Tak Sekadar Janji Awal Tahun, Ini 7 Tips Membuat Resolusi 2026
- Setiap pergantian tahun, resolusi kerap menjadi ritual yang nyaris tak terpisahkan. Media sosial dipenuhi janji hidup sehat, produktif, hingga keinginan “menjadi versi terbaik diri sendiri”.
Namun, kenyataannya tak sedikit resolusi yang gugur bahkan sebelum Januari berakhir. Para ahli menilai, kegagalan resolusi bukan semata karena kurangnya niat, melainkan karena cara menetapkan tujuan yang keliru sejak awal.
Berangkat dari pandangan para psikolog dan pelatih profesional, berikut tips membuat resolusi Tahun 2026 agar lebih realistis, relevan, dan berpeluang besar untuk bertahan.
7 Tips dalam membuat resolusi tahun 2026
1. Mulai dengan tujuan yang realistis
Resolusi seperti “menurunkan berat badan”, “mengubah karier”, atau “hidup lebih bahagia” terdengar ambisius, tetapi terlalu luas untuk dijalankan sehari-hari.
Mantan dokter umum sekaligus pelatih kepercayaan diri, Dr. Claire Kaye menilai resolusi sering gagal karena tidak jelas dan terlalu menekan diri sendiri.
Menurut Kaye, langkah awal yang penting adalah memahami apa yang sebenarnya diinginkan, bukan sekadar apa yang ingin dihindari.
Ia menyarankan agar seseorang menuliskan hal-hal yang berjalan baik dalam hidup, apa yang terasa menguras energi, serta bagian hidup yang dijalani secara otomatis tanpa kesadaran penuh.
“Ketika kamu memahami apa yang lebih diinginkan, bukan hanya apa yang ingin kamu hindari, perubahan akan menjadi jauh lebih berkelanjutan,” ujar Kaye, dilansir dari BBC, Rabu (31/12/2025).
Alih-alih fokus pada titik akhir, ia menganjurkan resolusi ditulis dengan menekankan arah dan pengalaman yang ingin dirasakan.
Tren kerja remote yang terus berkembang! berikut beberapa tips mencari kerja remote di era digital
2. Hindari kata “Selalu” dan “Tidak Pernah”
Pilihan kata ternyata berpengaruh besar pada keberhasilan resolusi. Psikolog Kimberley Wilson mengingatkan agar menghindari bahasa yang terlalu kaku seperti “selalu” atau “tidak pernah”.
Wilson menilai, bahasa semacam itu menciptakan pola pikir serba atau tidak sama sekali. Ketika satu hari saja melenceng dari rencana, seseorang cenderung merasa gagal total dan berhenti sama sekali.
“Orang sering menilai satu pilihan secara terpisah, padahal yang dibutuhkan adalah perspektif lebih luas yang melihat satu momen dalam konteks banyak momen lainnya,” jelas Wilson.
Sebagai gantinya, Kaye menyarankan penggunaan frasa yang lebih fleksibel seperti “saya ingin bereksperimen dengan” atau “saya sedang mempelajari apa yang cocok untuk saya”.
3. Terima rintangan sebagai bagian dari proses
Banyak resolusi runtuh bukan karena tujuan terlalu sulit, melainkan karena seseorang tidak siap menghadapi hari-hari buruk.
Wilson menyebut, banyak orang membuat rencana untuk versi terbaik dari diri mereka sendiri, tanpa mempertimbangkan kondisi lelah, stres, atau kurang tidur.
Menurutnya, gagal konsisten bukan tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari perubahan perilaku. Ketekunan jauh lebih penting dibandingkan kesempurnaan.
Kaye menegaskan, tujuan utama resolusi bukan menjadi sempurna, melainkan mencegah satu kesalahan kecil berubah menjadi pengabaian total terhadap rencana.
Ia menyarankan untuk merespons kegagalan dengan rasa ingin tahu, bukan kritik terhadap diri sendiri.
4. Susun resolusi dengan teknik habit stacking
Agar resolusi lebih mudah dijalankan, pelatih karier Emma Jefferys merekomendasikan teknik habit stacking atau penumpukan kebiasaan. Caranya, perilaku baru dikaitkan dengan rutinitas yang sudah ada.
“Setelah menyikat gigi, saya melakukan sepuluh push-up. Setelah menidurkan anak, saya melakukan peregangan,” kata Jefferys.
Dengan cara ini, resolusi tidak terasa sebagai beban tambahan, melainkan menjadi bagian alami dari aktivitas harian.
Ia juga menekankan pentingnya menata lingkungan agar mendukung tujuan, misalnya meletakkan buku di atas bantal jika ingin membaca sebelum tidur.
5. Lepaskan tekanan sosial dan fokus pada nilai pribadi
Psikolog klinis dan terapis perilaku kognitif, Jennifer Caspari mengingatkan agar seseorang berhenti menghukum diri dengan kata seharusnya. Banyak resolusi lahir bukan dari kebutuhan pribadi, melainkan dari tekanan sosial.
Menurut Caspari, tidak semua orang harus memiliki nilai yang sama, termasuk soal kebugaran atau produktivitas.
“Yang terpenting adalah mengidentifikasi nilai yang benar-benar bermakna secara personal, seperti rasa ingin tahu, kemandirian, atau ketenangan,” jelasnya dikutip dari The Guardian.
Jika suatu nilai terasa belum terpenuhi, barulah rencana perubahan disusun dalam langkah kecil dan spesifik, misalnya membaca satu buku per bulan atau mencoba kelas baru.
6. Mulai dari perubahan yang paling mudah
Psikolog klinis Molly Sherb menyarankan agar resolusi tidak langsung menargetkan perubahan besar sepanjang tahun. Ia menilai, tujuan jangka pendek yang selaras dengan kondisi saat ini justru lebih efektif.
“Kamu ingin memulai dari hal yang terasa paling mudah, karena rasa berhasil itu yang akan menjaga motivasi untuk menghadapi tantangan yang lebih besar,” ujar Sherb.
Ia menambahkan, resolusi seharusnya membantu seseorang terhubung dengan kebutuhan diri saat ini, bukan sekadar memenuhi ekspektasi awal tahun.
7. Jadikan resolusi sebagai pilihan, bukan kewajiban
Para ahli sepakat bahwa resolusi Tahun Baru seharusnya tidak menjadi tekanan tambahan.
Perubahan tidak harus menunggu Januari, dan tidak ada kewajiban untuk menetapkan resolusi jika memang belum siap.
“Resolusi sering kali menjadi tekanan buatan untuk berubah, padahal kapan pun adalah waktu yang baik untuk membuat perubahan,” kata Sherb.
Dengan pendekatan yang lebih lembut, personal, dan realistis, resolusi Tahun 2026 berpeluang menjadi proses yang benar-benar dijalani, bukan sekadar janji yang terlupakan di awal tahun.
Tag: #sekadar #janji #awal #tahun #tips #membuat #resolusi #2026