IHSG Tertekan usai Rebalancing MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Fundamental
- Investor ritel dinilai memiliki momentum untuk menata kembali portofolio investasinya di tengah pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Rebalancing MSCI ditandai dengan keluarnya 19 saham Indonesia dari indeks global. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar dana asing atau capital outflow dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meski begitu, kondisi tersebut dinilai tidak mencerminkan fundamental emiten yang tercatat di bursa.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan, investor sebaiknya tidak panik menghadapi dampak rebalancing MSCI.
“Lebih fokus pada fundamental emiten dibanding sekadar tekanan jangka pendek akibat foreign flow (arus dana asing keluar),” kata Reydi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: IHSG Hari Ini Anjlok 1,98 Persen ke Level 6.723, Hampir Semua Sektor Memerah
Menurut dia, koreksi pascarebalancing berpotensi terjadi. Karena itu, investor perlu disiplin mengatur manajemen risiko atau risk management.
“Dan melakukan akumulasi bertahap di saham yang fundamentalnya masih kuat,” imbuh dia.
Reydi menilai saham dengan free float tinggi, likuiditas baik, tata kelola kuat, serta kapitalisasi pasar besar masih akan diminati investor global dalam jangka menengah.
Free float merupakan persentase saham perusahaan yang dimiliki publik dan tersedia untuk diperdagangkan secara bebas di pasar reguler.
“Investor sekarang sebaiknya lebih selektif dalam memilih emiten dengan free float yang sehat dan memiliki valuasi, stabilitas harga yang baik ke depan,” ujar dia.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co Founder PasarDana Hans Kwee juga melihat ada peluang di balik volatilitas pasar saat ini.
“Untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif,” kata Hans kepada Kompas.com, Selasa (13/5/2026).
Baca juga: IHSG Tertekan usai MSCI Depak 19 Saham, Lo Kheng Hong Malah Borong GJTL
Hans menilai investor seharusnya tetap tenang menghadapi reaksi pasar setelah pengumuman rebalancing MSCI pada 12 Mei 2026.
“Tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling),” imbuh dia.
Menurut Hans, penghapusan sejumlah emiten dari indeks MSCI lebih bersifat teknikal. Kondisi itu berkaitan dengan metodologi bobot dan likuiditas saham.
Situasi tersebut tidak otomatis mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan.
Hans menambahkan, banyak fund manager dan pelaku pasar sudah mengantisipasi penghapusan sejumlah saham sejak beberapa bulan terakhir.
“Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI,” ujar dia.
Hans menilai transparansi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengikuti jejak India di pasar modal global.
Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dinilai penting untuk memperketat pengawasan struktur kepemilikan dan transaksi afiliasi.
Langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan pasar yang lebih adil.
Menurut Hans, upaya SRO mendorong keterbukaan informasi secara real time serta reformasi perlindungan investor minoritas dari OJK dapat menjadi sinyal positif bagi MSCI.
India sebelumnya dinilai berhasil memperkuat daya tarik pasar berkembang melalui penyelarasan aturan kepemilikan asing dan digitalisasi investasi.
Hans menilai fase penyesuaian indeks dapat menjadi momentum pembenahan pasar agar lebih kredibel.
“Pengumuan MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan,” ujar Hans.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keluarnya saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes berpotensi memicu aksi jual investor asing.
Menurut dia, fund manager yang menggunakan MSCI sebagai acuan portofolio akan menyesuaikan komposisi investasinya.
“Hemat saya outflow ya pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru,” ujar Nafan.
Kondisi tersebut dinilai dapat menekan harga saham yang keluar dari indeks MSCI dan memberi tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
“Tapi hal ini juga bisa menekan saham-saham tersebut yang keluar maupun juga rupiah dalam jangka pendek. Tapi di jangka pendek ya hemat saya demikian,” paparnya.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Ahmad Faris Mu’tashim juga memperkirakan keluarnya saham Indonesia dari MSCI akan memicu arus keluar dana asing.
Menurut dia, fund manager pasif umumnya wajib mengikuti komposisi indeks terbaru.
Akibatnya, saham yang masuk daftar deletion berpotensi mengalami tekanan jual cukup besar.
“Tentunya hal ini akan membuat outflow dari pengelola dana pasif, yang membuat tekanan besar pada saham yang masuk delection dengan potensi Rp 22 triliun,” ujar Faris kepada Kompas.com.
Secara teknikal, tekanan jual dinilai masih berpotensi berlanjut. Area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.300 hingga 6.600.
Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebelumnya resmi mengumumkan hasil rebalancing indeks periode Mei 2026.
Dalam penyesuaian terbaru, MSCI mengeluarkan 19 saham Indonesia dari indeks global.
Sebanyak enam saham keluar dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
AMRT kemudian dipindahkan ke MSCI Global Small Cap Indexes.
Selain itu, 13 saham Indonesia juga keluar dari MSCI Global Small Cap Indexes, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
MSCI menyebut hasil perubahan indeks berlaku setelah penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Tag: #ihsg #tertekan #usai #rebalancing #msci #investor #disarankan #fokus #fundamental