7 Cara Menumbuhkan Empati pada Anak, Bisa Dimulai Sejak Bayi
- Membesarkan anak tidak hanya soal kecerdasan akademik. Empati, kepedulian, dan kemampuan memahami orang lain juga menjadi bekal penting bagi anak dalam kehidupan sosialnya.
Psikolog Joseph Laino menegaskan, kemampuan tersebut tidak kalah penting dibanding prestasi akademik.
“Keterampilan sosial seperti empati, welas asih, dan kepedulian tidak bertentangan dengan kemampuan akademik. Justru, keduanya saling menguatkan,” ujar Laino, seperti mengutip dari Parents, Sabtu (3/1/2026).
Berikut tujuh kebiasaan sederhana yang dapat membantu orangtua menumbuhkan empati dan kepedulian pada anak.
7 Kebiasaan Sederhana untuk Menumbuhkan Empati Anak
1. Menjadi teladan sejak anak masih bayi
Empati mulai terbentuk jauh sebelum anak bisa berbicara atau sejak bayi. Laino menegaskan bahwa pembelajaran ini bisa dimulai sejak dini, selama disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
“Tidak pernah terlalu dini untuk mulai membantu anak mengembangkan keterampilan empati, selama disesuaikan dengan usia perkembangannya,” ujar Laino.
Nada suara, ekspresi wajah, dan cara orangtua merespons orang lain menjadi contoh nyata yang diamati anak setiap hari.
2. Menjelaskan tindakan baik saat melakukannya
Selain memberi contoh, orangtua juga disarankan menjelaskan alasan di balik tindakan peduli yang dilakukan.
Ucapan sederhana seperti membantu anggota keluarga atau menenangkan teman membantu anak memahami hubungan antara tindakan baik dan perasaan orang lain.
Menurut Laino, penjelasan kecil semacam ini membentuk cara anak memahami relasi sosial sejak dini.
3. Menggunakan cerita untuk melatih empati
Cerita menjadi alat kuat untuk membantu anak melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Andrea Mucino-Sanchez dari UNHCR mengatakan bahwa cerita memungkinkan anak membangun empati tanpa merasa kewalahan.
“Cerita adalah cara yang bijak untuk belajar memahami kondisi orang lain tanpa membuat anak merasa terbebani,” ujarnya.
Buku, film, atau video pendek bisa menjadi bahan diskusi ringan tentang perasaan dan pengalaman orang lain.
4. Membicarakan peristiwa dunia secara terbuka dan sesuai usia
Anak sering menyerap informasi tentang peristiwa dunia, bahkan tanpa disadari orangtua. Maka dari itu, peran orangtua penting untuk membantu menjelaskan konteksnya.
“Anak sering memahami lebih banyak dari yang kita kira,” kata Mucino-Sanchez.
Penjelasan yang jujur dan sederhana membantu anak merasa aman sekaligus terhubung dengan pengalaman orang lain.
5. Mengajarkan kesadaran akan privilege tanpa rasa bersalah
Mengenalkan perbedaan kondisi hidup tidak bertujuan membuat anak merasa bersalah, melainkan menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian.
“Dorong anak untuk merasa bersyukur, bukan merasa bersalah,” ujar Mucino-Sanchez.
Cara pandang ini membantu anak memahami bahwa kepedulian lahir dari empati, bukan dari rasa malu.
6. Membiasakan percakapan rutin tentang empati
Empati tumbuh lewat percakapan sehari-hari, bukan dari satu momen besar. Waktu makan bersama atau rutinitas keluarga bisa menjadi ruang aman untuk berdiskusi.
“Prioritaskan waktu bersama, seperti makan malam keluarga, untuk membicarakan apa yang terjadi di dunia,” kata Mucino-Sanchez.
Konsistensi percakapan membuat anak merasa didengar dan lebih berani mengungkapkan pikirannya.
7. Mendorong anak melakukan aksi nyata
Tindakan sederhana seperti berbagi, membantu, atau ikut kegiatan sosial membantu anak memahami dampak empati secara langsung.
“Memberi, membantu, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan tujuan hidup anak,” ujar Laino.
Ketika anak dilibatkan memilih cara membantu, rasa tanggung jawab dan kepeduliannya akan tumbuh lebih kuat.
Tag: #cara #menumbuhkan #empati #pada #anak #bisa #dimulai #sejak #bayi