebut child grooming, tidak hanya terjadi di dunia nyata seperti yang dialami oleh Aurelie. Seiring majunya teknologi, grooming juga bisa terjadi di dunia maya.
Bahkan, saat ini bisa dikatakan bahwa dunia maya merupakan salah satu "gerbang" masuknya child grooming.
Grooming di media sosial
Apa itu grooming?
Grooming adalah proses manipulasi, yang mana seseorang membangun hubungan, rasa precaya, dan koneksi dengan seorang anak.
Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa tujuan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak.
"Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak," jelas dia, dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/1/2026).
Istilah child grooming sering berkaitan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.
Cara pelaku mendekati anak melalui media sosial
Grooming bisa terjadi di dunia maya, sering kali melalui aplikasi media sosial, yang mana pelaku bisa berkenalan dengan korban.
Mereka akan mendekati korban dengan menunjukkan perhatian melalui pesan-pesan pribadi, seperti chat yang tampaknya tidak berbahaya. Lambat laun, hubungan dibangun hingga anak memercayai pelaku.
Setelah kepercayaan terbentuk, Farraas menjelaskan bahwa pelaku akan mulai membuat permintaan-permintaan yang melibatkan eksploitasi, seperti meminta foto atau informasi pribadi.
Anak yang sudah merasa percaya dan disayang karena telah dimanipulasi, akan memenuhi permintaan pelaku, seolah itu adalah kemauannya sendiri.
"Kadang-kadang ini suka jadi perdebatan 'oh dia aja mau' gitu misalnya. Nah "mau" itu mungkin karena manipulasi, kalau pakai istilah grooming," jelas Farraas, dilansir dari Kompas.com.
Mengapa anak bisa menjadi korban grooming di dunia maya?
Online grooming bisa terjadi karena banyak anak merasa tidak nyaman atau kurang diterima di dunia nyata.
Mereka menggunakan media sosial sebagai pelarian. Di sana, mereka bisa menciptakan identitas yang berbeda, atau berpura-pura menjadi orang lain.
Farraas meuturkan, ada anak yang sengaja memakai pakaian yang lebih dewasa demi mendapat pujian atau perhatian.
Kondisi ini menciptakan peluang bagi pelaku untuk masuk, dengan memberikan validasi yang dicari oleh anak.
Tanda anak menjadi korban grooming di dunia maya
Dilansir dari situs web Layanan Polisi Irlandia Utara, ada beberapa tanda seorang anak mungkin sedang menjadi korban grooming di dunia maya.
Pretama adalah perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti menghabiskan lebih banyak atau lebih sedikit waktu daring. Lalu menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, atau menghilang dari rumah atau sekolah.
Selanjutnya adalah bersikap tertutup tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka, termasuk saat menggunakan gawai.
Lalu, anak menerima hadiah yang asal-usulnya tidak dapat dijelaskan, menyalahgunakan alkohol dan/atau narkoba, serta memiliki persahabatan atau hubungan dengan orang yang jauh lebih tua.
Kemudian, anak menggunakan bahasa seksual yang tidak kamu duga, serta terlihat kesal, khawatir, sedih, menarik diri, marah, stres, cemas, atau depresi.
Mengizinkan anak menggunakan media sosial
Anak rentan menjadi korban grooming di dunia maya, karena orangtua mengizinkan mereka untuk mengaksesnya.
"Jadi jangan kayak udah semua anak udah punya TikTok, biarin aja lah punya TikTok. Nah, itu harus dijagain juga," tegas Farraas.
Jika anak menggunakan gawai, ayah dan ibu sebaiknya tetap mengawasi penggunaannya. Aturan yang jelas juga harus ditetapkan.
Misalnya, gawai yang diberikan adalah gawai orangtua yang dipinjamkan, dengan kesepakatan bahwa penggunaannya hanya untuk kebutuhan tertentu, seperti komunikasi terkait sekolah.
Tag: #belajar #dari #kisah #aurelie #moeremans #waspada #grooming #juga #bisa #terjadi #medsos