5 Tanda Demensia pada Lansia yang Sering Diabaikan, Waspadai!
– Perubahan daya ingat dan kemampuan berpikir kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses menua. Padahal, tidak semua perubahan kognitif bisa dimaklumi begitu saja.
Beberapa di antaranya justru dapat menjadi tanda awal demensia, kondisi yang ditandai dengan penurunan fungsi otak hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis neurologi perilaku dan demensia di Mayo Clinic Florida, Dr. Gregory Day menjelaskan, demensia terjadi ketika adanya perubahan memori yang mengganggu aktivitas.
“Ketika seseorang demensia, ada perubahan pada memori dan cara berpikir yang berbeda dari sebelumnya, dan perubahan itu sampai mengganggu kehidupan sehari-hari,” jelasnya, seperti dilansir Huff Post, Selasa (20/1/2026).
Maka dari itu, penting bagi keluarga dan lansia sendiri untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Menurut riset terbaru, sekitar 42 persen orang dewasa di atas usia 55 tahun berpotensi mengalami demensia dalam hidupnya.
Dengan deteksi lebih awal, seseorang dapat lebih siap secara mental, emosional, dan medis untuk memperlambat progresivitas penyakit. Berikut lima tanda demensia yang sering diabaikan pada lansia.
Tanda demensia yang sering diabaikan
1. Mudah lupa
Lupa sesaat, seperti lupa menaruh kunci atau lupa kata tertentu, masih tergolong wajar. Namun, jika seseorang sering melupakan percakapan yang baru saja terjadi atau terus mengulang pertanyaan yang sama, kondisi ini perlu diwaspadai.
Menurut Dr. Stephanie Nothelle, dokter geriatri dari Johns Hopkins School of Medicine, tanda awal yang sering diabaikan yaitu ketika seseorang lupa aktivitas yang baru beberapa jam lalu ia lakukan.
“Bentuknya seperti berbincang dengan seseorang lalu beberapa jam kemudian tidak lagi mengingat detail pembicaraan tersebut,” ungkap dia.
Dr. Jori Fleisher selaku Profesor Neurologi dari Rush University menambahkan, penderita juga kerap mengulang cerita yang sama tanpa menyadarinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala ini bisa muncul berupa salah minum obat, lupa jadwal janji temu, atau tersesat di rute yang sebenarnya sudah sangat dikenal.
2. Kesulitan merencanakan dan menyusun tugas
Demensia juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir terstruktur atau fungsi eksekutif otak. Nothelle menyebutnya sebagai bagian otak yang mengatur perencanaan.
Tugas kompleks seperti menyiapkan acara keluarga, mengatur menu, berbelanja, hingga mengelola waktu bisa terasa sangat membingungkan.
Jika sebelumnya seseorang mampu melakukannya dengan lancar, lalu tiba-tiba menjadi sangat kewalahan, ini bisa menjadi sinyal gangguan kognitif.
Perubahan ini sering kali dianggap hanya sebagai kelelahan atau stres, padahal bisa menjadi tanda awal masalah yang lebih serius.
3. Perubahan kepribadian dan emosi
Perubahan sikap yang drastis juga patut diperhatikan. Seseorang yang sebelumnya ramah bisa menjadi lebih tertutup, atau sebaliknya menjadi impulsif dan mudah marah.
“Ini bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, tetapi refleksi dari perubahan halus yang terjadi di otak,” kata Nothelle.
Sering kali keluarga menganggapnya sebagai bagian dari proses penuaan atau sifat orang tua yang mulai sensitif. Padahal, perubahan ini bisa menjadi gejala awal demensia.
4. Sulit menemukan kata yang tepat
Kesulitan menemukan kata sesekali masih normal. Namun, Day menegaskan, bila hal ini terjadi setiap hari dan sampai mengganggu alur percakapan, maka perlu evaluasi lebih lanjut.
“Ketika gangguan ini konsisten dan mulai menghambat komunikasi, itu menandakan adanya masalah kognitif yang lebih menonjol,” terang dia.
Penderita bisa tampak terhenti di tengah kalimat, bingung menyebut nama benda sederhana, atau mengganti kata dengan penjelasan panjang karena lupa istilah yang tepat.
5. Rentan terhadap penipuan finansial
Salah satu tanda yang paling sering diabaikan adalah meningkatnya kerentanan terhadap penipuan.
“Pasien dengan demensia memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban penipuan, dan para pelaku tahu hal itu,” kata Fleisher.
Day menambahkan, penipu sering menyasar lansia pada siang hari ketika mereka sendirian di rumah.
Rasa malu membuat banyak korban enggan bercerita, padahal kejadian ini bisa menjadi petunjuk penting adanya penurunan fungsi kognitif.
Perlunya perubahan gaya hidup untuk memperlambat gejala
Meskipun demensia belum dapat disembuhkan, perubahan gaya hidup terbukti dapat membantu memperlambat perkembangannya.
Day menyarankan untuk rutin memeriksa tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Tidur berkualitas, mengelola sleep apnea, berolahraga, makan sehat, serta tetap bersosialisasi juga sangat penting bagi kesehatan otak.
“Tidak perlu langsung melakukan semuanya sekaligus. Mulailah dengan langkah kecil, misalnya berjalan kaki 20 menit tiga kali seminggu,” imbaunya.
Sementara itu, Fleisher menegaskan bahwa diagnosis demensia bukanlah akhir segalanya. Lansia tetap bisa memiliki hidup yang bermakna jika mendapatkan dukungan terbaik.
“Banyak orang tetap bisa hidup bermakna dan berkualitas dengan demensia, asalkan mendapatkan dukungan dan perawatan yang tepat,” pungkas Fleisher.
Tag: #tanda #demensia #pada #lansia #yang #sering #diabaikan #waspadai