Bekal Anak Bisa Jadi Kunci Membentuk Kebiasaan Makan Sehat
- Bekal anak ke sekolah bukan sekadar untuk mengenyangkan. Bekal juga menjadi cara untuk membentuk kebiasaan makan sehat serta mengenalkan anak pada keragaman pangan sejak dini.
Namun, Spesialis Gizi Klinik, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menilai bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pemenuhan gizi anak masih terletak pada kesadaran orangtua terhadap pentingnya zat gizi yang beragam.
“Tantangannya yang pertama kesadaran bahwa seorang anak itu butuh beragam macam zat gizi. Baik makro maupun mikronutrien,” ujarnya dalam acara Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi, di Jakarta Selatan, Kamis (8/1/2026).
Selain itu, jumlah makanan yang dikonsumsi anak juga perlu diperhatikan, apakah sudah terpenuhi atau belum.
Menurutnya, zat gizi hanya bisa diperoleh dari makanan yang beragam.
“Karena zat gizi yang beragam ini bisa didapatkan dari makan makanan yang beragam. Jadi kalau makan sayur, enggak boleh cuma wortel terus saja. Ataupun hanya bayam terus saja, tetapi harus beragam,” katanya.
Komposisi bekal anak, sesuaikan dengan kebutuhan
Dr. Diana menyarankan bahwa bekal anak tidak perlu rumit, tetapi harus seimbang.
“Sebenarnya kalau bekal atau makanan yang dikonsumsi sehari anak-anak itu, kita bisa sesuaikan saja bahwa dia ada makanan pokoknya, dia ada sumber proteinnya, hewani maupun nabati, kemudian dia ada sayur mayur dan buah,” jelasnya.
Ia menambahkan, porsi anak memang tidak perlu besar, yang terpenting anak menjadi kenal dengan keberagaman makanan sehingga tidak menjadi picky eater.
“Yang terpenting memang pada anak-anak sudah diberikan fondasi bahwa mereka mengenal makanan, mengenal beragam makanan. Jadi tidak jadi picky eater, hanya makan makanan tertentu saja,” ujarnya.
Cukupi bekal dengan zat besi untuk mencegah anemia
Sejalan dengan pentingnya pola makan sehat, Presiden Indonesian Nutrition Association (INA), Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK, menegaskan bahwa pemilihan makanan menjadi kunci dalam upaya pencegahan anemia.
“Nah, ini adalah dasar makan yang sehat. Selain itu, untuk mencegah anemia, ini memang sangat penting untuk memilih makanan-makanan yang banyak mengandung zat besi. Contohnya, dari zaman dulu kita sudah tahu ya, makan ati,” ujar dr. Luciana dalam kesempatan yang sama.
Untuk membantu masyarakat menerapkan pola makan yang tepat, dr. Luciana juga menyarankan untuk mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang Tahun 2014 dari Kementerian Kesehatan yang dapat diakses secara daring.
Zat besi perlu didampingi vitamin C
Lebih lanjut, dr. Luciana menjelaskan bahwa zat besi sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan vitamin C agar penyerapannya lebih optimal oleh tubuh.
“Selain itu, ternyata zat besi itu tidak bisa kita konsumsi sendirian, tetapi alangkah baiknya kalau ditemani dengan vitamin yang memang sangat erat mendukung penyerapannya, yaitu vitamin C. Pada waktu penyerapan memang idealnya ada vitamin C,” ujar dr. Luciana.
Ia menambahkan, kombinasi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam memilih makanan sehari-hari, termasuk makanan siap konsumsi.
“Jadi, pilihan makanan dan pilihan makanan komersial, nah ini harus dipertimbangkan hal-hal seperti itu,” jelasnya.
Menurut dr. Luciana, dengan kombinasi yang tepat, manfaat zat besi dapat diserap tubuh dengan lebih baik sehingga membantu mencegah anemia secara lebih efektif.
Tag: #bekal #anak #bisa #jadi #kunci #membentuk #kebiasaan #makan #sehat