Protes Berdarah di Iran Tewaskan 544 Orang, Sinyal Negosiasi Tehran-AS Muncul di Tengah Ancaman dan Pemadaman Informasi
- Gelombang protes nasional di Iran memasuki fase paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir, menempatkan Republik Islam itu di bawah sorotan tajam komunitas internasional.
Kelompok aktivis hak asasi manusia menyatakan sedikitnya 544 orang tewas dalam dua pekan demonstrasi yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan.
Eskalasi ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan geopolitik, ketika Amerika Serikat (AS) membuka kemungkinan dialog di tengah ancaman respons militer terhadap Tehran.
Korban Jiwa dan Skala Represi Negara
Lonjakan korban jiwa tersebut disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat. Lembaga ini mencatat 496 korban tewas merupakan demonstran, sementara 48 lainnya berasal dari unsur pasukan keamanan.
HRANA juga melaporkan lebih dari 10.600 orang ditahan sejak protes pecah, mencerminkan skala penindakan aparat negara terhadap gerakan yang terus meluas di berbagai kota.
Washington Timbang Tekanan dan Diplomasi
Dilansir dari Politico, Senin (12/1/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menghubungi Washington untuk membuka jalur perundingan.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, di saat Gedung Putih dan tim keamanan nasionalnya mempertimbangkan berbagai opsi respons, mulai dari serangan siber hingga kemungkinan serangan langsung oleh Amerika Serikat atau Israel.
"Militer sedang mengkaji situasi ini, dan kami mempertimbangkan sejumlah opsi yang sangat kuat," ujar Trump.
Menanggapi ancaman balasan dari Iran, ia menambahkan, "Jika mereka melakukan itu, kami akan menghantam mereka pada tingkat yang belum pernah mereka alami sebelumnya." Pernyataan ini menandai eskalasi retorika Washington seiring memburuknya situasi di dalam negeri Iran.
Meski demikian, Trump juga menegaskan adanya upaya diplomatik yang sedang disiapkan.
"Saya pikir mereka sudah lelah terus ditekan oleh Amerika Serikat. Iran ingin bernegosiasi," kata Trump. Ia menambahkan, "Pertemuan sedang disiapkan, tetapi kami mungkin harus bertindak lebih dulu karena apa yang sedang terjadi sebelum pertemuan itu."
Respons Resmi Tehran dan Doktrin Perlawanan Negara
Hingga berita ini disusun, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim pembukaan jalur dialog tersebut. Namun, sikap keras disampaikan secara terbuka melalui parlemen.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baagher Qalibaf, dalam pidato resminya memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi sasaran jika Washington menggunakan kekuatan militer mereka pada Iran.
"Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan dan seluruh pusat militer Amerika—pangkalan, kapal, dan instalasinya di kawasan—akan menjadi target sah kami," ujar Qalibaf.
Ia menegaskan Iran tidak akan menunggu diserang terlebih dahulu sebelum bereaksi. Pernyataan itu disambut teriakan "Matilah Amerika!" dari para anggota parlemen, menegaskan posisi konfrontatif negara.
Pemadaman Informasi dan Kekhawatiran Internasional
Sementara itu, di luar Iran, kekhawatiran meningkat seiring pemadaman internet nasional dan terputusnya jaringan telepon, yang membuat pemantauan situasi dari luar negeri semakin sulit.
Kondisi ini, menurut para aktivis, berpotensi memberi ruang bagi unsur garis keras dalam aparat keamanan untuk melancarkan penindakan lebih brutal tanpa pengawasan publik internasional. Kantor berita internasional menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen soal jumlah korban akibat keterbatasan akses.
Protes Meluas di Kota-Kota Besar
Selain itu, rekaman video yang beredar secara terbatas diduga dikirim melalui jaringan satelit menunjukkan demonstrasi berlanjut di Teheran dan Mashhad.
Di ibu kota, para demonstran terlihat mengangkat ponsel menyala dan memukul benda logam sebagai bentuk perlawanan simbolik, sementara di Mashhad terjadi konfrontasi langsung dengan aparat keamanan. Aksi serupa juga dilaporkan muncul di Kerman, wilayah tenggara Iran.
Dimensi Regional dan Reaksi Global
Secara geopolitik, situasi ini diawasi ketat oleh Israel. Seorang pejabat Israel menyatakan negaranya "mengamati dengan saksama" dinamika antara Washington dan Tehran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan dukungan moral kepada rakyat Iran.
"Rakyat Israel, dan seluruh dunia, menaruh hormat atas keberanian luar biasa warga Iran," ujarnya.
Di sisi lain, dari Eropa, Paus Leo XIV menyebut Iran sebagai salah satu wilayah "di mana ketegangan yang terus berlangsung masih merenggut banyak nyawa," seraya berharap dialog dan perdamaian dapat dibangun demi kepentingan bersama.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui juru bicaranya menyatakan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres "terkejut oleh laporan kekerasan terhadap demonstran," dan mendesak otoritas Iran untuk menahan diri serta memulihkan komunikasi publik.
Namun, di balik kecaman internasional tersebut, gelombang protes yang kini meluas berakar pada tekanan struktural yang telah lama menumpuk di dalam negeri.
Akar Krisis Ekonomi dan Politik
Protes ini bermula pada 28 Desember, dipicu runtuhnya nilai tukar rial Iran yang kini diperdagangkan di atas 1,4 juta rial per dolar AS. Krisis ekonomi yang diperparah oleh sanksi internasional terutama terkait program nuklir secara bertahap bergeser dari keluhan ekonomi menjadi tuntutan politik yang secara terbuka menantang fondasi sistem teokrasi Iran.
Dalam konteks inilah, eskalasi kekerasan negara dan respons keras parlemen dipandang bukan sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai bagian dari krisis yang saling terkait.
Dengan korban yang terus bertambah dan posisi negara yang kian mengeras, Iran kini berada di persimpangan genting: tekanan internasional, ancaman konfrontasi, dan peluang diplomasi berjalan beriringan, sementara tuntutan perubahan dari dalam negeri belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Tag: #protes #berdarah #iran #tewaskan #orang #sinyal #negosiasi #tehran #muncul #tengah #ancaman #pemadaman #informasi