Sustainable Fashion Bukan Cuma soal Bahan Organik, Ada Berbagai Tantangan di Baliknya
Ilustrasi sustainable fashion(Unsplash)
20:25
29 November 2025

Sustainable Fashion Bukan Cuma soal Bahan Organik, Ada Berbagai Tantangan di Baliknya

- Tak hanya soal bahan ramah lingkungan, sustainable fashion juga menyimpan berbagai tantangan di balik proses panjangnya, mulai dari produksi hingga pengelolaan limbah.

Bagi sebagian orang, fashion berkelanjutan masih identik dengan penggunaan bahan organik atau ramah lingkungan. Padahal, dalam praktiknya, konsep sustainable fashion jauh lebih luas dan kompleks dari itu.

Menurut fashion desainer Defria Kirana, sustainable merupakan sebuah lingkaran panjang yang melibatkan banyak aspek, mulai dari manusia yang terlibat di dalamnya, cara produksi, desain pakaian, kemasan, hingga pengolahan limbah fesyen.

“Jangan berpikir bahwa kalau sustainable itu hanya tentang bahannya digunakan, organic fabric,” jelas Defria saat ditemui setelah acara Revlon Euphoria di Margo City Mall, Depok, Selasa (25/11/2025).

“Karena untuk sampai organic fabric saja itu belum sustainable. Itu hanya bagian kecil dari sustainable. Sustainable itu sebuah lingkaran,” sambungnya.

Pernyataan ini sekaligus membuka cara pandang tentang label “organic” atau “eco friendly” yang sering dijadikan tolok ukur utama. Namun sebenarnya, sustainability (keberlanjutan) tidak berhenti di situ.

Tak hanya tentang bahan, tapi juga manusia di baliknya

Bagi Defria, konsep sustainable juga tidak bisa dilepaskan dari sisi sosial, terutama mereka yang terlibat langsung dalam proses produksi. Mulai dari penjahit, pengrajin, hingga orang-orang di lingkungan sekitar tempat produksi.

“Pekerjanya yang kamu harus pikirkan juga. Misalnya, orang-orang di sekitar rumah. Itu sustainable juga,” katanya.

Ini menekankan bahwa fashion berkelanjutan bukan hanya soal menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang adil dan memberdayakan setiap individu yang ada di dalamnya.

Dalam konteks industri kreatif di Indonesia, aspek ini menjadi semakin relevan, karena banyak brand (merek) lokal melibatkan pengrajin rumahan, mulai dari skala kecil hingga skala besar.

Dari packaging hingga cara mendesain busana

Selain soal pekerja dan bahan,  aspek lain yang sering luput diperhatikan adalah soal packaging (kemasan).

Di tengah tren busana berbahan eco friendly (ramah lingkungan), Defria menilai bahwa brand juga perlu bertanggung jawab dalam menentukan cara pengemasan.

Packaging-nya, cara kamu mengemas,” sebut Defria.

Tak hanya itu, cara mendesain busana juga menentukan apakah sebuah produk bisa dianggap sustainable atau tidak. 

Menurut Defria, salah satu kuncinya ada pada desain yang fungsional dan tidak lekang waktu.

Ia memberi contoh konsep busana multifungsi yang bisa digunakan dalam berbagai cara.

“Kalau di fashion, cara kamu membuat baju. Misalnya bikin outer bolak-balik, bisa dipakai di dalam, bisa dipakai di luar. Itu kan sesuatu hal yang sustainable juga,” jelasnya.

Desain seperti outer bolak-balik, atau pakaian yang bisa dipakai dalam berbagai situasi, memungkinkan konsumen memperpanjang usia pakai busana.

Hal ini berdampak langsung pada pengurangan konsumsi berlebihan dan produksi limbah tekstil baru.

Bertanggung jawab mengatasi sisi limbah

Persoalan limbah tekstil menjadi tantangan lain dalam sustainable fashion. Defria menyoroti bahwa sebuah brand tidak seharusnya berhenti bertanggung jawab hanya sampai produk terjual.

Menurutnya, penting juga untuk memikirkan apa yang terjadi pada sisa material produksi maupun produk yang sudah tidak digunakan lagi.

“Hasil limbahnya bisa diolah, itu juga bagian dari sustainable,” ujarnya.

Meski tantangannya tidak sedikit, Defria melihat ada perkembangan positif dari sisi masyarakat terhadap sustainable fashion.

“Tapi intinya adalah mereka sebenarnya sudah melek nih, dengan yang namanya sustainable. Anak-anak gen Z, milenial nih sekarang udah mulai melek. Bahwa dia akan beli produk sebutuhnya,” tutur Defria.

Selain itu, tren thrifting atau membeli pakaian bekas juga disebutnya sebagai salah satu indikator meningkatnya kesadaran akan fashion keberlanjutan.

“Makanya mulai banyak thrift. Artinya kesadaran itu sudah mulai tumbuh,” ungkap Defria.

Tag:  #sustainable #fashion #bukan #cuma #soal #bahan #organik #berbagai #tantangan #baliknya

KOMENTAR