Ayah Bocah WNI Korban Kecelakaan di Singapura Masih Syok, Istri Dirawat Intensif
- Dukungan terus mengalir bagi Ashar Ardianto (30), warga negara Indonesia (WNI) yang tengah menghadapi masa sulit setelah kehilangan putrinya dalam kecelakaan maut di kawasan Chinatown, Singapura.
Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura mengungkapkan, Ashar saat ini masih dalam kondisi syok berat dan trauma mendalam.
Sementara, sang istri, Raisha Anindra Pascasiswi (31), masih menjalani perawatan intensif di High Dependency Unit (HDU) Rumah Sakit Umum Singapura (SGH).
Wakil Kepala Misi KBRI Singapura, Thomas Ardian Siregar, menyampaikan meski Raisha sudah mulai bisa berkomunikasi, kondisinya masih sangat lemah akibat cedera serius yang dialaminya.
Baca juga: Bocah WNI 6 Tahun Meninggal Usai Ditabrak di Singapura, Ibu Luka Berat
Keluarga korban menetap di kediaman duta besar
Guna memberikan dukungan maksimal, Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, telah memberikan izin bagi Ashar untuk tinggal sementara di kediaman resminya.
Langkah ini diambil agar pihak kedutaan dapat merespons cepat segala kebutuhan Ashar selama sang istri dirawat.
“Untuk saat ini, Ashar tinggal di Kediaman Duta Besar, sementara kami menunggu perawatan istrinya di rumah sakit,” kata Thomas, dikutip dari Channel News Asia, Senin (16/2/2026).
Dengan tinggal di sana, pihak KBRI berharap bisa merespons dengan cepat jika Ashar membutuhkan bantuan.
Selain bantuan dari KBRI, jaringan hotel Ascott juga telah menawarkan akomodasi gratis sebagai bentuk empati terhadap keluarga korban selama masa pemulihan di Singapura.
“Secara fisik, dia tampak baik-baik saja. Tetapi secara emosional, dia jelas sangat terguncang. Masih sangat sulit baginya untuk menerimanya” sambungnya.
Baca juga: Bocah WNI Korban Kecelakaan Singapura Dimakamkan di Jakarta, Kondisi Ibu Membaik
Kronologi kecelakaan
Kecelakaan fatal itu terjadi pada 6 Februari ketika mereka sedang menyeberang jalan di dekat Kuil Relik Gigi Buddha, yang terletak di sepanjang South Bridge Road.
Sebuah mobil listrik berwarna gelap, yang dilaporkan keluar dari tempat parkir di sebelahnya dan berbelok ke kanan, menabrak Raisha dan Sheyna.
Ashar yang sedang mendorong kereta bayi berisi putra bungsu mereka, berada sedikit di depan dan tidak tertabrak.
Sheyna menderita cedera kepala parah dan dinyatakan meninggal di SGH tak lama setelah kecelakaan.
Jenazahnya dipulangkan ke Jakarta dan dimakamkan pada 8 Februari di Pemakaman Umum Tanah Kusir.
Baca juga: Kronologi Bocah WNI 6 Tahun Meninggal Usai Ditabrak di Singapura, Sopir Sempat Ngeyel
Penggalangan dana untuk keluarga korban
Ilustrasi Singapura.
Sejak kejadian itu, kelompok komunitas Indonesia di Singapura dan dalam negeri telah bergerak untuk mengumpulkan dana bagi keluarga tersebut.
Asosiasi Alumni Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI) juga telah meluncurkan upaya penggalangan dana karena biaya pengobatan terus meningkat.
Raisha merupakan lulusan program studi Sastra China UI pada 2017.
Baca juga: 6 WNI Dipenjara dan Dicambuk Usai Menyelundup Masuk Singapura Pakai Sampan
Sementara, pemimpin kelompok diaspora Indonesians in Singapore Communication Forum (FKMIS), Reynilda Hendryatie mengatakan, organisasinya telah menyebarkan informasi tentang situasi keluarga tersebut melalui jaringan diasporanya.
“Di FKMIS, kami hanya menyebarkan informasi tentang kondisi keluarga tersebut,” tuturnya.
Menurutnya, FKMIS tidak menangani donasi secara langsung. Donasi dikumpulkan oleh perwakilan keluarga dan disalurkan langsung kepada keluarga tersebut.
Reynilda menjelaskan, dana tersebut diharapkan sebagian besar akan digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit.
Dalam sebuah unggahan Instagram, FKMIS menyatakan, mereka membantu menyalurkan donasi melalui perwakilan keluarga yang hanya diidentifikasi sebagai Ibu Cornelia.
Baca juga: Hidup Susah di Indonesia Usai Menikah dengan WNI, Wanita Malaysia Dipulangkan
KBRI beri bantuan hukum
Seiring dengan berlanjutnya penyelidikan oleh Kepolisian Singapura (SPF), pihak KBRI Singapura juga memberikan bantuan hukum terhadap keluarha korban.
Pengemudi mobil, seorang wanita berusia 38 tahun, sempat ditangkap di lokasi kejadian atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian.
Namun, kini ia telah dibebaskan dengan jaminan sesuai hukum yang berlaku di Singapura
Thomas mengatakan, pihaknya tetap menjalin kontak dengan SPF dan terus meminta informasi terbaru.
Saat dihubungi oleh CNA pada 16 Februari, SPF mengatakan bahwa investigasi masih berlangsung. Akan tetapi, mereka tidak dapat memberikan detail lebih lanjut.
Kedutaan juga telah menyediakan pengacara bagi keluarga tersebut yang bertindak secara cuma-cuma (pro bono).
Menurutnya, KBRI masih menjajaki berbagai opsi untuk biaya pengobatan dan mendiskusikan solusi yang mungkin, meskipun belum ada keputusan akhir yang dibuat.
Tag: #ayah #bocah #korban #kecelakaan #singapura #masih #syok #istri #dirawat #intensif