Saat Malaysia ''Tsunami Durian'' gara-gara Selera Warga China Berubah...
- Lonjakan permintaan durian dari China pernah membawa harapan besar bagi petani Malaysia. Namun, delapan tahun setelah masa kejayaan itu, situasi kini berbalik arah.
Para petani menghadapi kelebihan produksi, permintaan ekspor menurun, dan harga jatuh ke titik terendah dalam satu dekade.
Salah satunya dialami oleh Liew Jia Soon. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya pada 2018 untuk mengelola kebun durian milik ayahnya di perbukitan utara Kuala Lumpur. Saat itu, pasar China menawarkan keuntungan besar bagi petani.
Baca juga: Dulu Kaya Emas, Kota di Malaysia Kini Raup Rp 118,3 T dari China gegara Durian
Namun kini, meski luas lahannya telah berlipat ganda, pendapatannya justru merosot tajam.
"Kami para petani mengalami penurunan keuntungan sebesar 60 persen selama musim ini," ujar Liew, dikutip dari New York Times, Selasa (10/2/2026).
Pada bulan lalu, ratusan buah durian miliknya bahkan tak laku terjual dan menumpuk di pusat pengumpulan wilayah Raub.
Permintaan beralih ke durian segar
Ilustrasi durian. Durian Parigi Moutong, primadona baru pasar ekspor InternasionalBukan karena konsumen China kehilangan selera terhadap durian. Minat terhadap “Raja Buah” itu tetap tinggi, meskipun ekonomi China sempat melemah pada akhir 2025.
Masalah utama justru muncul dari pergeseran preferensi konsumen. Jika sebelumnya pasar mengandalkan durian beku (frozen), kini pembeli lebih menyukai durian segar dalam bentuk utuh.
Perubahan tersebut membuat rantai pasok Malaysia kelabakan.
"Kita perlu memastikan rantai pasokan dapat mengakomodasi perubahan dalam ekspor durian segar ini," ujar Eric Chan, Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia.
Namun, terbatasnya penerbangan langsung dari Malaysia ke China menyulitkan pengiriman durian segar. Akibatnya, terjadi penumpukan produksi di dalam negeri yang tidak terserap pasar ekspor.
Baca juga: Usai Rebutan dengan Singapura, Malaysia Desak Durian Jadi Buah Nasional
Kondisi tersebut memicu lonjakan pasokan yang dijuluki petani sebagai “tsunami durian”. Pada Desember 2025, harga durian jatuh ke level terendah, hanya 10 ringgit (sekitar Rp 43.000) per kilogram. Angka itu hanya sepersepuluh dari harga normal.
Krisis diperparah oleh sifat tanaman durian yang membutuhkan waktu 5-10 tahun untuk berbuah.
Investasi besar-besaran yang dilakukan petani pada periode 2016–2019 kini menjadi bumerang, dengan banjir produksi terjadi saat permintaan ekspor menurun.
Data pemerintah Malaysia menunjukkan, luas kebun durian meningkat dari 163.000 hektare pada 2016 menjadi lebih dari 227.000 hektare pada 2024. Produksi nasional turut melonjak menjadi 568.000 ton.
Penasihat Durian Academy, Lim Chin Khee, menyatakan bahwa konsumen China kini lebih selektif dan lebih ketat dalam bernegosiasi harga, akibat kondisi ekonomi yang melemah.
Selain itu, Malaysia juga harus bersaing dengan negara eksportir lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia.
"Thailand juga akan menghadapi tekanan harga saat memasuki musim puncak pada April nanti," ujar Sam Tan, Presiden Asosiasi Eksportir Durian Malaysia.
Para produsen juga mencermati langkah China yang mulai menanam durian secara mandiri. Upaya ini dikenal sebagai langkah menuju “kebebasan durian” atau swasembada.
Ken Tan, pemilik Perkebunan Durianhill di Penang, menyatakan bahwa ekspornya ke China turun 40 persen musim ini dibanding tahun sebelumnya.
Baca juga: Tak Bisa Dibawa Terbang, Keluarga China Nekat Habiskan 5,5 Kg Durian
Durian murah, konsumen lokal senang
Ilustrasi durianDi tengah keterpurukan petani, banyak warga Malaysia justru menyambut penurunan harga ini dengan gembira.
Selama bertahun-tahun, permintaan dari China membuat harga durian melambung tinggi. Kini, warga dapat membeli durian berkualitas dengan harga jauh lebih terjangkau.
Pemandangan pasar malam di pinggiran Kuala Lumpur menggambarkan antusiasme tersebut. Aroma durian menyengat memenuhi udara, sedangkan deretan kios dipenuhi buah durian sebesar bola.
Pelanggan tampak menikmati daging buah yang lembut dan manis langsung di tempat.
Pemerintah Malaysia pun turun tangan. Sebagian durian yang tak terjual dibeli untuk membantu petani bertahan.
Dengan prediksi produksi nasional akan meningkat menjadi 590.000 ton pada tahun ini, para eksportir mulai melirik pasar alternatif seperti Taiwan dan Peru. Namun, skala pasar tersebut jauh lebih kecil dibandingkan China.
Stephen Chow, pemilik perkebunan durian Chow Kai Pheng Enterprise, memperkirakan kelebihan pasokan ini akan terus berlangsung dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
"Apa yang dialami Malaysia saat ini hanyalah sebuah gambaran awal," katanya.
Baca juga: Ketika Harga Kopi Dunia Naik gara-gara Durian...
Sumber: Kompas.com/Ahmad Naufal Dzulfaroh
Tag: #saat #malaysia #tsunami #durian #gara #gara #selera #warga #china #berubah