Intip Gaya Rama Duwaji, Istri Zohran Mamdani di Pelantikan Walikota New York 
Rama Duwaji memakai coat cokelat di pelantikan Zohran Mamdani sebagai walikota New York.(DAVID DEE DELGADO)
10:10
2 Januari 2026

Intip Gaya Rama Duwaji, Istri Zohran Mamdani di Pelantikan Walikota New York 

- Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York pada 1 Januari 2026 tak hanya menandai sejarah politik sebagai wali kota Muslim dan Asia Selatan pertama di kota tersebut. 

Di tengah sorotan publik, perhatian juga tertuju pada sosok sang istri, Rama Duwaji, yang tampil dengan gaya busana berbeda dari pakem first lady sebelumnya.

Duwaji, seorang seniman dan ilustrator berusia 28 tahun, hadir mendampingi Mamdani sejak prosesi pelantikan privat hingga seremoni publik. 

Pilihan busananya dinilai mencerminkan perubahan generasi, sikap politik, sekaligus identitas personal yang kuat, sesuatu yang jarang terlihat dalam panggung politik formal Amerika Serikat.

Gaya Rama Duwaji di momen Pelantikan Zohran Mamdani

Busana hitam di malam pelantikan sang suami

Dikutip dari Harper’s Bazaar, Jumat (2/1/2026), dalam upacara pengambilan sumpah privat yang digelar tepat setelah tengah malam di stasiun subway City Hall, Duwaji tampil dengan mantel hitam vintage Balenciaga.

Busana tersebut dipadukan dengan celana kulot dari The Frankie Shop dan sepatu bot dari merek Miista. Penampilannya dilengkapi anting chandelier emas dari New York Vintage.

Busana tersebut ditata oleh Gabriella Karefa-Johnson, editor fashion dan stylist ternama yang dikenal dengan pendekatan progresif terhadap busana politik. 

Dalam unggahannya, Karefa-Johnson menegaskan, pilihan Duwaji adalah bentuk kesadaran akan simbolisme mode, tanpa harus mengorbankan keaslian diri.

Penampilan ini dinilai mencerminkan gaya art world chic, estetika yang lekat dengan kalangan kreatif urban New York, didominasi palet hitam, siluet tegas, dan sentuhan vintage.

Statement coat berwarna cokelat

Untuk menyapa publik dalam seremoni resmi pada siang hari, Duwaji berganti busana dengan mantel cokelat berbentuk A-line berleher funnel rancangan desainer Palestina-Lebanon Cynthia Merhej, pendiri label Renaissance Renaissance. 

Mantel tersebut dipadukan dengan sepatu bot senada serta anting perak berbentuk pahatan gading, menciptakan kesan klasik sekaligus eksentrik.

Kritikus mode The New York Times, Vanessa Friedman, menyebut penampilan Duwaji memberikan kesan vintage tapi ada sentuhan statement. 

“Sedikit funky, sedikit vintage, terasa seperti tokoh Tolstoy, namun sepenuhnya pantas dan berbeda dari siapa pun di panggung,” jelasnya, disadur dari The New York Times.

Busana tersebut dinilai sebagai contoh statement coat yang bukan hanya mencuri perhatian, tetapi juga membawa pesan tentang identitas, kebaruan, dan keberanian tampil berbeda dalam ruang politik yang kerap konservatif.

Mode sebagai bahasa politik

Menurut Friedman, Duwaji memahami betul bahwa setiap detail penampilannya akan dibaca sebagai pesan publik. 

“Ia mungkin baru dalam dunia politik, tetapi sebagai seniman, ia sangat paham simbolisme, detail, dan konsistensi dalam membentuk persepsi,” tambah dia.

Pilihan Duwaji untuk mengenakan karya desainer independen, termasuk dari Timur Tengah dan New York, juga dibaca sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas kreatif dan identitas global yang inklusif, selaras dengan visi politik Mamdani.

Representasi first lady dari kalangan Gen Z 

Rama Duwaji, Gen Z pertama yang jadi istri wali kota New York, menarik perhatian dengan prestasi seni dan gaya fashion kreatifnya.Instagram @ramaduwaji Rama Duwaji, Gen Z pertama yang jadi istri wali kota New York, menarik perhatian dengan prestasi seni dan gaya fashion kreatifnya.

Rama Duwaji tercatat sebagai first lady termuda, first lady Gen Z, dan first lady Muslim pertama dalam sejarah New York City. 

Dalam wawancara sebelumnya, ia menyebut bahwa ada banyak cara untuk menjadi first lady, terutama di New York. Pernyataan tersebut tercermin dalam caranya berpakaian. 

Alih-alih memilih gaun formal atau setelan klasik seperti pendahulunya, Duwaji tampil dengan busana yang terasa personal dan tidak meninggalkan keunikannya.

Pengamat mode menilai pendekatan ini menandai pergeseran besar dalam peran first lady, dari figur simbolik yang formal menjadi representasi generasi muda yang otentik dan sadar identitas.

Konsisten sejak masa kampanye

Calon wali kota New York City dari Partai Demokrat, Zohran Mamdani, melambaikan tangan bersama istrinya, Rama Duwaji (kiri), setelah menyampaikan pidato di pesta malam pemilihannya di Brooklyn Paramount pada 4 November 2025 di Brooklyn, New York City.GETTY IMAGES NORTH AMERICA/MICHAEL M SANTIAGO via AFP Calon wali kota New York City dari Partai Demokrat, Zohran Mamdani, melambaikan tangan bersama istrinya, Rama Duwaji (kiri), setelah menyampaikan pidato di pesta malam pemilihannya di Brooklyn Paramount pada 4 November 2025 di Brooklyn, New York City.

Gaya Duwaji bukan hal baru sejak kemenangan Mamdani. Saat malam kemenangan pemilu, ia mengenakan atasan denim laser-cut karya desainer Palestina Zeid Hijazi dan rok beludru dari desainer independen New York, Ulla Johnson. 

Ia juga kerap mengenakan busana serba hitam, siluet sederhana, dan sepatu bot runcing, ciri khas estetika dunia seni kontemporer.

“Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Itulah yang membuat gayanya terasa kuat dan relevan,” ujar Friedman.

Gaya Rama Duwaji di pelantikan Zohran Mamdani akhirnya bukan sekadar soal busana. 

Ia menjadi simbol perubahan, keberanian menantang norma, dan pernyataan bahwa politik modern juga memberi ruang bagi ekspresi diri. 

Sebuah awal baru, tak hanya bagi kepemimpinan New York, tetapi juga bagi cara publik memaknai peran first lady di masa kini.

Tag:  #intip #gaya #rama #duwaji #istri #zohran #mamdani #pelantikan #walikota #york

KOMENTAR