Tulola Ungkap Tantangan Membawa Motif Khas Desa Taro Bali ke Dalam Koleksi Reflection of Lights
(Kiri ke kanan) EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn dan Co-Founder and Creative Conceptor TULOLA Happy Salma dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).(KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA)
15:35
29 November 2025

Tulola Ungkap Tantangan Membawa Motif Khas Desa Taro Bali ke Dalam Koleksi Reflection of Lights

- Kolaborasi antara Tulola dan Bakti BCA untuk menghadirkan koleksi perhiasan terbaru bertajuk Reflection of Lights, yang terinspirasi dari maestro-maestro perak Desa Taro, Bali, ternyata melewati proses panjang yang penuh dinamika. 

Setiap motif yang dibawa dari desa adat tersebut tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga filosofi mendalam yang harus diterjemahkan ulang ke dalam wujud perhiasan modern tanpa menghilangkan identitas budaya aslinya.

Tantangan-tantangan inilah yang diungkap oleh Co-Founder dan Creative Conceptor Tulola, Happy Salma. Berikut penjelasan lengkapnya.

Tantangan dalam menyelaraskan motif kaya makna dari para maestro Desa Taro

Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Desa Taro dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan perak paling historis di Bali. Para maestro di desa ini selama puluhan tahun melahirkan motif-motif perhiasan yang memiliki filosofi kuat. 

Ada Mandala yang melambangkan keseimbangan dan penyatuan batin dan lembu putih sebagai simbol kesucian dan kesakralan.

Kemudian, ada motif Patra Bali yang memancarkan keagungan dan harmoni identitas Bali, Sampian yang mencerminkan ketulusan dalam persembahan, hingga Karang Daun yang merepresentasikan keberlanjutan hidup dan hubungan manusia dengan alam.

Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Namun, justru karena kekayaan makna itu, proses kreatif menjadi lebih menantang.

“Proses yang paling menantang adalah bagaimana menyamakan persepsi dulu, Desa Taro itu mereka selalu mengerjakan hal-hal yang besar, motifnya banyak sekali,” kata Happy dalam acara Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Ia menggambarkan, satu karya maestro Taro dapat berisi hingga 20 lapis motif dengan detail yang padat dan kompleks.

Gaya desain Tulola sendiri cenderung lebih minimalis, mengutamakan satu atau dua motif utama dalam satu perhiasan. Hal ini membuat proses seleksi motif harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Jadi misalnya di dalam satu karya itu ada sekitar 10 sampai 20 motif. Kadang di Tulola sendiri hanya menggunakan motif-motif utama hanya 1 atau 2, lalu kita gabung dengan yang kebaruan 1 saja,” ujarnya.

Oleh karena itu, Tulola mengekstraksi elemen yang dianggap paling kuat, paling mewakili makna, sekaligus tetap estetik untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi dalam motif khas Desa Taro yang banyak, Tulola hanya mengambil salah satu elemennya agar ketika dipakai tidak seperti kegiatan upacara adat, terlalu berat, biar bisa dipakai sehari-hari,” tambah Happy.

Proses produksi perhiasan

Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Setelah proses pengerjaan oleh para pengrajin Desa Taro selesai, perjalanan produksi perhiasan ini masih jauh dari selesai. 

Tulola harus memastikan bahwa setiap potongan perhiasan memiliki tampilan akhir yang konsisten dan memenuhi standar kualitas brand.

“Lalu, barang-barangnya setelah dikerjakan oleh teman-teman dari Desa Taro, kemudian proses plating dan finishingnya itu dikerjakan di laboratorium kami,” jelas Happy.

Proses plating harus dilakukan dengan ketelitian tinggi agar warna perhiasan seragam dan hasil akhirnya tidak bercorak.

“Tujuannya agar warnanya sama rata, karena kami menggunakan celupan emas yang beda,” lanjutnya.

Setiap detail, mulai dari ketebalan lapisan emas hingga kilau akhir, harus melalui pengecekan berlapis sebelum koleksi siap dipasarkan.

Memastikan maestro Desa Taro mendapat akses pasar yang lebih luas

Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Koleksi Reflection of Lights karya TULOLA x Bakti BCA dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Dari perspektif Bakti BCA, tantangan yang dihadapi bukan hanya tentang mendukung keberlanjutan budaya, tetapi juga memastikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat Desa Taro.

Hal ini disampaikan oleh EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn.

“Tantangannya salah satunya yaitu kami ingin memperluas akses pasar, karena kami merasa bahwa kami memiliki tanggung jawab agar teman-teman di sana bisa bertumbuh,” ujar Hera.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan BCA adalah membawa karya para pengrajin Taro ke berbagai acara korporasi dan gelaran yang melibatkan banyak mitra.

“Salah satu cara yang kami lakukan untuk perluasan akses pasar adalah menghadirkan produk-produk teman-teman Taro di setiap event-event korporate kami, termasuk event-event dengan partner kami,” katanya.

BCA juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan masyarakat desa agar proses pemberdayaan berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Menjaga keberlanjutan dan memperkuat citra budaya Indonesia

(Kiri ke kanan) EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn dan Co-Founder and Creative Conceptor TULOLA Happy Salma dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA (Kiri ke kanan) EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn dan Co-Founder and Creative Conceptor TULOLA Happy Salma dalam Press Conference TULOLA: Reflection of Lights di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (28/11/2025).

Kolaborasi ini pada akhirnya tidak hanya bertujuan menghasilkan koleksi perhiasan yang indah, tetapi juga memperkuat posisi budaya Indonesia melalui ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Hera menegaskan, pelestarian warisan budaya harus diikuti langkah nyata agar para maestro dapat terus berkarya sekaligus mendapatkan kesejahteraan ekonomi.

Komitmen tersebut juga menjadi harapan sekaligus strategi jangka panjang kolaborasi Bakti BCA dan Tulola. 

“Kami ingin itu tetap terjaga dan bagaimana cara memaparkan dan memperluas akses pasar, di samping untuk menambah pemberdayaan ekonomi dari para teman-teman pengrajin di Taro,” tutup Hera. 

Tag:  #tulola #ungkap #tantangan #membawa #motif #khas #desa #taro #bali #dalam #koleksi #reflection #lights

KOMENTAR