8 Tradisi Natal yang Menurut Anak Muda Hari Ini Sudah Ketinggalan Zaman, Apa Saja Ya?
Tradisi natal yang menurut anak muda hari ini sudah ketinggalan zaman. (foto : Freepik/ DC Studio)
12:14
24 Desember 2025

8 Tradisi Natal yang Menurut Anak Muda Hari Ini Sudah Ketinggalan Zaman, Apa Saja Ya?

 – Tradisi Natal sering dibicarakan anak muda sebagai kebiasaan yang dianggap ketinggalan zaman di tengah perubahan gaya hidup.

Bagi generasi muda, tradisi Natal dinilai tidak selalu relevan dengan cara merayakan Natal saat ini.

Pandangan anak muda terhadap tradisi Natal menunjukkan pergeseran makna dari simbol lama ke praktik yang lebih sederhana.

Label ketinggalan zaman kerap dilekatkan anak muda pada tradisi Natal yang dianggap tidak sesuai konteks sosial sekarang.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (24/12), bahwa ada delapan tradisi natal yang menurut anak muda hari ini sudah ketinggalan zaman.

  1. Mengirim kartu ucapan lewat pos

Di era digital saat ini, kebiasaan mengirim kartu ucapan tertulis tangan melalui jasa pos mengalami penurunan signifikan.

Generasi milenial dan Gen Z lebih memilih kartu digital yang praktis, cepat, dan ramah lingkungan dibanding surat fisik.

Meski begitu, banyak yang berpendapat bahwa kartu buatan tangan memiliki kehangatan dan sentuhan personal tak tertandingi.

Kartu fisik dianggap berbicara dalam bahasa perhatian yang lebih tulus kepada penerimanya.

Apresiasi terhadap segala hal berbau vintage yang kini meningkat bisa jadi membangkitkan kembali kebiasaan ini.

  1. Dekorasi lampu luar rumah yang berlebihan

Pemasangan lampu hias berlebihan di bagian luar rumah kini kehilangan daya tariknya bagi generasi yang lebih muda.

Di masa minimalis dan kesadaran lingkungan tinggi, pertunjukan cahaya mewah dipandang sebagai pemborosan energi yang mencolok.

Tampilan lampu yang terlalu ramai bahkan dianggap norak dan tidak sesuai dengan estetika kontemporer.

Meski demikian, pemandangan rumah atau lingkungan yang diterangi lampu tetap membangkitkan semangat perayaan akhir tahun.

Mungkin sudah waktunya memikirkan pendekatan yang lebih berkelanjutan untuk kebiasaan menghias dengan lampu ini.

  1. Bernyanyi keliling dari rumah ke rumah

Kegiatan bernyanyi keliling atau caroling dimulai pada abad pertengahan untuk menyebarkan keceriaan di kalangan komunitas.

Para penyanyi biasanya mendapat imbalan berupa minuman hangat atau camilan dari pemilik rumah yang dikunjungi.

Namun kebiasaan berkeliling dari pintu ke pintu sambil menyanyikan lagu-lagu klasik kini tidak lagi umum dilakukan.

Generasi yang lebih sadar akan batasan pribadi menganggap praktik ini sedikit mengganggu privasi orang lain.

Ketersediaan musik liburan yang mudah diakses secara online membuat praktik kuno ini terasa tidak diperlukan lagi.

  1. Membuat puding khas perayaan secara tradisional

Proses pembuatan puding perayaan secara tradisional dianggap terlalu memakan waktu oleh banyak orang masa kini.

Di zaman memasak serba praktis dan kepuasan instan, menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari terasa sia-sia.

Dengan banyaknya pilihan makanan penutup yang menggoda tersedia sekarang, resep nenek tidak lagi menjadi bintang utama.

Puding beralkohol yang padat dengan isian buah-buahan tidak sepopuler dulu di meja perjamuan perayaan.

Namun bagi penggemar kuliner perayaan yang setia, puding kukus yang kaya rasa tetap punya pesona khusus.

  1. Merangkai popcorn dan cranberry menjadi hiasan

Dulu ada kebersamaan yang menenangkan saat berkumpul di meja dengan jarum dan benang untuk merangkai hiasan.

Popcorn dan cranberry dirangkai menjadi karangan bunga yang sederhana namun indah dan penuh sentuhan personal.

Dekorasi buatan tangan ini membangkitkan rasa kesatuan dan kehangatan yang tidak bisa digantikan hal lain.

Namun dengan kesibukan hidup modern, generasi yang lebih muda memilih ornamen siap pakai demi kemudahan.

Pesona dekorasi buatan sendiri tampak memudar meski bisa dihidupkan kembali untuk menciptakan koneksi dan nostalgia.

  1. Menggantung tanaman mistletoe

Kebiasaan menunggu di bawah ranting berdaun untuk mendapat ciuman magis terasa kurang relevan di masa sekarang.

Generasi yang lebih muda menganggapnya canggung dan kuno dengan pengabaian terhadap ruang pribadi seseorang.

Praktik menggantung mistletoe di setiap pintu seperti yang terlihat di film klasik tidak lagi banyak dilakukan.

Meski begitu, tanaman mistletoe yang polos dan tidak berdosa tetap membawa percikan romansa perayaan di udara.

Simbol cinta, cerita rakyat, dan kebiasaan yang menghangatkan hati ini masih punya nilai sentimental tersendiri.

  1. Upacara membakar kayu Yule Log

Upacara kuno membakar batang kayu Yule untuk melambangkan menyalakan kembali matahari saat titik balik musim dingin.

Kebiasaan simbolis ini terasa kurang relevan karena tempat tinggal perkotaan sering tidak memiliki perapian.

Perhatian terhadap dampak lingkungan juga membuat ritual ini dipandang kurang penting oleh generasi sekarang.

Namun ada pesona mistis tertentu dalam menyalakan api seperti yang dilakukan leluhur kita dahulu.

Ritual ini melambangkan cahaya dan kehangatan di tengah musim dingin yang bisa kita hargai lebih banyak.

  1. Figgy pudding dan bernyanyi untuk mendapat camilan

Lagu "We Wish You a Merry Christmas" dengan baitnya "Oh, bring us some figgy pudding" melukiskan gambar jelas.

Para penyanyi tidak akan pergi sampai mereka mendapatkan camilan perayaan sebagai imbalan atas nyanyian mereka.

Figgy pudding sendiri adalah camilan padat seperti kue yang penuh dengan buah ara dan kacang-kacangan.

Makanan ini jarang terlihat atau dicicipi dalam perayaan kontemporer saat ini di berbagai tempat.

Kebiasaan bernyanyi untuk mendapat camilan juga terasa aneh dan terlalu menuntut bagi orang zaman sekarang.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #tradisi #natal #yang #menurut #anak #muda #hari #sudah #ketinggalan #zaman #saja

KOMENTAR