Belajar dari Film Materialists, Menilai Kematangan Finansial Pasangan Tak Berarti Matre
Poster film Materialists yang diperankan Dakota Johnson, Chris Evans, dan Pedro Pascal.(Instagram.com/materialists)
21:35
7 Januari 2026

Belajar dari Film Materialists, Menilai Kematangan Finansial Pasangan Tak Berarti Matre

– Film Materialists kembali mengangkat perdebatan lama soal cinta dan uang. Lewat tokoh Lucy, penonton diajak melihat sosok perempuan modern yang secara terbuka mencari pasangan kaya. 

Lucy menjadikan kondisi finansial sebagai tolok ukur utama dalam memilih pasangan, sehingga kerap dicap materialistis.

Namun, benarkah mempertimbangkan kondisi finansial pasangan selalu bermakna negatif? 

Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog menilai, cara pandang tersebut perlu dilihat lebih dalam dan tidak bisa disederhanakan hanya sebagai sikap mengejar materi.

Menurut Ayu, banyak perempuan yang menaggap finansial bukan sekadar soal angka, melainkan cerminan dari kesiapan menjalani hubungan jangka panjang.

Menilai Kematangan Finansial Pasangan Tak Selalu Berarti Matre

Finansial sebagai indikator tanggung jawab

Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., PsikologDok. Pribadi Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog

Ayu menjelaskan, pertimbangan finansial sering kali berkaitan dengan aspek psikologis yang lebih luas, terutama soal tanggung jawab dan komitmen.

“Banyak perempuan yang mempertimbangkan finansial, bukan semata hanya terkait dengan nominalnya, tetapi itu juga sebagai indikator tanggung jawab, kesiapan komitmen,” ungkap dia saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Dalam konteks ini, finansial dipandang sebagai gambaran bagaimana seseorang mengelola hidupnya. 

Cara mengatur keuangan, membuat perencanaan, dan memenuhi kebutuhan dasar dinilai mencerminkan kesiapan seseorang untuk membangun relasi yang stabil.

Cara menghadapi realita kehidupan

Lebih lanjut, psikolog klinis yang berpraktik di Bali ini menambahkan, finansial juga berkaitan erat dengan kemampuan individu menghadapi realitas hidup sehari-hari.

“Selain itu, finansial juga bagaimana cara seseorang menghadapi realita kehidupan,” terang dia.

Kemampuan menghadapi tekanan ekonomi, mengambil keputusan realistis, serta bertanggung jawab terhadap konsekuensi pilihan hidup menjadi aspek penting dalam hubungan. 

Dari sudut pandang ini, finansial tidak lagi berdiri sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai bagian dari daya tahan psikologis seseorang.

Perempuan memperhatikan faktor lain di luar finansial

Meski demikian, Ayu menegaskan, perempuan tidak hanya terpaku pada aspek finansial saat memilih pasangan. Ada berbagai faktor lain yang turut dipertimbangkan secara bersamaan.

“Biasanya perempuan juga mempertimbangkan kematangan emosi, nilai dan visi-misi hidup, kualitas komunikasi, kemampuan problem solvingnya, serta rasa dihargai dan diperlakukan setara dalam hubungan,” jelasnya.

Kematangan emosi dan kemampuan berkomunikasi dinilai penting untuk menjaga kualitas hubungan dalam jangka panjang. 

Tanpa aspek tersebut, kondisi finansial yang baik pun tidak menjamin hubungan berjalan sehat.

Materialistis tak selalu bermakna negatif

Ayu mengungkap, label materialistis kerap digunakan secara terburu-buru tanpa memahami konteks di balik pilihan seseorang.

“Istilah materialistis itu seringkali digunakan tanpa melihat konteks dibaliknya. Mempertimbangkan aspek seperti materi atau finansial, itu tidak dapat langsung dianggap sebagai sesuatu yang salah,” ujarnya.

Ia menilai bahwa penilaian tersebut perlu dilihat dari tujuan dan kebutuhan yang melatarbelakanginya, bukan sekadar dari permukaannya saja.

Pertimbangan finansial sering kali berkaitan dengan kebutuhan dasar dan rasa aman dalam hidup.

“Terlebih, jika itu berkaitan dengan kebutuhan dasar, keamanan hidup, dan juga rencana-rencana yang ingin diwujudkan di masa depan,” katanya.

Dalam hal ini, melihat kematangan finansial pasangan justru dapat menjadi bentuk kehati-hatian dan kesadaran akan realitas kehidupan bersama.

Belajar dari film Materialists

Melalui film Materialists, publik diajak untuk merefleksikan ulang indikator penting di balik pemilihan pasangan. 

Sosok Lucy mungkin tampak ekstrem, tetapi di balik itu terdapat kebutuhan akan stabilitas, keamanan, rasa dihargai oleh pasangan, dan kepastian masa depan.

Menurut Ayu, memahami konteks psikologis ini penting agar perempuan tidak serta-merta distigma ketika mempertimbangkan aspek finansial. 

Memilih pasangan bukan hanya soal cinta atau uang, melainkan tentang kesiapan dua individu untuk tumbuh dan bertanggung jawab bersama.

 

Tag:  #belajar #dari #film #materialists #menilai #kematangan #finansial #pasangan #berarti #matre

KOMENTAR