Ironi Piala Dunia 2026 di AS, Warga Justru Tak Sanggup Beli Tiket
Kedatangan Piala Dunia 2026 ke Amerika Serikat semestinya menjadi kabar menggembirakan bagi warga Kearny, New Jersey, kota kecil yang dikenal sebagai “Kota Sepak Bola AS”.
Namun, euforia itu tidak sepenuhnya dirasakan warga setempat karena harga tiket pertandingan Piala Dunia dinilai terlalu mahal dan sulit dijangkau masyarakat biasa.
Anthony Duro, pemuda 20 tahun asal Kearny, semula berharap bisa menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia di Stadion MetLife, New Jersey, yang berjarak sekitar 11 km dari rumahnya.
Baca juga: Edin Dzeko Pimpin Skuad Bosnia di Piala Dunia 2026
Harapan itu pupus setelah ia mengetahui harga tiket pertandingan berada jauh di luar kemampuan finansialnya.
“Ini menyebalkan karena akan menyenangkan untuk menonton pertandingan suatu negara di sini, terutama karena saya tinggal sangat dekat dengan stadion,” kata Duro kepada AFP di sebuah lapangan sepak bola yang berada di antara tempat barang rongsokan dan gudang.
Duro, seorang mahasiswa keuangan yang juga bermain sebagai kiper, menyebut harga tiket Piala Dunia 2026 sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
“Bagi saya, ini konyol,” ujar Duro saat beristirahat dari latihan bersama teman-temannya yang mengenakan jersey Brasil dan Barcelona.
Harga tiket Piala Dunia 2026 dinilai terlalu mahal
Harga tiket Piala Dunia 2026 menuai kritik dari berbagai kalangan suporter karena melonjak tajam dibandingkan edisi sebelumnya.
Tiket termahal untuk final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife disebut mencapai lebih dari 30.000 dollar AS atau sekitar Rp 480 juta.
Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga puncak tiket final Piala Dunia 2022 yang berada di kisaran 1.600 dollar AS atau sekitar Rp 25 juta.
Tiket standar yang semula berada di kisaran 2.800 dollar AS hingga hampir 4.200 dollar AS kini dijual kembali dengan harga mendekati 11.000 dollar AS.
Kelompok suporter Football Supporters Europe bahkan menyebut struktur harga tiket Piala Dunia sebagai “pengkhianatan monumental”.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan bahwa ia tidak akan membayar tiket lebih dari 1.000 dollar AS untuk pertandingan pertama Amerika Serikat di Piala Dunia.
Bagi Duro dan banyak warga Kearny lain, pilihan paling realistis adalah menonton turnamen itu dari rumah meski pertandingan digelar tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Baca juga: Piala Dunia 2026, Kompetisi dan Etalase Diplomasi Sepak bola Iran
Kearny punya sejarah panjang sebagai kota sepak bola
Kearny bukan kota biasa dalam sejarah sepak bola Amerika Serikat.
Sepak bola menjadi olahraga dominan di kota industri tersebut karena pengaruh imigran Skotlandia dan Irlandia yang membawa permainan itu pada akhir 1800-an ketika mereka datang untuk bekerja di pabrik.
Sejak saat itu, sistem pembinaan pemain muda di Kearny melahirkan sejumlah pemain tim nasional pria Amerika Serikat, termasuk Tony Meola.
Kota berbukit dengan sekitar 40.000 penduduk itu juga dikenal bangga dengan perannya dalam perkembangan sepak bola di Amerika Serikat.
Namun, kebanggaan itu kini bercampur kekecewaan karena banyak warga merasa hanya bisa menjadi penonton dari kejauhan saat kompetisi sepak bola terbesar di dunia hadir di dekat mereka.
“Sepak bola seharusnya menyatukan orang,” kata Sean McDonald, anggota Scots American Club, yang terkait dengan tim bersejarah Kearny Scots yang berdiri pada 1895.
Menurut McDonald, harga tiket dan biaya lain dalam penyelenggaraan Piala Dunia justru membuat semangat kebersamaan itu sulit terwujud.
“Dengan harga yang sangat mahal dan biaya yang terlibat dalam Piala Dunia ini, hal itu tidak akan tercapai,” ujar pria 51 tahun tersebut.
McDonald berbicara dari ruang klub yang dipenuhi memorabilia sepak bola, termasuk syal bertuliskan “Soccer Town USA” dan foto legenda Brasil, Pele, bersama mantan anggota klub.
“Mereka mengenakan biaya yang sangat mahal,” kata McDonald saat pertandingan Liga Premier Inggris diputar di televisi di belakang bar.
Menurut dia, banyak warga di wilayah tersebut sebenarnya ingin menonton langsung Piala Dunia, tetapi tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli tiket.
Baca juga: Media Vietnam Puji Timnas U17 Indonesia Meski Gagal ke Piala Dunia U17 2026
Warga minta FIFA menurunkan harga tiket
Trofi Piala Dunia FIFA dipamerkan di Philadelphia, Pennsylvania, pada 2 Juli 2024.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela harga tiket Piala Dunia 2026 dengan menyebut tarif tersebut sesuai untuk Amerika Serikat, yang menjadi tuan rumah sebagian besar pertandingan.
Namun, penjelasan itu tidak diterima begitu saja oleh warga Kearny.
“Mengapa begitu mahal karena diadakan di Amerika Serikat? Itu membuat kita terlihat buruk,” kata CEO Scots American Club, Andrew Pollock.
Pollock meminta FIFA mengurangi pendapatan dari turnamen tersebut dan menggunakan sebagian dana untuk menyubsidi harga tiket Piala Dunia.
Menurut dia, FIFA seharusnya bisa mengambil keuntungan lebih kecil agar lebih banyak warga biasa dapat menyaksikan pertandingan secara langsung.
“Kita semua beranggapan bahwa FIFA akan mengambil miliaran dollar setiap tahun dari Piala Dunia. Mengapa mereka tidak bisa mengambil sedikit lebih sedikit?” ujar Pollock.
Keluhan serupa disampaikan Jose Rodrigues, pekerja asuransi berusia 54 tahun yang sedang minum Guinness bersama istrinya, Ann, di bar klub tersebut.
Rodrigues mengatakan keluarganya yang berjumlah lima orang tidak mungkin membeli tiket Piala Dunia dengan harga ratusan hingga ribuan dollar AS.
“Saya tidak akan membayar 1.000 dollar AS untuk tiket atau 500 dollar AS untuk tiket. Tak peduli dengan itu. Kami tidak akan melakukannya,” kata Rodrigues.
Baca juga: Daftar Skuad Argentina di Piala Dunia 2026: Ada Garnacho, Masa Depan Dybala Berakhir?
Menurut Rodrigues, harga tiket seperti itu membuat Piala Dunia sulit diakses oleh masyarakat biasa.
“Orang biasa tidak akan mampu untuk pergi,” ujar dia.
Tag: #ironi #piala #dunia #2026 #warga #justru #sanggup #beli #tiket