Cara Merespons Anak yang Sedang Marah Tanpa Membentak, Ini Kata Psikolog
Ilustrasi(Shutterstock)
17:35
2 Januari 2026

Cara Merespons Anak yang Sedang Marah Tanpa Membentak, Ini Kata Psikolog

Ledakan amarah pada anak sering kali membuat orangtua ikut terpancing emosi.

Bentakan, ancaman, atau kata-kata yang merendahkan kerap keluar secara spontan, dengan harapan anak segera berhenti.

Padahal, menurut psikolog, respons semacam ini justru berisiko memperburuk kondisi emosional anak.

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi menjelaskan, perilaku marah berlebihan pada anak bukan muncul tiba-tiba.

Dalam banyak kasus, hal itu merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan dan penanganan sejak dini.

“Anak belum memiliki kemampuan kontrol impuls dan fungsi eksekutif yang matang. Artinya, kemampuan untuk mengerem emosi dan mempertimbangkan konsekuensi masih berkembang,” jelas Vera, saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.

Mengapa membentak justru memperburuk situasi?

Saat anak berada di puncak emosi, otaknya berada dalam mode bertahan (survival mode).

Pada kondisi ini, anak tidak siap menerima nasihat, logika, atau teguran keras. Membentak atau mempermalukan hanya akan menambah rasa terancam dan tidak aman.

Vera menyebut, anak juga belajar dari apa yang ia lihat. Jika di rumah konflik diselesaikan dengan teriakan atau kekerasan verbal, anak akan meniru cara tersebut sebagai solusi.

Akumulasi stres, trauma, dan rasa tidak berdaya yang terus dipendam dapat memicu ledakan agresi yang lebih berbahaya.

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Cara merespons anak yang sedang marah

  • Langkah pertama: amankan situasi

Saat anak meledak marah, prioritas utama adalah mengamankan situasi. Orangtua disarankan memisahkan anak dari target kemarahan dan menyingkirkan benda-benda berbahaya di sekitarnya.

“Turunkan stimulus, bawa anak ke tempat yang lebih tenang. Tujuannya bukan memenangkan adu kuasa, tapi meredakan emosi,” kata Vera.

Menghadapi anak dengan suara tinggi atau emosi yang sama kuatnya hanya akan memperpanjang konflik.

  • Tunggu hingga emosi reda, baru ajak bicara

Setelah anak mulai tenang, barulah orangtua bisa membuka ruang komunikasi. Pada tahap ini, mendengarkan jauh lebih penting daripada menghakimi.

Ajak anak mengekspresikan apa yang ia rasakan dan apa yang memicu kemarahannya. Diskusikan solusi secara bersama, bukan sepihak. Pendekatan ini membantu anak merasa didengar dan dihargai.

  • Latih anak mengenali emosinya

Salah satu langkah pencegahan penting adalah membantu anak mengenali dan memberi nama pada emosinya.

Orangtua bisa membantu dengan memverbalkan perasaan anak, misalnya, “Kamu marah karena merasa tidak didengarkan,” atau “Kamu kecewa karena harapanmu tidak terpenuhi.”

Selain itu, ajarkan alternatif respons yang lebih sehat, seperti menarik napas dalam, mengambil waktu jeda (time-out sehat), menulis jurnal, atau menyalurkan emosi lewat aktivitas fisik.

  • Terapkan batasan yang konsisten

Vera menekankan pentingnya batasan yang jelas dan konsisten. Konsekuensi sebaiknya bersifat logis, bukan hukuman yang mempermalukan atau merendahkan harga diri anak.

Disiplin yang keras, inkonsisten, serta pengawasan yang lemah justru dapat memperbesar risiko anak mengekspresikan kemarahan dengan cara ekstrem.

  • Perkuat rasa aman emosional anak

Anak yang merasa aman secara emosional, diterima, dan memiliki tempat untuk bercerita cenderung lebih mampu mengelola emosinya.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam konflik keluarga kronis, komunikasi kasar, atau tekanan psikologis berkepanjangan lebih rentan melampiaskan emosi lewat kekerasan.

“Waktu satu lawan satu yang singkat tapi rutin bisa menjadi faktor pelindung yang kuat,” ujar Vera.

  • Peran media dan lingkungan

Paparan konten kekerasan atau media sosial bukan satu-satunya penyebab perilaku agresif. Namun, konten tersebut dapat menjadi penguat bila anak sudah memiliki faktor risiko lain, seperti impulsivitas, trauma, konflik rumah, dan kurangnya supervisi.

Karena itu, orangtua perlu mendampingi anak dalam penggunaan media, membatasi durasi, mengkurasi konten, dan menetapkan aturan yang jelas.

Merespons anak yang sedang marah memang tidak mudah.

Namun, dengan pendekatan yang tenang, empatik, dan konsisten, orangtua dapat membantu anak belajar mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat, tanpa harus membentak atau mempermalukan.

Tag:  #cara #merespons #anak #yang #sedang #marah #tanpa #membentak #kata #psikolog

KOMENTAR