Respons Pihak Istana Kepresidenan soal Teror Terhadap Ketua BEM UGM
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026). (KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA)
17:38
18 Februari 2026

Respons Pihak Istana Kepresidenan soal Teror Terhadap Ketua BEM UGM

- Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi merespons teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto usai Tiyo menyuarakan problem dari peristiwa tewasnya siswa sekolah di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kalau teror kita enggak tahu siapa yang meneror, ya," kata Prasetyo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Prasetyo mengatakan, Istana tidak tahu identitas pihak yang meneror Tiyo. Namun, Prasetyo menegaskan bahwa kritik sebenarnya sah-sah saja.

"Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan karena kebetulan kami juga lulusan dari UGM, gitu. Dulu juga pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa ya. Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu saya kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja," ujar Prastyo.

Baca juga: Teror Ketua BEM UGM Berlanjut, Ibunda dan Puluhan Lebih Pengurus Jadi Sasaran

Prasetyo mengimbau kepada seluruh pihak untuk menyampaikan sesuatu secara penuh tanggung jawab.

Mensesneg: Sampaikan pendapat dengan sopan

Selain itu, Prasetyo juga mengingatkan bahwa adab ketimuran dan etika perlu dikedepankan saat menyuarakan sesuatu.

"Jadi menyampaikan pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua, gitu. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik, gitu. Ini berlaku untuk siapapun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM, gitu," kata Prasetyo.

Baca juga: Mahfud MD: Surat BEM UGM ke UNICEF Bentuk Kebebasan Berpendapat

Yang pasti, Prasetyo menekankan, negara menjamin kebebasan berpendapat warga.

Menurut dia, warga harus menyampaikan pendapat secara arif dan bijaksana.

"Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif, caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting kan kita mau menyampaikan sesuatu ya mesti juga memilih diksi yang tepat, supaya itu juga menjadi bahan pembelajaran, kan. Kan pengennya kan memberikan masukan itu kan seperti itu," tutur Prasetyo.

Sementara itu, saat ditanya perihal teror yang dialami Tiyo, Prasetyo tidak menjawab secara tegas.

"Loh, kan tadi terornya ya sesuatu yang berbeda, gitu," imbuhnya.

Ketua BEM UGM diteror

Sebelumnya, Ketua BEM UGM Yogyakarta Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror seusai menyuarakan kasus anak bunuh diri di NTT.

Ketua BEM UGM diteror dengan berbagai ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal selama 9-11 Februari 2026.

Salah satu teror yang dialaminya adalah mendapatkan ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).

Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardiyanto.Dok. Pribadi Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardiyanto.

Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026). Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.

Menurut penuturan Tiyo kedua orang tersebut laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.

"Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," paparnya.

Baca juga: BEM UGM dan Undip Keluar, BEM SI Klaim Tak Pernah Undang Pejabat di Munas

Meski saat itu sempat dikejar, namun dua orang yang diduga melakukan penguntitan kepadanya menghilang.

“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Bahkan, kata Tiyo, teror juga menghampiri ibundanya. Sang ibu dikirimi dua kali pesan tengah malam yang mengatakan bahwa Tiyo menggelapkan uang.

“Ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut,” kata Tiyo.

Surati UNICEF

Tiyo Ardianto bersama BEM UGM mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyoroti kasus tragis anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp 10.000.

Dalam suratnya, Tiyo menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.

“Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?” demikian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. 

Baca juga: BEM UGM Surati UNICEF Pasca Tragedi Anak di NTT

Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat systemic failure (kegagalan sistemik) dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan.

Ia meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.

Tag:  #respons #pihak #istana #kepresidenan #soal #teror #terhadap #ketua

KOMENTAR