Di Balik Cerita Jolakotturinn, Si Kucing Raksasa Pemangsa Anak Nakal Saat Natal
- Mendirikan pohon Natal dan bertukar kado merupakan tradisi perayaan Natal yang mungkin dilakukan oleh sebagian besar masyarakat dunia.
Namun, ada sebuah tradisi Natal di Eropa, lebih tepatnya di Islandia, yang cukup unik dengan latar belakang yang menyeramkan.
Tradisi tersebut adalah menaruh pakaian lama di luar rumah. Tradisi ini berkaitan dengan kisah seekor kucing bernama Jolakotturinn.
Sejarah Jolakotturinn si pemangsa anak nakal
Kucing raksasa dalam mitologi Islandia
Mengutip History Extra, Selasa (23/12/2025), Jolakotturinn adalah seekor kucing yang disebut dengan Kucing Natal (Yule Cat).
Dalam mitologi Islandia, kucing ini digambarkan sebagai hewan yang sangat besar, mengerikan, dan ganas. Hewan berkaki empat itu suka berkeliaran di pedesaan yang tertutup salju selama musim Natal untuk memangsa manusia.
Lanskap, iklim, dan pakaian hangat
Jolakotturinn pertama kali tercatat pada abad ke-19. Ia disebut sangat terkait dengan lanskap Islandia dan musim dinginnya yang brutal.
Dalam mencari mangsa, ia tidak memilih korban secara acak. Justru, ia menargetkan masyarakat Islandia yang belum menerima pakaian baru sebelum Natal tiba.
Cara Jolakotturinn mencari mangsa, dan eratnya kaitan sosok kucing ini dengan lanskap dan musim dingin Islandia, dapat ditelusuri kembali pada ketergantungan negara tersebut pada produksi wol.
Peternakan domba sangatlah penting bagi ekonomi Islandia. Untuk mempersiapkan wol untuk bulan-bulan musim dingin, kerja keras ekstra sangat dibutuhkan menjelang musim dingin.
Para pekerja yang dengan tekun berkontribusi pada tugasnya akan diberi hadiah berupa pakaian hangat yang terbuat dari wol yang baru dikumpulkan. Hadiah itu sangatlah penting, mengingat iklim Islandia yang keras.
Sementara itu, pekerja yang mengabaikan tugas atau dianggap malas, berisiko mendapatkan lebih dari sekadar dipandang buruk, tetapi juga tidak akan menerima pakaian baru.
Sudut pandang lain dari kisah Jolakotturinn
Menurut kisah Jolakotturinn, siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru pada malam sebelum Natal, mereka akan menjadi korban kucing raksasa yang nakal ini.
Siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru itu menyiratkan kurangnya ketekunan seseorang pada musim dingin.
Melalui sudut ini, mitos Jolakotturinn memiliki dua tujuan moral. Pertama adalah sebagai pengingat akan pentingnya menjalankan kewajiban.
Tujuan moral kedua, kisah kucing raksasa ini merupakan penguatan kebutuhan kolektif masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.
Jadi, bagi masyarakat Islandia, makhluk berbulu lebat dari cerita rakyat ini adalah motivator penting sekaligus pengingat tentang konsekuensi kemalasan.
Jolakotturinn adalah simbol tentang pentingnya ketekunan dalam lanskap negara yang begitu sulit untuk bertahan hidup. Sebelum musim dingin tiba, ada baiknya sudah mempersiapkan pakaian hangat.
Hewan peliharaan Gryla
Sudut pandang lainnya mengaitkan Jolakotturinn dengan Gryla, sosok ogre perempuan dari cerita rakyat Islandia.
Kisah tentang Gryla setidaknya berasal dari abad ke-13 melalui prosa Edda karya sejarawan dan penyair Snorri Sturluson. Ia disebut menculik dan memakan anak-anak nakal selama musim Natal.
Dalam beberapa interpretasi cerita, Jolakotturinn disebut sebagai hewan peliharaan setia Gryla. Ia juga memiliki selera yang sama dengan raksasa perempuan itu, yakni daging manusia.
Siapapun yang dianggap malas akan menjadi santapan yang menggiurkan bagi Gryla dan Jolakotturinn.
Jolakotturinn dan perayaan Natal
Disadur dari The Guardian, kucing ini sama seperti iblis yang berjalan di antara manusia dan mencari siapa yang dapat dimangsa.
Jolakotturinn yang bertubuh besar juga berlarian di kota dalam kegelapan untuk mengintip ke jendela kamar tidur anak-anak yang menyala.
Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri agar tidak dimakan oleh Jolakotturinn adalah dengan menunjukkan kepadanya bahwa kamu mendapatkan pakaian baru untuk Natal karena berperilaku baik tahun ini. Caranya dengan menaruh pakaian lama di luar rumah.
Pakaian baru dan kelangsungan hidup dalam kisah ini, mendorong keluarga untuk memastikan setiap orang memiliki pakaian hangat untuk musim dingin setelah bekerja keras.
Meskipun Jolakotturinn hanyalah cerita rakyat, tetapi sosoknya dipertahankan sebagai simbol budaya dan tradisi Islandia yang unik. Ia bisa ditemui dalam bentuk patung-patung yang hadir sepanjang perayaan Natal.
Tag: #balik #cerita #jolakotturinn #kucing #raksasa #pemangsa #anak #nakal #saat #natal