Ini Potensi Target Utama Trump jika Amerika Serang Iran Lagi
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memiliki sejumlah opsi untuk merespons gelombang protes besar yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir, mulai dari langkah diplomatik dan ekonomi, hingga opsi militer tertentu.
Trump terus-menerus mengancam penggunaan kekuatan militer, sembari menyampaikan kritik tajam terhadap kepemimpinan Iran.
Ancaman ini menguat seiring meningkatnya eskalasi di lapangan, seiring Iran yang tetap menjadi musuh lama AS sejak Revolusi 1979 menggulingkan shah pro-Barat.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Latihan Tembak di Selat Hormuz, Siap Perang Lawan AS?
Situasi tersebut memunculkan spekulasi luas: Jika Trump benar-benar memerintahkan serangan ke Iran, apa yang akan menjadi target utamanya?
Garda Revolusi diprediksi jadi target utama
Pasukan Garda Revolusi Iran.Sejumlah analis menilai, jika opsi militer dipilih, target paling mungkin adalah Garda Revolusi Iran (IRGC), pasukan elite yang dianggap berperan besar dalam penindasan demonstrasi di berbagai kota.
“Intervensi bisa meredakan ketakutan warga Iran dan memengaruhi mereka yang masih ragu untuk bergabung dengan protes atau tidak,” ujar Ray Takeyh dari Council on Foreign Relations dikutip dari kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).
Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Behnam Ben Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies menekankan pentingnya akurasi dalam penargetan.
“Tantangan serangan adalah memastikan efeknya memperkuat protes, bukan menakuti demonstran. Jika intelijen atau penargetan salah, dampaknya bisa sebaliknya,” katanya.
Pendapat senada disampaikan Sanam Vakil dari lembaga kajian Chatham House. Ia menyebutkan bahwa langkah Trump bisa memicu gelombang baru demonstrasi, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan oleh Pemerintah Iran.
“Ini juga bisa dimainkan oleh rezim yang paranoid dan justru membangun persatuan internal mereka, lalu mendorong penindasan yang lebih keras,” ujarnya.
Dibandingkan menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serangan ke IRGC atau fasilitas militernya dinilai sebagai opsi yang lebih realistis dan minim risiko eskalasi besar.
Baca juga: Pejabat Saudi dan Israel ke Washington, Bahas Opsi Serangan AS ke Iran
Gabungan tekanan ekonomi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) ditemani Menteri Luar Negeri Marco Rubio (kedua dari kiri) dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan) saat konferensi pers mengenai serangan AS di Venezuela, di Palm Beach, Florida, Sabtu (3/1/2026).Di luar opsi militer, AS telah lebih dulu menggunakan pendekatan ekonomi. Pemerintahan Trump menerapkan tarif 25 persen kepada mitra dagang Iran, dan membahas cara memulihkan akses internet yang sebelumnya diputus oleh Pemerintah Iran untuk membungkam protes.
Meski ketegangan meningkat, jalur komunikasi diplomatik tetap terbuka. Utusan khusus dari kedua negara masih terlibat dalam komunikasi, menunjukkan bahwa diplomasi tetap menjadi salah satu strategi yang dipertahankan AS.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Trump sempat memerintahkan serangan ke fasilitas nuklir Iran sebagai bagian dari dukungan terhadap kampanye militer Israel.
Reza Pahlavi, putra mahkota dari Shah Iran yang digulingkan pada 1979.Kini, Reza Pahlavi—putra mendiang shah Iran yang tinggal di pengasingan di AS—mendorong Trump agar tidak mengulangi sikap Presiden Barack Obama pada 2009, yang dianggap terlalu hati-hati dalam menyikapi protes serupa.
Namun, Vali Nasr, profesor dari Johns Hopkins School of Advanced International Studies, memperkirakan Trump tidak ingin terlalu dalam terlibat dalam krisis kali ini.
“Karena Trump tampaknya tidak ingin terlalu mengotori tangannya, serangan simbolis mungkin menjadi opsi yang lebih ia inginkan,” jelasnya.
Baca juga: 7 Skenario yang Terjadi Jika AS Benar-benar Serang Iran
Risiko jika AS tidak bertindak
Di sisi lain, keputusan untuk tidak melakukan serangan pun memiliki konsekuensi strategis.
Behnam Ben Taleblu mengingatkan, sikap pasif justru bisa memperkuat narasi Pemerintah Iran bahwa Amerika tak dapat diandalkan.
“Masalahnya adalah bagaimana memastikan serangan tidak membuat protes menyebar, melainkan memperkuatnya. Jika penargetan atau intelijen buruk, dampaknya bisa berbalik,” ucap Ben Taleblu.
Sejumlah tokoh oposisi Iran di luar negeri serta politisi garis keras Partai Republik juga menolak opsi diplomasi.
Mereka menilai jalur perundingan hanya akan menjadi "tali penyelamat" bagi pemerintahan Iran yang sedang tertekan.
Baca juga: Berpotensi Jadi Target Iran, Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Sumber: Kompas.com (Penulis: Inas Rifqia Lainufar | Editor: Inas Rifqia Lainufar)
Tag: #potensi #target #utama #trump #jika #amerika #serang #iran #lagi