BI Rate Tetap 4,75 Persen, Saatnya Masyarakat Menggeliat
KABAR “BI Rate tetap 4,75 persen” terdengar datar, bahkan nyaris rutin. Namun, justru di balik ketenangan kebijakan itulah tersimpan pertanyaan penting: apakah masyarakat akan tetap diam, atau mulai menggeliat memanfaatkan ruang stabilitas yang tersedia.
Ketika Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Januari 2026, pesan utamanya bukan sekadar menjaga inflasi dan menahan gejolak nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Kebijakan ini adalah sinyal bahwa fondasi makro sedang dijaga agar ekonomi tidak tergelincir oleh tekanan eksternal.
Stabilitas ini bukan ajakan untuk bersantai, melainkan undangan untuk bergerak lebih rasional dan terukur.
Dalam kerangka inflation targeting, suku bunga yang stabil berfungsi sebagai jangkar ekspektasi agar pelaku ekonomi tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas global.
Pada titik ini, masyarakat berada di persimpangan mikro: menunggu kepastian yang sempurna, atau mulai menata ulang keputusan finansial sehari-hari dengan kesadaran baru.
Secara konseptual, suku bunga acuan yang ditahan mencerminkan upaya bank sentral menyeimbangkan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi melalui mekanisme transmisi moneter.
Dalam pendekatan Keynesian, stabilitas ini mengurangi ketidakpastian sehingga rumah tangga dan pelaku usaha dapat merencanakan konsumsi serta investasi dengan lebih tenang.
Namun, stabilitas bukanlah hadiah berupa cicilan yang otomatis ringan atau kredit yang tiba-tiba murah. Stabilitas adalah ruang bergerak, yang manfaatnya hanya terasa jika diisi dengan keputusan yang tepat.
Tanpa perubahan perilaku, stabilitas akan berlalu sebagai angka statistik, bukan sebagai pijakan peningkatan kualitas hidup.
Dalam ekonomi perilaku, ekspektasi sering kali lebih menentukan daripada realitas angka. Ketika situasi terasa “aman”, kecenderungan untuk lengah justru meningkat.
Teori bounded rationality menjelaskan bahwa individu kerap mengambil keputusan finansial berdasarkan kenyamanan jangka pendek, bukan kalkulasi jangka panjang. Di sinilah stabilitas moneter perlu dibaca sebagai sinyal kewaspadaan, bukan alasan menunda penyesuaian.
Pada fase inilah stabilitas suku bunga mulai menyentuh wilayah perilaku. Bukan dalam bentuk euforia konsumsi atau lonjakan kredit, melainkan kegelisahan kecil yang sehat—tanda awal masyarakat mulai menggeliat.
Geraknya tidak dramatis, sering kali nyaris tak terlihat, tetapi penting: muncul kesadaran bahwa ketenangan makro harus dijawab dengan penataan mikro.
Penyesuaian ini hadir dalam keputusan-keputusan sederhana, tapi menentukan: meninjau ulang rasio cicilan terhadap pendapatan, membangun cadangan kas, serta membedakan kebutuhan produktif dari konsumtif.
Di sinilah fondasi ketahanan ekonomi rumah tangga dibangun, bukan melalui lonjakan sesaat, melainkan lewat disiplin yang konsisten.
Utang: dari beban konsumtif ke alat produktif
Dalam teori life-cycle, utang memiliki fungsi ekonomi yang sah, yakni membantu rumah tangga meratakan konsumsi sepanjang hidup.
Kredit perumahan, pendidikan, atau modal usaha dapat meningkatkan kesejahteraan jika selaras dengan pendapatan masa depan.
Masalah muncul ketika utang bergeser menjadi alat menutup gaya hidup, bukan meningkatkan kapasitas produktif.
Konsep financial fragility menjelaskan bagaimana utang konsumtif berlebihan membuat rumah tangga rentan terhadap guncangan kecil, seperti kenaikan harga pangan atau penurunan pendapatan.
BI Rate 4,75 persen yang stabil kerap disalahartikan sebagai sinyal bahwa utang “masih aman”. Padahal, faktor penentunya bukan sekadar tingkat bunga, melainkan rasio cicilan terhadap pendapatan dan disiplin anggaran.
Teori debt overhang menunjukkan bahwa beban utang yang terlalu besar justru menekan keberanian mengambil peluang produktif karena pendapatan masa depan telah terkunci untuk membayar masa lalu.
Stabilnya suku bunga juga berkaitan erat dengan upaya menjaga inflasi agar tidak menggerus daya beli. Dalam teori precautionary saving, ketidakpastian mendorong rumah tangga rasional membangun bantalan keuangan sebagai perlindungan.
Namun dalam praktik, banyak keluarga menabung hanya jika ada sisa. Padahal, pendekatan pay yourself first menempatkan tabungan sebagai prioritas, bukan residu dari belanja.
Dana darurat tiga hingga enam bulan pengeluaran merupakan bentuk manajemen risiko paling sederhana, tetapi paling efektif.
Investasi produktif pun tidak selalu berarti instrumen rumit. Dalam perspektif human capital, investasi pada keterampilan, pendidikan, dan adopsi teknologi sederhana sering kali memberikan imbal hasil yang lebih nyata bagi rumah tangga dan usaha kecil dibanding spekulasi jangka pendek.
UMKM dan peran konsumen
Bagi UMKM, stabilitas BI Rate adalah prasyarat penting, tetapi tidak cukup. Teori credit rationing menjelaskan bahwa perbankan tidak hanya mempertimbangkan suku bunga, melainkan juga risiko dan kualitas usaha.
Pembukuan yang rapi, arus kas yang disiplin, serta model bisnis yang jelas menjadi kunci agar kredit benar-benar menopang pertumbuhan.
Dalam kerangka value chain, perbaikan kecil pada proses—kemasan, distribusi, digitalisasi—sering kali menghasilkan nilai tambah signifikan. Kredit tanpa pembenahan fondasi hanya memindahkan masalah dari kekurangan modal menjadi kelebihan cicilan.
Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen memiliki peran strategis melalui local multiplier effect. Memilih produk lokal yang berkualitas berarti memperkuat pendapatan UMKM sekaligus menurunkan risiko gagal bayar dalam sistem keuangan.
BI Rate 4,75 persen menandai bahwa kebijakan moneter telah bekerja menjaga keseimbangan makro. Namun, pengalaman menunjukkan, stabilitas kebijakan tidak otomatis menjelma ketangguhan di tingkat rumah tangga dan usaha kecil.
Di antara keduanya, terdapat ruang keputusan yang hanya bisa diisi oleh masyarakat sendiri.
Menggeliat, dalam konteks ini, bukan tentang lompatan besar atau optimisme berlebihan, melainkan keberanian mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten: mengelola utang secara produktif, menjadikan tabungan sebagai perisai, dan mengarahkan investasi pada peningkatan kapasitas.
Suku bunga telah stabil. Ruang kebijakan telah tersedia. Kini, maknanya ditentukan oleh bagaimana ruang itu diisi—apakah dibiarkan berlalu, atau dimanfaatkan untuk membangun ekonomi yang lebih tangguh dari bawah.