Fase Tidur REM Bantu Otak Menghadapi Stres dan Ketakutan
Ilustrasi mimpi.(Google Gemini AI)
20:25
11 Januari 2026

Fase Tidur REM Bantu Otak Menghadapi Stres dan Ketakutan

- Selama ini, mimpi sering dianggap sebagai sekadar bunga tidur, atau gambaran acak yang muncul tanpa makna mendalam.

Kendati demikian, ada sebuah studi ang menunjukkan bahwa satu fase tidur tertentu, yaitu fase ketika manusia bermimpi, berperan penting dalam bagaimana otak merespons situasi stres.

Dikutip dari Time, Sabtu (10/1/2025), studi bertajuk "Baseline Levels of Rapid Eye Movement Sleep May Protect Against Excessive Actiity in Fear-Related Neural Circuitry", karya dari para peneliti Itamar Lerner, Shira M. Lupkn, Neha Sinha, Alan Tsai, dan Mark A. Gluck pada tahun 2017.

Tidur REM, mimpi, dan kesehatan manusia

Aktivitas otak dan kondisi mental

Penelitian yang dipublikasi di Journal of Neuroscience ini menemukan, orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam tidur rapid eye movement (REM), memiliki aktivitas otak yang lebih rendah terkait rasa takut saat dihadapkan pada situasi yang mengejutkan keesokan harinya.

"Temuan ini menunjukkan, mendapatkan tidur REM yang cukup sebelum mengalami pengalaman yang menakutkan, dapat membuat seseorang kurang rentan terhadap gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD)," tulis para peneliti sebagai hipotesis.

Namun, penelitian ini bukanlah yang pertama yang menunjukkan bahwa tidur REM menawarkan manfaat yang unik.

Beberapa ahli bahkan percaya, kurangnya tidur REM dan kurangnya mimpi, bertanggung jawab atas masalah kesehatan yang diderita orang-orang.

Apa yang terjadi dalam tidur REM?

Tidur melibatkan lima fase berbeda, yang mana dilalui oleh otak dan tubuh beberapa kali sepanjang malam.

Empat fase pertama melibatkan transisi dari tidur dangkal ke tidur nyenyak, sementara fase kelima alias tidur REM melibatkan peningkatan aktivitas otak dan mimpi yang jelas.

Tahap-tahap tidur REM cenderung relatif singkat selama dua pertiga pertama malam, karena tubuh memprioritaskan tidur gelombang lambat yang lebih dalam.

"Karena periode tidur REM yang lebih panjang hanya terjadi selama jam-jam terakhir tidur, yaitu pagi buta bagi kebanyakan orang, tidur ini dapat terputus jika kamu tidak menghabiskan tujuh atau delapan jam penuh di tempat tidur," kata psikolog Rubin Naiman.

Adapun, Naiman juga seorang ahli tidur dan mimpi di University of Arizona Center for Integrative Medicine, Amerika Serikat (AS).

"Selama tidur REM, ada lebih banyak aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan visual, motorik, emosi, dan memori otobiografi," ujar profesor neurosains dan psikologi di University of California, Berkeley, AS, Matthew Walker.

Namun, penulis buku "Why We Sleep" ini melanjutkan, terjadi juga penurunan aktivitas di wilayah lain, seperti wilayah yang terlibat dalam pemikiran raisonal.

Itulah sebabnya mimpi menjadi sangat jernih, tetapi sering kali tidak masuk akal.

"Mimpi yang kamu ingat saat bangun tidur hanyalah sebagian dari tidur REM. Pada kenyataannya, otak sangat aktif sepanjang fase tersebut," ucap Walker.

Manfaat kesehatan dari tidur REM

Lebih mampu menilai ekspresi wajah manusia

Beberapa penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan, tidur REM dapat memengaruhi seberapa akurat seseorang dapat membaca emosi dan memproses rangsangan eksternal.

Salah satunya adalah penelitian Walker, Ninad Gujar, Steven Andrew McDonald, dan Masaki Nishida, bertajuk "A Role for REM Slep in Recalibrating the Sensitivity of the Human Brain to Specific Emotion" pada tahun 2010.

Penelitian tersebut menunjukkan, orang-orang yang telah mencapai tidur REM lebih mampu menilai ekspresi wajah setelahnya daripada mereka yang tidak mencapai tidur REM.

Menenangkan pikiran sepanjang malam

Penemuan lainnya adalah orang-orang yang melihat gambar-gambar emosional sebelum tidur nyenyak, cenderung memiliki reaksi yang lebih ringan terhadap gambar yang sama keesokan harinya, dibandingkan mereka yang tidak tidur nyenyak.

"Saya menganggap mimpi sebagai terapi semalam. Mimpi memberikan penenang di malam hari yang mengurangi dampak negatif dari pengalaman emosional kita, sehingga kita merasa lebih baik keesokan harinya," jelas Walker.

Reaksi takut yang tidak berlebihan

Penelitian dari Lerner dan kawan-kawan menunjukkan, kualitas tidur seseorang sebelum peristiwa traumatis dapat berperan dalam bagaimana otak bereaksi terhadap situasi yang menakutkan.

"Semakin banyak tidur REM, semakin lemah efek yang terkait dengan rasa takut," tulis mereka.

Lerner dan kawan-kawan tidak yakin mengapa hal ini terjadi. Namun, bagian otak yang mengeluarkan norepinefrin selama terjaga dan tidur non-REM, beristirahat selama tidur REM.

"Norepinefrin dikaitkan dengan stres, dan memengaruhi tingkat sensitivitas amigdala, yaitu pusat rasa takut di otak, terhadap rangsangan," kata Lerner.

Salah satu teori, dikenal sebagai hipotesis kalibrasi REM, menyatakan bahwa norepinefrin menumpuk di siang hari dan dapat dikembalikan ke tingkat normal selama tidur REM.

"Saat itu terjadi, kami percaya bahwa amigdala mungkin menjadi kurang sensitif terhadap rangsangan, dan cenderung tidak bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti," lanjut Lerner.

Tag:  #fase #tidur #bantu #otak #menghadapi #stres #ketakutan

KOMENTAR