Virus Nipah Kembali Merebak di India, Ini Gejala dan Cara Penularannya
Wabah virus Nipah kembali menjadi perhatian global setelah India melaporkan sejumlah kasus infeksi dan ratusan orang harus menjalani karantina.
Situasi ini mendorong negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan pemeriksaan kesehatan di bandara dan perbatasan.
Otoritas kesehatan menilai virus Nipah sebagai ancaman serius karena tingkat kematian yang tinggi serta belum tersedianya vaksin maupun pengobatan khusus.
Kasus terbaru di India
Melansir Global Times, India melaporkan sedikitnya lima kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat, dengan hampir 100 orang dikarantina untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Sebagian pasien diketahui merupakan tenaga kesehatan yang tertular saat menangani pasien di fasilitas medis.
Merespons situasi tersebut, Thailand mulai melakukan skrining kesehatan terhadap penumpang pesawat yang datang dari wilayah terdampak di India.
Kementerian Kesehatan Thailand juga membagikan Health Beware Card yang berisi peringatan gejala dan imbauan untuk segera mencari pertolongan medis jika muncul keluhan tertentu.
Selain Thailand, Nepal turut meningkatkan kewaspadaan nasional dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara internasional dan pos lintas batas darat dengan India.
Apa itu virus nipah?
Penampakan partikel virus Nipah (biru) yang berada di pinggiran sel VERO yang terinfeksi (ungu). Gambar diambil dan ditingkatkan warnanya di NIAID Integrated Research Facility di Fort Detrick, Maryland. Penularan virus Nipah dari hewan ke manusia, dan 40 persen penularan dari manusia ke manusia. Munculnya kembali kasus virus Nipah di India mendorong sejumlah negara tetangga memperketat pengawasan kesehatan karena penyakit ini memiliki tingkat kematian tinggi dan belum memiliki vaksin.
Melansir laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI, Kamis (5/10/2023), virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an di Malaysia, terkait wabah pada peternakan babi.
World Health Organization (WHO) mencatat bahwa reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.
Virus ini dapat berpindah dari kelelawar ke hewan lain, seperti babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia.
Perubahan lingkungan, termasuk penebangan hutan, membuat kelelawar semakin dekat dengan pemukiman dan peternakan, sehingga meningkatkan risiko penularan ke manusia.
Cara penularan virus nipah
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, atau urine.
Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, termasuk daging hewan yang dimasak kurang matang.
Selain dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan pasien, terutama melalui cairan tubuh.
The Independent melaporkan bahwa penularan antarmanusia telah terjadi dalam sejumlah wabah sebelumnya, khususnya di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.
Gejala infeksi virus nipah
Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari sebelum gejala muncul. Gejala awal umumnya menyerupai flu, seperti:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Batuk
- Sakit tenggorokan
Dalam kasus yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak napas, muntah, kesulitan menelan, hingga peradangan otak atau ensefalitis.
WHO, sebagaimana dikutip dari The Independent, menyebutkan bahwa ensefalitis merupakan komplikasi paling serius dan dapat berujung pada kematian.
Mengapa virus nipah dianggap sangat berbahaya?
WHO mengklasifikasikan virus Nipah sebagai priority pathogen karena potensi wabahnya dan tingkat kematian yang tinggi.
The Independent melaporkan bahwa tingkat fatalitas virus Nipah dalam berbagai wabah sebelumnya berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin atau pengobatan antivirus khusus untuk infeksi virus Nipah.
Perawatan pasien masih bersifat suportif, dengan fokus menangani gejala dan komplikasi yang muncul.
Upaya pencegahan yang dianjurkan
Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko menjadi sumber penularan, seperti kelelawar dan babi.
Masyarakat juga dianjurkan mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi serta memastikan daging dimasak hingga matang.
Penggunaan alat pelindung diri saat menangani hewan atau membersihkan kotorannya menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit juga ditekankan sebagai langkah pencegahan dasar.
Kewaspadaan tetap diperlukan
Meski hingga kini belum ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI mengingatkan pentingnya kewaspadaan.
Pengalaman wabah di negara lain menunjukkan bahwa virus Nipah dapat menyebar dengan cepat bila tidak diantisipasi sejak dini.
Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala, mengikuti informasi resmi otoritas kesehatan, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan yang mengarah pada infeksi serius.
Tag: #virus #nipah #kembali #merebak #india #gejala #cara #penularannya