Jerman, Spanyol, Italia, dan Polandia Mendesak Warganya Tinggalkan Iran di Tengah Protes dan Kekhawatiran Serangan AS
- Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Spanyol, Italia, dan Polandia, secara terbuka mengimbau warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran. Langkah ini diambil seiring memburuknya situasi keamanan di negara tersebut, di tengah gelombang demonstrasi pro dan anti-pemerintah, laporan penangkapan terhadap pengunjuk rasa, serta meningkatnya kekhawatiran akan potensi aksi militer Amerika Serikat (AS).
Dalam beberapa hari terakhir, kementerian luar negeri di sejumlah ibu kota Eropa memperbarui peringatan perjalanan ke Iran. Pemerintah menilai kondisi di negara tersebut semakin tidak stabil dan berisiko bagi warga asing, terutama di tengah eskalasi ketegangan politik domestik dan tekanan geopolitik yang kian tajam.
Dilansir dari Reuters, Kamis (15/1/2026), peringatan muncul ketika otoritas Iran berupaya meredam apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan domestik terburuk dalam sejarah Republik Islam Iran. Pada saat yang sama, Teheran juga menghadapi tekanan eksternal, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali menyampaikan ancaman kemungkinan intervensi militer jika kekerasan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut.
Italia menjadi salah satu negara yang paling tegas menyuarakan sikapnya. Pemerintah di Roma secara kuat memperbarui seruan agar seluruh warga negaranya meninggalkan Iran sesegera mungkin, dengan menilai situasi keamanan di negara tersebut berada dalam kondisi yang sulit diprediksi.
"Italia dengan tegas memperbarui imbauan kepada seluruh warganya untuk meninggalkan Iran mengingat situasi keamanan di negara tersebut," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Italia. Pemerintah menyebutkan terdapat sekitar 600 warga negara Italia di Iran, sebagian besar bermukim di wilayah Teheran.
Kekhawatiran Roma tidak hanya menyangkut keselamatan warga sipil. Pemerintah Italia juga menyoroti keberadaan militernya di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan Iran.
"Terdapat lebih dari 900 anggota Angkatan Bersenjata Italia di kawasan ini, termasuk sekitar 500 personel di Irak dan 400 di Kuwait, di mana langkah-langkah pencegahan sedang diterapkan untuk melindungi personel militer," kata kementerian tersebut.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, bahkan memimpin rapat koordinasi tingkat tinggi yang melibatkan para duta besar Italia, perwakilan Kementerian Pertahanan, serta badan intelijen. Dalam forum, Italia menegaskan kembali posisi politiknya terhadap situasi di Iran.
"Posisi Italia yang secara tegas mengecam penindasan kekerasan terhadap demonstrasi serta pelanggaran serius hak asasi manusia kembali ditegaskan," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Italia.
Spanyol juga mengambil langkah serupa. Kementerian Luar Negeri Spanyol meminta seluruh warganya yang masih berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut dengan memanfaatkan seluruh sarana transportasi yang tersedia. Madrid menilai ketidakstabilan tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan meluas secara nasional.
"Warga Spanyol yang berada di Iran direkomendasikan untuk meninggalkan negara tersebut dengan menggunakan sarana yang tersedia," kata Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam pembaruan imbauan perjalanannya.
Peringatan itu menambahkan, "Situasi tidak stabil di seluruh negeri. Berbagai sumber melaporkan adanya sejumlah kematian dan penangkapan terhadap para pengunjuk rasa."
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Polandia dan Jerman. Pemerintah Polandia mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran dan menyarankan agar seluruh perjalanan ke negara tersebut ditunda hingga situasi dinilai aman. Sementara itu, Jerman memperingatkan adanya risiko penahanan sewenang-wenang dan mendesak warga negaranya yang masih berada di Iran untuk segera keluar.
Rangkaian peringatan ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang lebih luas. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran, termasuk ancaman aksi militer apabila Iran mengeksekusi pengunjuk rasa anti-pemerintah dan para pemimpinnya. Meski demikian, Trump tidak merinci bentuk respons yang akan diambil Washington.
Di sisi lain, pemerintah Iran menepis kekhawatiran internasional tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pemerintah masih mengendalikan situasi keamanan.
"Setelah tiga hari operasi terorisme, kini situasi telah tenang. Kami sepenuhnya memegang kendali," ujar Araghchi dalam wawancara dengan program Special Report di Fox News.
Gelombang protes di Iran pecah sejak akhir Desember lalu, dipicu oleh merosotnya nilai mata uang nasional serta memburuknya kondisi ekonomi. Aksi yang semula berlangsung di Grand Bazaar Teheran kemudian menyebar ke sejumlah kota besar lainnya. Pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing dan menuduh para demonstran terlibat dalam apa yang mereka sebut sebagai "aksi teror."
Bagi negara-negara Eropa, kombinasi antara ketegangan internal Iran dan risiko konflik terbuka dengan Amerika Serikat menjadi dasar utama untuk mengutamakan keselamatan warganya. Imbauan meninggalkan Iran ini sekaligus mencerminkan kekhawatiran global bahwa krisis domestik di negara tersebut berpotensi berkembang menjadi ketegangan regional yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Tag: #jerman #spanyol #italia #polandia #mendesak #warganya #tinggalkan #iran #tengah #protes #kekhawatiran #serangan