Mainan hingga Cat Tembok, Ini Sumber Paparan Timbal yang Berbahaya
Ilustrasi mengecat rumah(The Garden Granny)
18:12
22 Januari 2026

Mainan hingga Cat Tembok, Ini Sumber Paparan Timbal yang Berbahaya

– Paparan timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak di Indonesia. 

Zat beracun ini dapat masuk ke tubuh melalui berbagai sumber yang sering kali dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan rumah, peralatan dapur, hingga produk yang digunakan anak dan orangtua. 

Tanpa disadari, paparan tersebut dapat terjadi secara terus-menerus dan menumpuk dalam tubuh anak.

Hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) pada anak di Indonesia menunjukkan bahwa sumber paparan timbal tidak hanya berasal dari lingkungan industri, tetapi juga dari benda-benda yang umum ditemukan di rumah. 

Karena sifatnya yang kronis dan sering tidak menimbulkan gejala langsung, identifikasi sumber paparan menjadi langkah penting untuk melindungi anak dari dampak jangka panjang.

Adapun sejumlah sumber paparan timbal yang berisiko bagi tumbuh kembang anak berdasarkan hasil SKTD dan keterangan para ahli.

6 Sumber paparan timbal yang membahayakan anak

1. Cat rumah

Cat masih menjadi sumber paparan timbal yang paling dominan. Di Indonesia, masih ditemukan cat yang mengandung timbal dalam kadar tinggi, terutama pada cat lama atau cat dengan kualitas yang tidak terstandarisasi.

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr. Wahyu Pudji Nugraheni menjelaskan, paparan timbal dari cat tidak hanya terjadi melalui serpihan cat yang terkelupas, tetapi juga bisa dibawa oleh orangtua dari tempat kerja ke rumah.

“Orangtua yang bekerja di pabrik cat, ketika pulang ke rumah tidak mengganti baju atau membersihkan diri, maka kandungan timbalnya akan terpapar ke anak dan istri,” ujarnya dalam pemaparan hasil SKTD dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Dari hasil surveilans tersebut, cat menjadi sumber paparan terbanyak. Sekitar 73 persen dari total 1.617 anak yang menjadi subjek penelitian teridentifikasi memiliki risiko paparan timbal yang berkaitan dengan penggunaan atau keberadaan cat di lingkungan tempat tinggal mereka. 

2. Alat masak

Alat masak juga menjadi salah satu sumber paparan timbal yang perlu diwaspadai. 

Beberapa peralatan dapur, khususnya yang terbuat dari bahan logam tertentu atau memiliki lapisan cat, berpotensi melepaskan timbal ke dalam makanan.

Wahyu menyarankan agar masyarakat mulai beralih ke peralatan masak yang lebih aman dan tanpa dekorasi cat yang berlebih pada alat masak.

“Alat masak sekarang disarankan untuk mengganti aluminium dengan misalnya stainless atau keramik. Kemudian hindari alat masak yang ada dekorasi catnya, karena cat tersebut bisa memaparkan timbal ke makanan,” ujarnya.

Paparan timbal dari alat masak terjadi ketika logam berat tersebut larut ke dalam makanan, terutama pada proses memasak dengan suhu tinggi atau pada makanan yang bersifat asam. 

Jika dikonsumsi terus-menerus, timbal akan menumpuk di dalam tubuh anak melalui makanan yang mereka konsumsi setiap hari.

3. Limbah accu bekas

Direktur Kesehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Then Suyanti, MM, menyoroti bahaya limbah accu bekas sebagai sumber paparan timbal.

“Permasalahan limbah accu bekas yang dibakar itu juga bisa menyebarkan kadar timbal lewat udara dan ini bisa bahaya jika dihirup anak,” kata Then.

(Kiri ke kanan) Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Dr. dr. Then Suyanti, MM, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, Ketua KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA (Kiri ke kanan) Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Dr. dr. Then Suyanti, MM, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, Ketua KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Proses pembakaran accu bekas melepaskan partikel timbal ke udara. Partikel ini dapat terhirup langsung oleh anak atau mengendap di tanah dan permukaan benda di sekitar rumah. 

Dalam jangka panjang, paparan melalui udara menjadi salah satu jalur masuk timbal yang paling berbahaya karena langsung masuk ke sistem pernapasan.

4. Kosmetik

Produk kosmetik juga berpotensi menjadi sumber paparan timbal, terutama bagi anak yang sering berdekatan dengan ibunya. 

Kandungan timbal pada beberapa kosmetik dapat terhirup atau berpindah melalui kontak fisik.

“Di beberapa produk kosmetik juga ditemukan kadar timbal, maka ketika ibu ingin cium-cium atau berdekatan dengan anak, bisa saja anak tersebut menghirup timbal yang ada di kosmetik ibu,” jelas Then.

Paparan timbal dari kosmetik memang terlihat kecil, tetapi jika terjadi secara rutin, dampaknya dapat terakumulasi dalam tubuh anak.

5. Mainan anak

Epidemiolog dari Vital Strategies, Edwin Siswono mengatakan, timbal biasanya ditemukan pada cat atau pewarna yang digunakan dalam mainan anak.

“Di mainan itu umumnya adalah pada cat polarisnya. Makanya disarankan untuk menggunakan produk-produk, khususnya mainan, yang sudah berlisensi SNI,” terangnya.

Mainan yang dicat dengan bahan berbahaya dapat melepaskan partikel timbal ketika terkelupas atau ketika anak memasukkannya ke dalam mulut. 

6. Udara, air, dan tanah yang terkontaminasi timbal

Lingkungan sekitar tempat tinggal juga berperan besar dalam paparan timbal. Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia, Budi Susilorini menegaskan, lokasi bengkel dan aktivitas bongkar pasang accu menjadi salah satu sumber kontaminasi.

“Lokasi tempat bengkel juga jadi sumber paparan timbal, karena terjadi aktivitas bongkar pasang accu. Maka, ini bisa bahaya dan timbal itu sifatnya tinggal, bisa saja terhirup debunya atau tertinggal di tanah,” tutur dia.

Debu timbal yang mengendap di tanah dapat masuk ke tubuh anak melalui tangan yang kotor, mainan yang jatuh ke tanah, atau udara yang terhirup. 

Selain itu, air yang tercemar timbal juga berpotensi menjadi jalur masuk zat beracun ini ke dalam tubuh.

Maka dari itu, pencegahan tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kesadaran orangtua untuk memilih produk yang aman, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperhatikan kondisi rumah. 

Di sisi lain, pengawasan pemerintah terhadap produk dan aktivitas yang berpotensi menyebarkan timbal juga menjadi kunci untuk melindungi tumbuh kembang anak dari ancaman logam berat yang berbahaya ini.

Tag:  #mainan #hingga #tembok #sumber #paparan #timbal #yang #berbahaya

KOMENTAR