Krisis Energi, Lebih dari 400 SPBU di Filipina Tutup Sementara
- Lebih dari 400 stasiun bensin (SPBU) di Filipina tutup sementara karena gangguan pasokan bahan bakar.
Kepolisian Nasional Filipina (PNP) mengatakan, jumlah SPBU yang tutup saat ini mencapao 409 dari 14.479 stasiun yang dipantau.
Dikutip dari Xinhua, sebagian besar penutupan disebabkan oleh kendala pasokan produk minyak.
Polisi juga mengintensifkan operasi penegakan hukum terhadap tindakan-tindakan yang memperburuk akses bahan bakar dan mengganggu harga.
Ini termasuk mengajukan tujuh kasus terhadap individu yang dituduh menimbun dan mengambil keuntungan secara tidak wajar.
Baca juga: Protes Biaya BBM Naik, Pekerja Transportasi Filipina: Rasanya seperti Dicekik
Filipina darurat enegi nasional
Sebelumnya, Presiden Filipina, Ferdinand Marcos resmi mengumumkan keadaan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026).
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya risiko terhadap pasokan bahan bakar domestik dan stabilitas energi akibat perang yang berkecamuk di Timur Tengah.
Deklarasi ini diterbitkan hanya berselang beberapa jam setelah Kementerian Energi Filipina menyatakan rencana untuk menggenjot produksi pembangkit listrik tenaga batu bara demi menekan lonjakan tarif listrik.
"Keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumkan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta bahaya yang ditimbulkannya terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara," demikian bunyi perintah eksekutif yang dirilis Selasa malam, dikutip dari AFP.
Baca juga: Cadangan Minyak Sisa 45 Hari, Filipina Buru-buru Impor dari Rusia
Perintah tersebut memberi wewenang kepada Departemen Energi untuk melakukan pembayaran di muka sebesar 15 persen untuk mengamankan kontrak bahan bakar sambil mengambil tindakan langsung terhadap penimbunan atau pengambilan keuntungan yang tidak wajar.
Presiden juga memberikan wewenang kepada departemen transportasi untuk mengarahkan subsidi bahan bakar transportasi umum dan mengurangi atau menangguhkan biaya tol dan biaya penerbangan, sambil mempercepat bantuan kepada individu dalam "situasi krisis".
Filipina yang memiliki beberapa biaya energi tertinggi di kawasan ini, sangat bergantung pada bahan bakar impor untuk menjaga agar pembangkit listriknya tetap beroperasi.
Baca juga: Filipina Resmi Deklarasikan Darurat Energi Nasional
Picu aksi demo pekerja transportasi
Imbas kondisi ini, ratusan pekerja transportasi di Manila, melakukan mogok kerja sebagai protes terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Kamis (26/3/2026).
Saat ini, harga solar dan bensin di Filipina naik lebih dari dua kali lipat sejak perang Iran pecah pada 28 Februari.
Dikutip dari BBC, koalisi transportasi yang memimpin pemogokan itu telah mengajukan beberapa tuntutan, mulai dari menghapus pajak bahan bakar dan menurunkan harga minyak, hingga meninggalkan deregulasi dan memperkenalkan kontrol negara.
Baca juga: Dampak Perang Iran Sampai Filipina: Harga BBM Selangit, Sopir Jeepney Demo
Mereka juga mendesak kenaikan tarif dan upah yang lebih tinggi.
Sekelompok demonstran berkumpul di berbagai wilayah di ibu kota pada Kamis pagi, sambil memegang papan tanda dan menyerukan pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk membantu.
Banyak di antara mereka adalah pengemudi jeepney, minibus yang dikenal dengan tarif murahnya.
Pengemudi ojek dan ojek online juga termasuk di antara mereka yang sebelumnya mengatakan akan bergabung dalam protes.
Tag: #krisis #energi #lebih #dari #spbu #filipina #tutup #sementara