Rusia dan Ukraina Mulai Perundingan Damai untuk Mengakhiri Konflik Berkepanjangan, AS Turut Ambil Peran Mediasi Global
- Setelah hampir 4 tahun konflik, perundingan damai antara Rusia dan Ukraina kembali digelar di Jenewa, Swiss, pada pertengahan Februari 2026, dengan Amerika Serikat (AS) berperan sebagai mediator utama. Upaya diplomasi ini berada pada titik krusial, karena peluang tercapainya kesepakatan dan risiko kegagalan sama kuatnya dalam dinamika negosiasi trilateral.
Pada Selasa (17/2), delegasi tinggi dari Rusia dan Ukraina duduk di meja perundingan untuk melanjutkan upaya mengakhiri konflik bersenjata yang telah mencatat ribuan korban dan kerusakan infrastruktur masif di kedua negara. Percakapan yang dimediasi AS ini menjadi tonggak baru setelah beberapa putaran pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi pada Januari dan Februari 2026.
Dilansir dari NDTV, Rabu (18/2/2026), negosiasi perdamaian trilateral yang dimulai di Jenewa melibatkan perwakilan Rusia, Ukraina, dan AS. Diskusi difokuskan pada cara menghentikan perang yang telah berlangsung bertahun‑tahun, termasuk membahas isu teritorial, keamanan, dan mekanisme gencatan senjata yang efektif.
Kendati agenda yang dibicarakan terasa jauh lebih luas dari diskusi semata, situasi diplomatik menunjukkan kontradiksi mendalam. Di satu sisi, AS mencoba merangkul kedua pihak untuk menyepakati kerangka perdamaian. Di sisi lain, realitas medan rumah perang dan tuntutan yang saling bertentangan antara Kyiv dan Moskow memperlihatkan betapa rapuhnya dukungan terhadap resolusi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ancaman Washington: Waktu Adalah Batas Kesabaran
Bukan hanya jalan perundingan yang berat, sikap Washington sendiri kini menjadi fokus perhatian. Pernyataan resmi dari AS menunjukkan ketegangan internal dalam kebijakan luar negeri Washington terkait perang ini.
Menurut pernyataan Sekretaris Negara AS Marco Rubio, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberi sinyal kuat bahwa keterlibatan Washington dalam upaya mediasi bisa dihentikan "dalam hitungan hari" jika tanda‑tanda keberhasilan tidak segera terlihat.
Rubio menegaskan, "Kami perlu menentukan dengan cepat sekarang, dan saya berbicara soal hitungan hari, apakah ini bisa dilakukan dalam beberapa minggu mendatang," sebuah pengakuan keterbatasan waktu yang dihadapi AS untuk menjaga momentum diplomatik.
Pernyataan ini mencerminkan bahwa Trump masih berminat pada sebuah kesepakatan akhir, namun administrasinya juga mengejar prioritas strategis lain di berbagai belahan dunia. Pernyataan Rubio menekankan bahwa Washington tidak berniat "melanjutkan upaya ini selama berpekan‑pekan atau berbulan‑bulan," jika hasil nyata tidak segera muncul.
Tantangan Utama: Wilayah, Keamanan, dan Tekanan Politik
Permasalahan utama yang menghambat kesepakatan adalah isu wilayah Donbas dan jaminan keamanan. Ukraina tegas menolak pengorbanan wilayah yang belum dikuasai Rusia, dan presiden negara itu menegaskan bahwa rakyatnya tidak akan memaafkan konsesi atas tanah mereka.
Sikap ini mencerminkan hambatan domestik yang besar dalam proses diplomasi: kompromi yang dirasa terlalu berat bisa berujung pada ketidakpercayaan publik dan keretakan legitimasi pemerintah di Kyiv. Zelensky dalam pernyataannya kepada media menekankan bahwa tekanan terhadap Ukraina untuk membuat konsesi tanpa tuntutan seimbang kepada Rusia merupakan bentuk tekanan yang tidak adil dan kontraproduktif.
Di sisi lain, Rusia, menurut sumber dari perundingan, mempertahankan posisi keras terkait tuntutan teritorial dan keamanan yang luas, termasuk kemungkinan pengakuan atas wilayah yang dicaplok sejak awal invasi.
Proyeksi Diplomasi: Jalan Panjang dan Ketidakpastian Besar
Dengan latar belakang tersebut, realitas diplomatik di Jenewa kemungkinan besar akan tetap berat. Baik Rusia maupun Ukraina menghadapi tekanan domestik masing‑masing, sementara AS yang mengupayakan peran mediasi, menghadapi batas waktu politik dan prioritas global lain yang tak kalah mendesak.
Suasana perundingan yang "konstruktif" menurut delegasi Ukraina dan tanda‑tanda penerimaan awal terhadap kerangka perdamaian oleh beberapa pihak belum mampu menjadi bukti kuat bahwa perang ini akan segera berakhir.
Selain itu, realitas geopolitik menunjukkan bahaya stagnasi: kegagalan untuk mencapai kesepakatan dapat memperpanjang konflik, memperdalam dampak sosial, serta menggeser fokus kebijakan luar negeri Washington ke isu lain.
Secara keseluruhan diplomasi di Jenewa pada Februari 2026 ini bukan sekadar babak baru dalam rambut perang panjang Rusia–Ukraina; melainkan juga ujian nyata terhadap kemampuan dunia internasional, khususnya Amerika Serikat, untuk menjembatani perdamaian tanpa negosiasi yang timpang dan tanpa mengorbankan prinsip kedaulatan suatu bangsa.
Tanpa terobosan nyata dalam beberapa hari mendatang, peluang "diplomasi cepat" akan semakin jauh dari jangkauan, dan ancaman konflik berkepanjangan akan terus membayangi kawasan Eropa dan stabilitas global.
Tag: #rusia #ukraina #mulai #perundingan #damai #untuk #mengakhiri #konflik #berkepanjangan #turut #ambil #peran #mediasi #global