BUMN Semen Cari Nafas Baru dari Pasar Ekspor
– PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), emiten semen badan usaha milik negara (BUMN), mulai mengandalkan pasar ekspor sebagai mesin pertumbuhan baru di tengah tekanan industri semen domestik yang masih dibayangi surplus kapasitas produksi (overcapacity).
Perseroan mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026. Pendapatan SIG tumbuh 8,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 8,29 triliun, sementara laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 88,7 persen menjadi Rp 80 miliar.
Di sisi volume, penjualan SIG juga meningkat 1,7 persen yoy menjadi 8,71 juta ton.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengatakan, capaian tersebut menjadi hasil dari strategi transformasi yang dijalankan perseroan untuk menjaga daya tahan bisnis sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
“SIG tidak hanya fokus menjaga kinerja jangka pendek, tetapi juga membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan. Transformasi bisnis yang dijalankan secara disiplin berhasil meningkatkan daya saing perusahaan di tengah tantangan industri,” kata Vita dalam keterangan resmi, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: Semen Indonesia (SMGR) Bakal Tebar Seluruh Laba 2025 sebagai Dividen Tunai
Menurut Vita, salah satu fokus utama SIG saat ini ialah memperkuat penetrasi pasar ekspor guna meningkatkan utilisasi pabrik sekaligus memperluas pasar produk derivatif bernilai tambah.
Melalui anak usaha PT Solusi Bangun Indonesia Tbk bersama Taiheiyo Cement Corporation, SIG telah menyelesaikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi ekspor di Tuban yang ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi basis penguatan ekspor SIG sekaligus membuka peluang peningkatan margin usaha di tengah persaingan pasar domestik yang semakin ketat.
“Rampungnya fasilitas ekspor di Tuban menjadi tonggak penting bagi SIG untuk memperkuat posisi di pasar internasional. Ekspor akan menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan utilisasi sekaligus mendukung pertumbuhan profitabilitas perseroan,” ujar Vita.
Baca juga: Ekspor RI Kuartal I 2026 Naik Tipis: Nikel, Timah, dan Aluminium Jadi Penopang
Selain memperluas pasar ekspor, SIG juga terus menjalankan transformasi operasional melalui pengelolaan pasar mikro, optimalisasi portofolio produk, serta efisiensi biaya di tengah kenaikan harga energi.
SIG mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 5,4 persen yoy pada awal tahun ini. Perseroan juga berhasil menurunkan biaya keuangan bersih sebesar 35,4 persen yoy melalui pengelolaan keuangan yang lebih optimal.
“Kinerja tersebut memperlihatkan kemampuan SIG dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi pertumbuhan dan penguatan fundamental keuangan,” tutup Vita.