4 Dampak Paparan Timbal pada Anak, Gangguan Saraf hingga Penurunan IQ
ilustrasi asap knalpot(pxhere.com)
20:18
21 Januari 2026

4 Dampak Paparan Timbal pada Anak, Gangguan Saraf hingga Penurunan IQ

– Paparan timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Zat beracun ini dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, deteksi dini dan identifikasi sumber paparan timbal menjadi langkah penting untuk melindungi anak dari dampak yang lebih berat. 

Berikut ini adalah sejumlah dampak utama paparan timbal pada kesehatan anak yang perlu diwaspadai.

Dampak paparan timbal pada kesehatan anak

1. Keterlambatan tumbuh kembang

(Kiri ke kanan) Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Dr. dr. Then Suyanti, MM, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, Ketua KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA (Kiri ke kanan) Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Dr. dr. Then Suyanti, MM, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, Ketua KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Paparan timbal dapat menghambat berbagai aspek tumbuh kembang anak, baik secara fisik, kognitif, maupun perilaku. 

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, menegaskan bahwa tidak ada kadar timbal yang bisa dianggap aman bagi anak.

“Dampaknya baru bisa dilihat jangka panjang dan tidak ada kadar timbal yang aman untuk anak. Namun, dampaknya bisa menghambat perkembangan kognitif, gizi, perilaku dan potensi anak di masa depan,” ujarnya dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) pada anak di Indonesia dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Keterlambatan tumbuh kembang ini tidak hanya terbatas pada kemampuan berpikir dan belajar, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan motorik anak. 

Dalam beberapa kasus, paparan timbal berkontribusi terhadap munculnya gangguan fisik, gangguan pendengaran, serta keterlambatan bicara. 

Kondisi tersebut dapat menghambat kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial.

Dampak ini sering kali baru terlihat setelah anak bertambah usia. Itulah sebabnya paparan timbal menjadi ancaman yang tersembunyi, karena orangtua sering tidak menyadari bahwa keterlambatan perkembangan yang dialami anak berkaitan dengan paparan zat beracun tersebut.

2. Gangguan pada otak dan sistem saraf

Timbal merupakan zat neurotoksik yang secara langsung menyerang sistem saraf. Pada anak, otak yang masih dalam tahap perkembangan menjadi sangat rentan terhadap efek racun ini. 

Paparan timbal dalam kadar tinggi dapat memicu gangguan fungsi otak dan saraf pusat.

Dalam kondisi tertentu, anak dapat menunjukkan perubahan perilaku seperti hiperaktivitas dan agresivitas. 

Hal ini berkaitan dengan terganggunya kerja sistem saraf yang mengatur emosi dan kontrol diri. Anak juga bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah gelisah, serta mengalami gangguan tidur.

Pada paparan yang lebih berat, timbal dapat memicu kejang hingga koma. Meski kasus seperti ini tidak selalu terjadi, risiko tersebut menunjukkan betapa seriusnya ancaman timbal bagi kesehatan anak. 

Kerusakan saraf akibat timbal juga bersifat permanen, sehingga pemulihan secara total sangat sulit dilakukan.

3. Menurunkan IQ anak

Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Then Suyanti, MM menjelaskan, timbal berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir anak.

“Salah satu efeknya bisa menurunkan IQ karena kemampuan anak dalam berpikir juga ikut terhambat karena tumbuh kembangnya terhambat,” kata Then.

Anak yang terpapar timbal berpotensi mengalami keterbatasan dalam pendidikan dan produktivitas ketika dewasa. 

4. Masalah kesehatan serius lainnya

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes dalam Pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes menjelaskan, kadar timbal yang berlebih memiliki kaitan dengan sejumlah penyakit.

“Dampak kesehatan dari kadar timbal berlebih itu bisa memicu anemia, stunting, yang berujung pada penghambatan tumbuh kembangnya,” ujarnya.

Anemia terjadi karena timbal mengganggu proses pembentukan sel darah merah. Sementara itu, stunting mencerminkan terganggunya pertumbuhan fisik anak akibat kombinasi antara paparan zat berbahaya dan kekurangan gizi. 

Kedua kondisi ini sama-sama berdampak pada kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

Selain itu, paparan timbal juga dapat memicu gangguan ginjal hingga gangguan sistem imun.

Pemeriksaan kadar timbal dalam darah serta identifikasi sumber paparan di lingkungan rumah dan sekitar anak sangat penting dilakukan. 

Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko dampak permanen akibat paparan timbal dapat diminimalkan, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi tumbuh kembang anak Indonesia.

Tag:  #dampak #paparan #timbal #pada #anak #gangguan #saraf #hingga #penurunan

KOMENTAR