Psikiater Ungkap Cara Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana
Pembersihan lumpur di Aceh Tamiang, Aceh, pasca banjir dan longsor telah tembus 60 persen.(Dok. Kementerian PU)
15:05
8 Januari 2026

Psikiater Ungkap Cara Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana

- Bencana alam seperti banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Indonesia akhir tahun lalu, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Aceh, bisa memengaruhi kesehatan mental para penyintas.

Selain karena segala harta yang dimiliki disapu banjir, terpisah dari anggota keluarga dan kondisi pengungsian yang kurang memadai, bisa memperburuk keadaan mental seseorang pascabencana.

“Kondisi yang seperti ini, mau dibilang tidak berdampak (pada kesehatan mental) itu bohong,” kata dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/2/2025).

Untuk menjaga agar kesehatan mental tidak semakin menurun, diperlukan coping atau upaya untuk mengatasi dan meminimalisir situasi yang penuh tekanan, dalam hal ini situasi pascabencana.

Cara menjaga kesehatan mental pascabencana

Mengingat pengalaman serupa

dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), saat diwawancarai di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (28/1/2025).Kompas.com / Nabilla Ramadhian dr. Willy Steven, Sp.KJ, relawan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), saat diwawancarai di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (28/1/2025).

Mengingat pengalaman serupa bisa dilakukan, karena terkadang dapat membantumu menghadapi dan merespons kondisi yang terjadi saat ini.

Harapannya, kamu juga bisa melalui kondisi sulit saat ini karena kamu berhasil melalui kondisi serupa di masa lalu.

“Dan harapannya juga bisa dilakukan secara komunal karena memang sepenanggungan. Jadi bisa saling mendukung satu sama lain sebagai coping (cara menghadapi situasi penuh tekanan) yang lebih komunal,” tutur dr. Willy.

Membantu orang lain

Ada beberapa orang dengan cara menghadapi situasi penuh tekanan yang mungkin ironi, yakni membantu orang lain. Padahal, mereka juga termasuk korban bencana.

Menurut penjelasan dr. Willy, orang-orang seperti itu ingin membantu orang sebagai tanda terima kasih bahwa mereka sudah diberi kesempatan untuk hidup.

“Itu sebenarnya coping yang baik juga. Dia jadi penolong, ya sudah biarin saja. Mungkin itu cara dia mengelola kecemasan atau rasa tidak berdaya, yaitu dengan jadi penolong untuk orang lain,” ujar dia.

Ada yang menjadi pendengar sesama penyintas bencana alam, menghibur anak-anak di pengungsian, atau masak di dapur umum.

Melakukan kegiatan kegamaan

dr. Febrianti, Sp.KJ, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat ditemui di lokasi pada Minggu (28/12/2025).Kompas.com / Nabilla Ramadhian dr. Febrianti, Sp.KJ, anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat ditemui di lokasi pada Minggu (28/12/2025).

Selain itu, melakukan kegiatan keagamaan juga bisa membantu menjaga kesehatan mental, menurut dr. Febrianti, Sp.KJ.

Adapun dr. Febrianti adalah salah satu anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang.

“Yang kami amati selama di sini, masyarakat Aceh menggunakan coping spiritual, religi. Dan ini bisa dioptimalkan, ditingkatkan, karena cukup efektif dalam membuat mereka bisa mengatasi ini,” ujar dia, Minggu.

Ada banyak kegiatan keagamaan yang bisa dilakukan, baik secara personal maupun komunal dengan pengungsi lainnya. Di antaranya adalah berdoa, mengaji, dan beribadah.

Kembali ke rutinitas sehari-hari

Kembali melakukan rutinitas sehari-hari sebelum bencana melanda juga bisa membantu menjaga kesehatan mental.

Ini bisa membuat penyintas merasa lebih berguna. Karena, berdiam diri karena sudah kehilangan banyak hal, justru dapat membuat mereka semakin terpuruk.

“Misalnya anak-anak mulai sekolah, kantornya sudah buka (untuk pekerja), atau ibu-ibu masak. Mereka sudah punya aktivitas rutin, ya kenapa enggak dilanjut?,” kata dr. Febrianti.

“Kalau sudah terbiasa misalnya pengajian bareng, atau ada kegiatan bareng, minimal di pengungsian enggak sendirian, itu bisa dimanfaatkan,” lanjut dia.

Menyadari kapan butuh bantuan profesional

Terlepas dari segala cara yang dianjurkan, dr. Willy dan dr. Febrianti menekankan pada pentingnya menyadari kapan penyintas membutuhkan bantuan profesional.

Ketika sudah merasa tidak baik-baik saja secara mental, merasa tidak nyaman, atau merasa bahwa pikiran dan tidurnya sudah terganggu, segera kunjungi fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan psikologi maupun psikiatri.

Di RSUD Aceh Tamiang, misalnya, poli psikiatri sudah dibuka. Di sana ada beberapa dokter yang siap membantu para penyintas bencana.

“Itu perlu disadari, dan segera mengakses (tenaga profesional). Kalau menunggu gejalanya berat akan jadi lebih sulit,” pungkas dr. Febrianti.

Tag:  #psikiater #ungkap #cara #menjaga #kesehatan #mental #pascabencana

KOMENTAR