Agrinas Pilih Impor 105.000 Mobil dari India, Pengusaha Kritik dan DPR Minta Tunda
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).(KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
11:48
24 Februari 2026

Agrinas Pilih Impor 105.000 Mobil dari India, Pengusaha Kritik dan DPR Minta Tunda

- PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) memutuskan mengimpor 105.000 unit mobil dari India untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Impor tersebut terdiri dari 35.000 unit mobil pikap ukuran 4x4 dari Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M), serta 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao De Sousa Mota mengatakan, sebanyak 200 unit mobil pikap dari Mahindra sudah tiba di Indonesia, dan berlanjut pengiriman 400 unit. Targetnya hingga akhir Februari, total 1.000 pikap dari Mahindra masuk ke Tanah Air.

"Sampai akhir bulan ini (target) sudah 1.000 unit. Tahun ini 35.000 kita usahakan bisa sampai semua, yang Mahindra," ujar Joao saat ditemui Kompas.com di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Begitu pula dengan 70.000 unit pikap dan truk yang dipesan dari Tata Motors, ditargetkan bisa sampai di Indonesia pada tahun ini.

Baca juga: Bos Agrinas Sebut Hemat Rp 43 Triliun lewat Impor 105.000 Mobil Kopdes dari India

Joao mengungkapkan, pertimbangan membeli kendaraan dari India dikarenakan faktor harga dan kemampuan industri dalam negeri untuk melakukan pengadaan dalam jumlah yang besar.

Ia menyebut harga pikap 4x4 yang ada di pasaran Indonesia relatif mahal. Menurutnya, harga yang ditawarkan produsen India lebih kompetitif sehingga menghemat penggunaan APBN.

"Pertama masalah harga. Produk-produk yang ada, baik dari manapun yang men-supply pasar Indonesia, harganya kalau 4x4 sangat mahal," ungkapnya.

"Jadi dengan mengambil dari India, itu kita menjadi jalan tengah. Jadi adil untuk kita menggunakan biaya anggaran APBN ini secara bijak. Karena kita beli dengan harga yang hampir setengahnya lebih murah daripada produk-produk yang ada di pasaran Indonesia," jelas dia.

Sementara kapasitas produksi nasional dinilai belum mampu memenuhi pengadaan pikap 4x4 dengan total 70.000 unit dalam kurun waktu yang ditetapkan Agrinas.

Menurutnya, jika dipaksakan membeli dari pasar domestik, dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas disribusi komoditas lainnya.

"Produksi mobil nasional kita juga sekarang ini cuma 70.000, kalau nggak salah. Kalau kita tambahkan lagi beli 70.000 dari pasar, yang ada itu stok sendiri tidak ada. Selain stoknya tidak ada, harganya mahal, nanti kita bisa memutus distribution yang lain gitu," jelasnya.

Baca juga: Dasco Minta Impor 105.000 Pikap India Ditunda, Dirut Agrinas: Kami Manut Saja

Ia menambahkan, pembelian kendaraan dari produsen di India tersebut telah menghemat penggunaan APBN hingga Rp 43 triliun. Sebab, harga yang didapat hampir setengah lebih murah dibandingkan produk sejenis di pasar Indonesia.

Joao bilang, jika menggunakan e-katalog pemerintah, total biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan sarana dan prasarana Koperasi Merah Putih tersebut mencapai Rp 121 triliun. Namun melalui skema pembelian langsung ke pabrikan, anggaran dapat ditekan sekitar Rp 43 triliun.

"Kalau menggunakan e-katalog itu cost-nya sudah kami hitung sekitar Rp 121 triliun. Tetapi dengan kami menggunakan direct buying kepada perusahaan-perusahaan pabrik-pabrik langsung, kami bisa mengefisiensikan sekitar Rp 43 triliun," ucapnya.

Impor mobil dari India menimbulkan polemik

Keputusan Agrinas untuk mengimpor 105.000 unit mobil dari India tersebut justru menimbulkan polemik. Salah satu kritik datang dari Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma).

Para pengusaha industri mesin tersebut menyayangkan keputusan Agrinas mengimpor, di tengah komitmen yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto untuk mewajibkan penggunaan kendaraan nasional.

Ketua Umum Gamma, Dadang Asikin menilai langkah impor tersebut mencerminkan inkonsistensi kebijakan dan melemahkan semangat kemandirian industri nasional.

"Di saat pemerintah mendorong penguatan TKDN, substitusi impor, serta keberpihakan terhadap produk dalam negeri, justru BUMN mengambil langkah yang berlawanan dengan arah kebijakan strategis nasional," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).

Menurut Dadang, keputusan impor tersebut berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen keberpihakan pada industri nasional. Selain itu, melemahkan daya saing industri otomotif dan manufaktur dalam negeri.

Serta memberikan sinyal negatif kepada pelaku industri nasional yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.

Ia bilang, Agrinas perlu membuka secara transparan kajian teknis dan pertimbangan ekonomi terkait keputusan impor tersebut kepada publik.

"Tanpa keterbukaan, keputusan tersebut patut dipertanyakan dan berpotensi mencederai semangat nasionalisme industri," kata dia.

Gamma pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN agar selaras dengan visi kemandirian industri dan arahan Presiden.

"Keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten," ucap Dadang.

DPR minta impor ditunda

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pun turut bersuara. Ia meminta pemerintah menunda rencana impor 105.000 unit mobil dari India untuk operasional Koperasi Merah Putih tersebut.

"Jadi rencana untuk impor 105 ribu mobil pick up dari India, saya sudah menyampaikan pesan kepada pemerintah untuk rencana tersebut ditunda dulu, mengingat presiden masih di luar negeri,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (23/2/2026).

Menurut Dasco, penundaan tersebut sebaiknya dilakukan sampai ada pembahasan lebih detail soal rencana tersebut bersama Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Harian Partai Gerindra itu pun meyakini bahwa Prabowo nantinya juga akan meminta berbagai masukan dari pelaku usaha dalam negeri, sekaligus memperhitungkan kesiapan industri tanah air.

"Tentunya presiden pada saat pulang akan membahas detail-detail mengenai impor tersebut. Dan tentunya juga presiden akan meminta pendapat dan mengkalkulasi kesiapan dari perusahaan dalam negeri. Nah sehingga kami sudah menyampaikan pesan untuk ditunda dulu," jelas dia.

Adapun merespons pernyataan Dasco tersebit, Dirut Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota menyatakan siap menunda impor 105.000 mobil dari India jika memang diperlukan.

Joao mengatakan, pihaknya hanya bekerja untuk masyarakat.

"Kami ikuti, manut saja. Apa pun keputusannya," kata Joao saat dihubungi, Senin (23/2/2026).

Tag:  #agrinas #pilih #impor #105000 #mobil #dari #india #pengusaha #kritik #minta #tunda

KOMENTAR