Deteksi Dini Preeklamsia Jadi Kunci Keselamatan Ibu dan Bayi
Deteksi dini preeklamsia penting dilakukan untuk menangani komplikasi lebih cepat. (Dok. KMNC)(KMNC)
09:06
25 Januari 2026

Deteksi Dini Preeklamsia Jadi Kunci Keselamatan Ibu dan Bayi

– Preeklamsia masih menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang kerap ditakuti. Komplikasi preeklamsia dapat muncul tiba-tiba setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu dan berpotensi membahayakan ibu serta janin jika tidak terdeteksi sejak awal. 

Meski demikian, sebagian besar kasus preeklamsia dapat dikendalikan melalui pemantauan yang tepat, pemeriksaan rutin, dan edukasi yang baik kepada ibu hamil.

Sejumlah klinik maternal telah menerapkan pendekatan berbasis deteksi dini dan tata laksana komprehensif untuk meminimalkan risiko komplikasi tersebut. Salah satunya adalah klinik KMNC (Kosambi Maternal & Children).  

Mengapa preeklamsia perlu diwaspadai?

KMNC Infografis tentang preeklamsia (Dok. KMNC)

Preeklamsia umumnya ditandai dengan gejala, seperti tekanan darah tinggi dan muncul protein dalam urine. Selain dua gejala itu, kondisi ini juga ditandai dengan pembengkakan tangan atau kaki, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, dan nyeri ulu hati.

Jika tidak segera ditangani, preeklamsia dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain, seperti gangguan aliran darah ke janin, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, kejang, serta gangguan fungsi ginjal dan hati pada ibu. 

Meminimalkan risiko preeklamsia

Pemeriksaan rutin menjadi kunci utama dalam mengendalikan komplikasi preeklamsia yang sering kali muncul tanpa gejala awal yang jelas. Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan untuk mencegah atau mendeteksi preeklamsia sejak dini. 

1. Skrining risiko pada pemeriksaan kehamilan pertama

Untuk mencegah risiko preeklamsia, ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan yang mencakup riwayat kesehatan lengkap, riwayat hipertensi, diabetes, atau preeklamsia sebelumnya, pemeriksaan urine dan tekanan darah, USG Skrining Trimester 1, serta pemeriksaan lab PLGF (Placental Growth Factor). 

Dengan melakukan skrining tersebut, dokter dapat menilai apakah ibu termasuk dalam kelompok risiko tinggi atau tidak.

2. Pemeriksaan tekanan darah dan urine secara berkala

Tekanan darah yang meningkat perlahan sering tidak disadari. Oleh karena itu, setiap kunjungan Antenatal Care (ANC), sangat penting untuk memantau perubahan kecil yang berpotensi menjadi awal kemunculan preeklamsia.  

3. Edukasi mengenai gejala berbahaya

Ibu hamil perlu memahami beberapa gejala preeklamsia yang perlu diwaspadai, seperti sakit kepala menetap, penglihatan kabur, atau pembengkakan mendadak. Pengetahuan mengenai gejala tersebut memungkinkan ibu hamil untuk mencari pertolongan lebih cepat. 

4. Pola hidup sehat

Kebiasaan sederhana dapat berperan besar dalam menjaga stabilitas tekanan darah. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk menjaga pola hidup sehat. Sejumlah kebiasaan yang perlu dilakukan antara lain adalah istirahat yang cukup, jaga pola makan seimbang, manajemen stress, serta menghindari konsumsi garam berlebihan. 

Peran klinik dan tenaga kesehatan dalam penanganan preeklamsia

Fasilitas kesehatan seperti KMNC (Kosambi Maternal & Children) melakukan pendekatan penanganan preeklamsia secara komprehensif, mulai dari pencegahan hingga penatalaksanaan ketika kondisi telah terdiagnosis. 

Salah satu dokter yang aktif mengembangkan protokol skrining dan penanganan preeklamsia adalah dokter spesialis kandungan KMNC dr Adly Nanda Al Fattah, SpOG, yang melakukan penelitian terkait pola risiko preeklamsia pada pasien klinik. 

Pendekatan berbasis data dan kajian ilmiah tersebut membantu dokter dalam menangani ibu hamil risiko tinggi secara lebih tepat dan terukur.

Adapun pendekatan yang umum diterapkan meliputi monitoring tekanan darah yang ketat, pemberian obat antihipertensi bila diperlukan, USG serial untuk memantau pertumbuhan janin, evaluasi kondisi plasenta, dan perencanaan persalinan yang aman dan tepat waktu

Jika kondisi ibu membutuhkan perawatan lebih lanjut, fasilitas kesehatan akan melakukan rujukan ke rumah sakit dengan peralatan lebih lengkap.

Deteksi dini penting dilakukan

Kondisi preeklamsia yang semakin cepat diketahui dapat memperbesar peluang untuk mengendalikan komplikasi ini. Banyak ibu dengan preeklampsia ringan dapat menjalani kehamilan hingga waktu persalinan yang aman selama pemantauan dilakukan secara intensif dan teratur.

Di sinilah peran kunjungan ANC tidak bisa digantikan, baik untuk ibu hamil dengan risiko rendah maupun tinggi.

Mengenal KMNC sebagai fasilitas kesehatan ibu dan anak

KMNC (Kosambi Maternal and Children) merupakan klinik yang fokus pada layanan kehamilan dan kesehatan anak. 

Dengan dokter kebidanan dan kandungan yang berpengalaman, termasuk dr Adly Nanda Al Fattah, SpOG, KMNC menerapkan pemantauan risiko kehamilan secara terstruktur. Salah satunya adalah skrining preeklamsia.

Klinik cabang KMNC dapat ditemukan di Graha Raya, Haji Nawi, BSD, Green Lake, Rawamangun, Depok, Jatiwaringin (Khusus Anak), dan Antasari. Dengan demikian, ibu hamil mudah mendapatkan layanan pemeriksaan kehamilan yang rutin dan berkelanjutan.

Preeklamsia bukanlah kondisi yang dapat disepelekan. Meski demikian, preeklamsia dapat dikendalikan melalui deteksi dini, pemantauan tekanan darah secara rutin, edukasi yang tepat, serta dukungan tenaga medis yang berpengalaman. 

Jika Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, pastikan untuk melakukan pemeriksaan berkala di fasilitas kesehatan yang memiliki layanan monitoring kehamilan terpadu.

Untuk informasi mengenai layanan pemeriksaan kehamilan, edukasi ibu hamil, atau konsultasi dengan dokter spesialis, Anda dapat menghubungi KMNC melalui WhatsApp di 0811-1028-232 atau mengunjungi kmnc.co.id. 

Tag:  #deteksi #dini #preeklamsia #jadi #kunci #keselamatan #bayi

KOMENTAR