Dari Demam Labubu hingga Birkin Termahal, Ini Catatan Fashion di 2025
- Tahun 2025 menjadi titik balik bagi dunia mode global. Setelah beberapa tahun didominasi estetika quiet luxury yang minimalis dan nyaris tanpa ekspresi, industri fashion akhirnya kembali merayakan keberaniannya.
Tahun ini, industri fashion kembali menjadi medium ekspresi yang bebas, emosional, dan penuh kejutan.
Mulai dari gantungan tas Labubu, kebangkitan aksesori ekstrem, hingga dominasi algoritma kecerdasan buatan (AI), berikut perubahan fashion paling menonjol sepanjang 2025.
1. Demam Labubu dan kebangkitan gantungan tas
Boneka Labubu. Fenomena mainan Labubu di Afghanistan ini bukan hanya sekadar tren populer, tetapi juga mencerminkan perubahan ekonomi, budaya, dan pola konsumsi masyarakat Afghanistan.
Salah satu fenomena paling mencolok di tahun 2025 adalah naiknya popularitas Labubu, karakter peri nakal berbulu ciptaan seniman Hong Kong, Kasing Lung.
Awalnya sekadar koleksi mainan Pop Mart, Labubu bertransformasi menjadi simbol status di dunia mode setelah terlihat menghiasi tas selebritas global seperti Lisa BLACKPINK hingga Rihanna.
Dilansir Channel News Asia (CNA), Selasa (30/12/2025), kemunculan Labubu membuka gerbang tren bag charms secara masif.
Gantungan tas dari rumah mode ternama seperti Bottega Veneta, Burberry, hingga Loewe berlomba menghiasi tas tangan mewah.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dari kemewahan yang tenang menuju maksimalisme yang menyenangkan, di mana aksesori kecil justru menjadi pusat perhatian.
2. Aksesori makin besar dan berani
Disadur dari AOL, 2025 menjadi tahunnya aksesori tampil dominan. Kalung mutiara berukuran besar, perhiasan eksentrik, hingga aksesori personal seperti dompet yang dikenakan sebagai kalung menjadi pemandangan umum di runway Paris hingga Milan.
Desainer seperti Saint Laurent menghidupkan kembali semangat era 1980-an dengan aksesori chunky, sementara Vaquera menghadirkan mutiara berukuran ekstrem dengan sentuhan teatrikal.
Aksesori tak lagi sekadar pelengkap, melainkan pembuka percakapan dan penanda identitas personal pemakainya.
3. Tas birkin termahal
Tas Hermes Birkin yang dulu dimiliki oleh aktris dan penyanyi Inggris-Perancis, Jane Birkin. Tas ini dilelang oleh Sotheby's sebagai bagian dari penjualan lelang Fashion Icons. Birkin telah menjadi ikon desain modern yang sangat eksklusif sehingga Hermes hanya menawarkannya kepada klien-klien setianya, dengan harga mulai dari 10.000 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 162,1 juta).
Tahun 2025 juga mencatat sejarah ketika prototipe tas Birkin pertama milik Jane Birkin terjual seharga €8,58 juta di lelang Sotheby’s Paris, menjadikannya tas termahal yang pernah dilelang.
Namun, di balik sensasi tersebut, muncul ketegangan soal budaya resale dan eksklusivitas.
CEO Hermès, Axel Dumas secara terbuka mengkritik pembeli yang membeli Birkin hanya untuk dijual kembali.
Di saat yang sama, viralnya tas tiruan “Wirkin” dari Walmart turut menggerus aura ekslusif Birkin. Meski begitu, Birkin tetap bertahan sebagai simbol kemewahan, meski dengan beban makna yang lebih berat.
4. Topi ekstrem
WASHINGTON, DC - JANUARY 20: First lady Melania Trump looks on during an indoor inauguration parade at the Capital One Arena on January 20, 2025 in Washington, DC. Donald Trump takes office for his second term as the 47th president of the United States. Anna Moneymaker/Getty Images/AFP (Photo by Anna Moneymaker / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Dari topi biru lebar Melania Trump saat pelantikan presiden AS hingga topi dramatis Rihanna di Met Gala 2025, aksesori kepala kembali mencuri perhatian.
Topi tidak lagi sekadar pelindung kepala, melainkan pernyataan sikap. Topi Elphaba dalam film musikal Wicked bahkan digunakan sebagai simbol perlawanan visual.
Tahun 2025 menunjukkan bahwa fashion tak ragu menggunakan aksesori sebagai bahasa politik, personal, dan budaya.
5. Sepatu jadi pusat perhatian
Jika sebelumnya busana mendominasi, maka 2025 adalah tahunnya kaki berbicara. Tren sepatu nyentrik seperti sneakerina, sandal platform beludru, hingga sepatu dengan cincin jari kaki menjadi favorit.
Merek seperti Balenciaga, Dries Van Noten, hingga Celine memperkenalkan siluet sepatu yang unik dan eksperimental.
Sepatu tak lagi dipilih karena fungsinya semata, melainkan sebagai pernyataan gaya yang berani.
6. AI mulai membentuk arah fashion global
Kecerdasan buatan menjadi aktor baru yang signifikan di dunia mode. Dari prediksi tren hingga visual kampanye, AI digunakan oleh brand besar seperti Zara, H&M, dan Guess.
Desainer legendaris Norma Kamali bahkan melatih AI menggunakan arsip desainnya selama 57 tahun. Namun, Kamali mengingatkan bahwa teknologi tetap memiliki batas.
“AI tidak memiliki detak jantung. Ia tidak bisa menggantikan gairah manusia,” ujarnya, seperti dikutip CNA.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kreativitas manusia masih menjadi inti dunia mode.
7. Fashion kembali merayakan cerita dan emosi
Pengunduran diri Anna Wintour dari jabatan pemimpin redaksi American Vogue menambah tanda bahwa dunia mode tengah bergeser.
Otoritas lama masih ada, tetapi pengaruh budaya pop, media sosial, dan momen viral kini jauh lebih dominan.
Kembalinya film The Devil Wears Prada ke tahap produksi pun menjadi simbol bagaimana fiksi, realitas, dan mitologi fashion semakin saling bertaut.
Busana kembali menjadi medium bercerita, tentang cinta, kekuasaan, nostalgia, hingga absurditas.
Tag: #dari #demam #labubu #hingga #birkin #termahal #catatan #fashion #2025