Jangan Terburu-buru, Lakukan Ini Sebelum Anak Memiliki Ponsel dan Media Sosial
- Memberi anak smartphone (ponsel) atau akses media sosial bukan sekadar soal usia, tetapi juga kesiapan mental dan pendampingan orangtua.
Keputusan yang terlalu cepat justru dapat berdampak pada kesehatan mental anak di kemudian hari.
Psikolog Jean Twenge mengatakan, makin lama orangtua menunda pemberian ponsel dan media sosial, maka makin besar peluang anak tumbuh lebih bahagia dan stabil secara emosional saat dewasa.
“Idealnya, orangtua sudah memiliki aturan dan pemahaman ini sejak anak duduk di akhir sekolah dasar, karena usia anak yang terpapar gawai kini semakin muda,” ujar Twenge dikutip dari CNBC, Jumat (2/1/2025).
Yang Harus Dilakukan Sebelum Anak Punya Ponsel
Berkaitan dengan kondisi mental, Twenge menyarankan agar anak-anak tidak menggunakan media sosial sebelum menginjak usia 16 tahun.
Berdasarkan pengalamannya, Twenge menekankan dua hal utama yang sebaiknya dilakukan orangtua sebelum anak memegang smartphone atau aktif di media sosial.
Twenge menyarankan orangtua mulai membicarakan penggunaan internet dan gawai secara sehat jauh sebelum anak memilikinya, bahkan sejak usia di bawah 10 tahun jika anak sudah terbiasa menggunakan perangkat digital.
Percakapan ini mencakup batasan informasi pribadi yang tidak boleh dibagikan, pentingnya menjaga privasi, serta kesadaran bahwa apa pun yang dikirim atau diunggah secara online tidak pernah benar-benar bersifat privat.
Orangtua juga dianjurkan menanamkan pemahaman bahwa waktu adalah sumber daya berharga.
Anak perlu diajak berpikir bahwa terlalu banyak waktu di depan layar bisa membuat mereka kehilangan kesempatan membangun relasi nyata dengan keluarga dan teman.
Tujuannya adalah membangun hubungan antara anak dan teknologi secara lebih sehat, bukan sekadar melarang.
Tetapkan aturan tegas dan kontrol orangtua
Selain membangun dialog, Twenge menegaskan pentingnya aturan yang jelas dan konsisten. Menurutnya, diskusi tanpa batasan nyata sering kali tidak cukup.
Beberapa aturan yang ia rekomendasikan antara lain larangan membawa smartphone ke kamar tidur pada malam hari, tidak menggunakan ponsel selama jam sekolah, serta memberikan ponsel noninternet sebagai perangkat pertama.
Penggunaan parental control juga dinilai penting, seperti membatasi waktu layar harian, memblokir konten dewasa, dan mengatur izin unduhan aplikasi.
“Ajarkan anak tentang moderasi, lalu pasang parental control, agar aturan benar-benar berjalan,” kata Twenge.
“Jika dia (anak) ingin memasang aplikasi tambahan, itu akan didiskusikan. Daripada dia melakukannya secara sepihak, di mana kita bahkan tidak tahu apa yang ada di dalamnya,” tambah Twenge.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi. Anak perlu tahu aturan apa saja yang berlaku dan mengapa batasan tersebut dibuat, agar mereka tidak merasa diawasi secara diam-diam.
Bagaimana jika sudah terlanjur?
Bagi orangtua yang sudah terlanjur memberi anak smartphone atau akses media sosial lebih awal, Twenge menegaskan bahwa perubahan tetap bisa dilakukan.
Menurutnya, orangtua perlu bersikap jujur dan terbuka kepada anak mengenai alasan di balik perubahan aturan tersebut.
“Orangtua bisa mengatakan bahwa mereka telah membuat kesalahan dan belajar dari pengalaman, serta ingin mengambil langkah yang berbeda ke depan,” ujar Twenge.
Ia mengakui bahwa respons anak, terutama praremaja, bisa cukup emosional, mulai dari penolakan hingga kemarahan.
Meskipun demikian, orangtua disarankan tetap konsisten dan membantu anak memahami konteksnya.
Twenge menyarankan orangtua untuk menegaskan bahwa anak tetap dapat berkomunikasi dengan teman dan keluarga, sehingga perubahan aturan bukan berarti menghilangkan seluruh kesenangan, melainkan menata ulang penggunaan teknologi agar lebih sehat.
Tag: #jangan #terburu #buru #lakukan #sebelum #anak #memiliki #ponsel #media #sosial