3 Alasan Israel Akui Somaliland, Siasat untuk Relokasi Gaza?
Seorang pria memegang bendera Somaliland di depan monumen Peringatan Perang Hargeisa di Hargeisa pada 7 November 2024.(AFP/LUIS TATO)
07:18
29 Desember 2025

3 Alasan Israel Akui Somaliland, Siasat untuk Relokasi Gaza?

- Israel resmi menjadi negara pertama yang mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat. Pengakuan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Jumat (26/12/2025).

Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia sejak 1991, selama ini belum pernah diakui secara internasional sebagai negara merdeka.

Meski demikian, wilayah ini menjalankan pemerintahan sendiri dan memiliki sistem politik yang relatif stabil dibanding Somalia.

Pengakuan Israel terhadap Somaliland memicu respons beragam dari sejumlah pihak, mulai dari kecaman negara-negara di kawasan hingga spekulasi soal kepentingan strategis Israel di kawasan Tanduk Afrika.

1. Potensi relokasi warga Gaza

Pengungsi Palestina membawa barang-barang mereka menuju selatan, melewati jalan di kamp pengungsian Nuseirat di Gaza Tengah, setelah Israel memerintahkan evakuasi sebelum kembali menyerang pada Selasa (16/9/2025).AFP/EYAD BABA Pengungsi Palestina membawa barang-barang mereka menuju selatan, melewati jalan di kamp pengungsian Nuseirat di Gaza Tengah, setelah Israel memerintahkan evakuasi sebelum kembali menyerang pada Selasa (16/9/2025).Salah satu alasan di balik keputusan Israel disebut-sebut berkaitan dengan relokasi pengungsi dari Jalur Gaza.

Dalam beberapa bulan terakhir, Somaliland dikabarkan siap menjadi tujuan relokasi sementara bagi warga Gaza.

Bahkan, para pejabat Somaliland menyatakan kesediaan menampung hingga satu juta warga Palestina, meskipun belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan.

Langkah ini langsung ditolak oleh Otoritas Palestina (PA). Melalui akun resmi di platform X (sebelumnya Twitter), PA menyebut pengakuan terhadap Somaliland sebagai bagian dari skenario pengusiran paksa rakyat Palestina dari Gaza.

PA juga memperingatkan Somaliland agar tidak terlibat dalam rencana tersebut.

2. Kepentingan strategis di dekat Yaman

Warga Yaman memegang senjata sambil menaiki sepeda motor yang melindas gambar bendera Inggris di jalanan beraspal Ibu Kota Sana'a yang dikuasai Houthi, 29 Februari 2024.AFP/MOHAMMED HUWAIS Warga Yaman memegang senjata sambil menaiki sepeda motor yang melindas gambar bendera Inggris di jalanan beraspal Ibu Kota Sana'a yang dikuasai Houthi, 29 Februari 2024.Selain itu, lokasi geografis Somaliland yang dekat dengan wilayah kekuasaan kelompok Houthi di Yaman disebut menjadi alasan strategis lainnya bagi Israel.

Menurut laporan kantor berita AFP, pengaruh Israel di kawasan ini dapat memperkuat posisinya di wilayah Laut Merah, yang menjadi jalur perdagangan dan perairan strategis.

“Israel membutuhkan sekutu di kawasan Laut Merah karena banyak alasan strategis, di antaranya kemungkinan kampanye ke depan melawan Houthi,” demikian pernyataan dari Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) dalam makalah bulan lalu.

Laporan itu juga menyebut bahwa Mossad, badan intelijen Israel, telah membangun jaringan rahasia di Somaliland selama bertahun-tahun, termasuk menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting di wilayah tersebut.

Israel diketahui beberapa kali melancarkan serangan ke wilayah Yaman sebagai respons atas serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.

Namun, kelompok Houthi dilaporkan menghentikan serangannya setelah gencatan senjata Gaza yang rapuh diberlakukan pada Oktober 2025.

3. Upaya normalisasi baru Israel

Bendera Uni Emirat Arab yang kembali berkibar di gedung kedutaan besar di Damaskus, menandakan kembalinya hubungan diplomasi antara kedua negara, Kamis (27/12/2018).AFP PHOTO Bendera Uni Emirat Arab yang kembali berkibar di gedung kedutaan besar di Damaskus, menandakan kembalinya hubungan diplomasi antara kedua negara, Kamis (27/12/2018).Pengakuan terhadap Somaliland juga dilihat sebagai bagian dari upaya Israel memperluas hubungan diplomatik di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Sebelumnya, melalui Perjanjian Abraham yang dicapai pada masa kepemimpinan pertama Presiden AS Donald Trump pada 2020, Israel menormalisasi hubungan dengan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab dan Maroko.

Namun, eskalasi kekerasan di Gaza dalam beberapa tahun terakhir membuat proses normalisasi dengan negara-negara lain menjadi terhambat.

Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan, pengakuan terhadap Somaliland merupakan langkah awal menuju hubungan diplomatik penuh.

“Ini akan membuka jalan bagi kerja sama lebih lanjut, termasuk pembukaan kedutaan besar dan penunjukan duta besar,” ujar Saar, dikutip dari AFP.

Pihak Somaliland menyambut baik langkah tersebut. Menteri Luar Negeri Somaliland, Abdirahman Dahir Adam, menyebut pengakuan dari Israel sebagai tonggak sejarah bagi bangsanya.

“Ini adalah babak penting dalam perjalanan kami sebagai bangsa,” ucapnya.

Somaliland belum diakui internasional

Pemandangan Ibu Kota Hargeisa di Somaliland, wilayah yang memproklamirkan diri sebagai negara merdeka setelah melepaskan diri dari Somalia. Foto diambil pada 7 November 2024. Pada Jumat (26/12/2025), Israel mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat.AFP/LUIS TATO Pemandangan Ibu Kota Hargeisa di Somaliland, wilayah yang memproklamirkan diri sebagai negara merdeka setelah melepaskan diri dari Somalia. Foto diambil pada 7 November 2024. Pada Jumat (26/12/2025), Israel mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat.Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, setelah perang saudara memicu keruntuhan negara di kawasan Tanduk Afrika tersebut.

Meski berfungsi sebagai negara secara de facto, Somaliland hingga kini belum diakui secara internasional.

Taiwan menjadi satu-satunya pihak yang mengakui Somaliland, tetapi mereka bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lebih dari tiga juta orang tinggal di Somaliland, mayoritas beragama Islam.

Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdillahi, berulang kali menyampaikan bahwa pengakuan internasional adalah prioritas utama pemerintahannya.

Di sisi lain, Somalia masih mengklaim Somaliland sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.

Tak lama setelah pengumuman Israel, pemerintah Somalia, Mesir, Turkiye, dan Djibouti menyatakan penolakan terhadap pengakuan tersebut.

Keempat negara menegaskan dukungannya terhadap integritas wilayah Somalia dan memperingatkan potensi ancaman terhadap stabilitas kawasan.

“Setiap upaya untuk merusak persatuan dan kedaulatan Somalia akan menciptakan preseden berbahaya bagi perdamaian di seluruh Afrika,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Mesir.

Tag:  #alasan #israel #akui #somaliland #siasat #untuk #relokasi #gaza

KOMENTAR