20 Jet Tempur AS Bombardir ISIS di Suriah, Gempur 35 Target
- Pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya meluncurkan serangan besar-besaran terhadap kelompok ISIS di Suriah pada Sabtu (10/1/2026), sebagai respons atas serangan yang menewaskan tiga warga AS bulan lalu.
Serangan tersebut merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, yang diluncurkan menyusul aksi mematikan kelompok militan ISIS terhadap pasukan gabungan di Palmyra pada 13 Desember 2025.
“Serangan hari ini menargetkan ISIS di seluruh Suriah dan merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, yang diluncurkan sebagai tanggapan langsung terhadap serangan mematikan ISIS terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra,” tulis Komando Pusat AS (Centcom) dalam pernyataan di platform X, dikutip AFP, Minggu (11/1/2026).
Washington menyebut serangan bulan lalu dilakukan oleh seorang pria bersenjata tunggal dari kelompok ISIS, yang menewaskan dua tentara Amerika dan seorang penerjemah sipil.
Centcom menegaskan, tujuan dari serangan kali ini adalah untuk memerangi terorisme sekaligus melindungi keselamatan personel militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
“Pesan kami tetap tegas, jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan Anda dan membunuh Anda di mana pun di dunia, sekeras apa pun Anda mencoba menghindari keadilan,” tegas Centcom.
Dalam serangan Sabtu itu, lebih dari 90 amunisi presisi diarahkan ke lebih dari 35 target.
Operasi gabungan ini melibatkan lebih dari 20 pesawat tempur, termasuk F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9, serta F-16 milik Yordania.
Sebuah pesawat tanpa awak (drone) MQ-9 Reaper terbang dalam sebuah latihan misi di Pangkalan Udara Creech di Indian Springs, Nevada, Amerika Serikat (AS), pada 17 November 2015.Namun hingga kini, lokasi pasti serangan dan jumlah korban jiwa masih belum dapat dipastikan.
AS dan Yordania sebelumnya telah melancarkan beberapa serangan sebagai bagian dari operasi serupa pada Desember lalu.
Insiden di Palmyra menjadi serangan pertama terhadap pasukan AS sejak penggulingan Presiden Bashar Al Assad pada Desember 2024.
Adapun personel militer AS yang menjadi sasaran saat itu diketahui tengah mendukung Operasi Inherent Resolve, misi internasional untuk memberantas ISIS yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada 2014.
Meski kelompok tersebut telah dikalahkan oleh pasukan lokal dengan dukungan serangan udara internasional, sisa-sisa kekuatan ISIS masih bertahan di sejumlah wilayah gurun di Suriah.
Presiden AS Donald Trump sempat bersikap skeptis terhadap keberadaan pasukan negaranya di Suriah.
Ia bahkan sempat memerintahkan penarikan pasukan pada masa jabatan pertamanya, meski kemudian membiarkan sebagian pasukan tetap bertugas di negara tersebut.
Pada April 2025, Departemen Pertahanan AS mengumumkan rencana pengurangan jumlah pasukan hingga setengah dari total yang ada di Suriah.
Sementara itu, utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan pada Juni 2025 bahwa Washington akan memangkas jumlah pangkalan militer di negara itu, dan hanya mempertahankan satu pangkalan dalam waktu dekat.
Sumber: Kompas.com (Penulis: Ahmad Naufal Dzulfaroh | Editor: Ahmad Naufal Dzulfaroh)