Lelah Jadi Guru, Wanita Ini Banting Setir Ekspor Peti Mati Beromzet Rp 101 Miliar
Ilustrasi peti mati.(SHUTTERSTOCK)
15:48
18 Februari 2026

Lelah Jadi Guru, Wanita Ini Banting Setir Ekspor Peti Mati Beromzet Rp 101 Miliar

- Di China, kematian dianggap sebagai hal yang tabu dan kerap dikaitkan dengan nasib buruk. Namun, bagi Lisa Liu (29), stigma tersebut justru menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan.

Mantan guru asal Kota Heze, Provinsi Shandong, ini memutuskan untuk banting setir menjadi penjual peti mati yang menyasar pasar Eropa, khususnya Italia, sebagaimana dilansir SCMP, Senin (16/2/2026).

Keputusan yang diambil pada Juli 2023 tersebut membuahkan hasil manis dengan catatan penjualan tahunan mencapai 6 juta dollar AS atau sekitar Rp 101 miliar.

Baca juga: Bisikkan Jawaban ke Murid Saat Ujian, Guru Langsung Disanksi

Mengutip laporan majalah Personage, Liu mengaku meninggalkan profesinya sebagai guru karena merasa kelelahan dan sering kehilangan suara akibat tekanan pekerjaan.

Dia lalu melamar pekerjaan di sebuah perusahaan industri pemakaman.  Setelah melalui sebuah sesi wawancara, dia diterima. 

Awalnya, Liu masih merasa takut dengan stigma negatif seputar kematian. 

Namun, pandangannya berubah setelah mengunjungi pabrik dan melihat langsung proses produksi, mulai dari pemotongan kayu hingga pengukiran.

Bagi para pekerja di sana, peti mati hanyalah produk dari kayu. Bahkan, beberapa pekerja menggunakan guci abu kosong sebagai kotak penyimpanan di rumah mereka. 

Baca juga: Kenapa Pidato Prabowo Urutan 3 di Sidang Umum PBB? Begini Dugaan Guru Besar UI

Keunggulan produk lokal Heze

Peti mati buatan Heze memiliki daya tarik tersendiri di pasar internasional. 

Berbeda dengan peti mati tradisional China yang berat dan berwarna gelap, peti mati untuk pasar Italia cenderung lebih ringan dan sering kali dihiasi ukiran religius.

Kota Heze diketahui memiliki tiga juta pohon paulownia. Kayu ini dikenal sangat ringan, memiliki titik nyala rendah, dan serat yang indah.

Kelebihan tersebut membuatnya sangat ideal untuk pasar Italia di mana jenazah dan peti mati biasanya dikremasi bersamaan.

Selain kualitas, harga menjadi faktor penentu. Melansir media Jimu News, peti mati asal Heze dibanderol antara 90 dollar AS hingga 150 dollar AS (sekitar Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta). 

Baca juga: Vietnam Naikkan Tunjangan Guru 70 Persen

Harga ini jauh lebih terjangkau dibandingkan peti mati buatan Eropa yang berkisar antara 1.100 dollar AS hingga 2.100 dollar AS (Rp 18,5 juta-Rp 35 juta).

Setiap tahunnya, pabrik tempat Liu bekerja mengekspor sekitar 40.000 peti mati ke Eropa dengan pendapatan mencapai hampir 40 juta yuan. 

Meski menghadapi tantangan berupa kebijakan Uni Eropa yang berubah-ubah dan kenaikan biaya pengiriman, Liu tetap optimistis.

"Orang meninggal setiap hari, dan setiap orang pada akhirnya akan membutuhkan peti mati," ujarnya.

Baca juga: Vietnam dalam Reformasi Pendidikan: Naikkan Tunjangan Guru 70 Persen

Heze bukan satu-satunya pemain besar. Desa Mibeizhuang di Provinsi Hebei juga menjadi pusat industri pemakaman China. 

Jalanan desa tersebut dipenuhi ratusan toko yang menjual pakaian jenazah, karangan bunga, hingga kantong mayat.

Menurut China News Weekly, nilai produksi tahunan industri pasokan pemakaman di Mibeizhuang melampaui 1 miliar yuan pada tahun 2020. 

Sementara itu, Kota Huian di tenggara China yang terkenal dengan batu granitnya, mencatatkan ekspor batu nisan ke Jepang dengan nilai hampir 2 miliar yuan per tahun.

Baca juga: Sekolah di AS Tawarkan Bantuan Rp 80 Juta untuk Guru, Syaratnya Jangan Gemuk

Pergeseran pandangan generasi muda

Bangkitnya industri peti mati di "Negeri Panda" mencerminkan sikap kompleks masyarakat China terhadap kematian. 

Sejumlah sosiolog melihat, terjadi pergeseran rasional di kalangan generasi muda yang mulai mendemitologisasi persepsi tentang kematian.

Contohnya, agen peti mati ternama Yang Tianzhen yang menggelar simulasi pemakamannya sendiri saat ulang tahunnya Januari lalu. 

Ada pula pembuat konten @Xiaogang yang merancang peti matinya menyerupai pesawat luar angkasa.

Baca juga: Guru di AS Tak Boleh Gemuk jika Ingin Dapat Rp 80 Juta

Di Shanghai, bahkan terdapat "Pusat Pengalaman Kematian" yang menawarkan simulasi proses kematian hingga kelahiran kembali.

Di sana juga terdapat Ferryman Cafe, tempat pengunjung bisa bertukar cerita tentang hidup dan mati demi secangkir kopi gratis.

Yang Lei, profesor di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong, menilai keterbukaan ini adalah hal positif.

"Kematian bertindak sebagai cermin, memaksa kita untuk menghadapi apa yang sebenarnya penting dalam hidup," kata Yang.

Baca juga: Bodycam Masih Nyala, Polisi AS Ketahuan Selingkuh dengan Guru

Tag:  #lelah #jadi #guru #wanita #banting #setir #ekspor #peti #mati #beromzet #miliar

KOMENTAR