Efek Aksi Jual Usai Trading Halt IHSG, Bakal ada Rebound Besar?
Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.(BEI)
07:48
29 Januari 2026

Efek Aksi Jual Usai Trading Halt IHSG, Bakal ada Rebound Besar?

- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin mencerminkan tekanan jual ekstrem yang bersumber dari krisis kepercayaan pasar, bukan dari memburuknya fundamental ekonomi nasional.

Pembekuan sementara perdagangan atau trading halt kemarin menjadi penanda bahwa mekanisme pasar telah memasuki fase dislokasi.

Hal ini juga mencerminkan emosi dan kebutuhan likuiditas mengalahkan pertimbangan rasional.

Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, perdagangan saham Indonesia pada 28 Januari 2026 menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah pasar modal domestik.

Baca juga: Efek Pengumuman MSCI ke Kinerja IHSG, Berdampak Panjang?

"Pemicu utama gejolak ini adalah keputusan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor, tidak menambah bobot saham Indonesia, serta meniadakan rebalancing Februari 2026," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).

Sedikit informasi, pada perdagangan kemarin IHSG terjun bebas hingga 7,35 persen dan ditutup di level 8.320,56.

IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di 8.187 sebelum akhirnya terjadi trading halt.

Hendra mengungkapkan, keputusan tersebut secara langsung mematahkan ekspektasi masuknya dana pasif global yang selama ini menopang saham-saham berkapitalisasi besar.

Lebih jauh, pernyataan MSCI yang menyoroti transparansi free float dan struktur kepemilikan saham, serta membuka peluang evaluasi lanjutan hingga Mei 2026, memperbesar persepsi risiko Indonesia di mata investor global.

"Pasar merespons cepat dengan aksi jual agresif dan serentak, terutama pada saham-saham indeks utama," imbuh dia.

Pengumuman MSCI picu aksi jual agresif

Hendra menyampaikan, tekanan tersebut tecermin jelas dari lonjakan volume transaksi hingga sekitar Rp 45 triliun, yang menunjukkan terjadinya distribusi besar-besaran.

Arus dana asing keluar kembali deras setelah sebelumnya relatif stabil, menandakan bahwa tekanan yang terjadi bersifat sistemik.

Dalam konteks ini, pengujian level terendah harian di 8.187 menjadi sangat krusial.

Pasalnya, ia berujar, level ini tidak hanya berfungsi sebagai support teknikal, tetapi juga sebagai batas psikologis yang menentukan apakah pasar mulai menemukan titik keseimbangan atau justru memasuki fase koreksi lanjutan.

"Area 8.180 hingga 8.200 selama ini merupakan zona konsolidasi penting sebelum IHSG melanjutkan tren naiknya," ungkap dia.

Ia menuturkan, fakta bahwa indeks sempat menyentuh area ini menegaskan bahwa tekanan jual telah mencapai titik ekstrem.

Adapun, ketika level tersebut mampu dipertahankan, peluang stabilisasi tetap terbuka melalui akumulasi selektif oleh investor domestik jangka panjang.

Namun demikian, ketika tekanan berlanjut dan level ini ditembus secara meyakinkan, pasar berisiko menguji area psikologis berikutnya di kisaran 8.000 hingga 8.050. "Yang dapat memicu volatilitas lanjutan," ucap dia.

Ada peluang rebound besar di pasar modal

Meski demikian, Hendra menyebut, di balik tekanan yang dalam, peluang terjadinya rebound besar justru mulai terbentuk ketika fase kepanikan mereda dan investor kembali berpikir logis.

Dalam kondisi pasar yang sangat emosional, harga saham sering kali jatuh jauh di bawah nilai wajarnya.

Ketika sentimen didominasi rasa takut, pasar cenderung mengabaikan fakta bahwa fondasi ekonomi Indonesia relatif solid, kinerja emiten secara agregat masih terjaga, serta harga komoditas utama seperti emas, tembaga, dan minyak berada di level tinggi.

Rebound berpotensi terjadi ketika pelaku pasar mulai memisahkan dampak jangka pendek keputusan MSCI terhadap aliran dana pasif dengan risiko fundamental jangka menengah.

Keputusan MSCI memang berdampak pada persepsi dan arus dana, tetapi tidak serta-merta mengubah prospek bisnis emiten maupun daya tahan ekonomi nasional.

Investor kembali ke pasar modal secara bertahap

Pada fase ini, Hendra bilang, investor institusi dan investor jangka panjang cenderung kembali masuk secara bertahap, memanfaatkan valuasi yang sudah terdiskon tajam akibat koreksi berlebihan.

Perubahan perilaku pasar dari reaktif menjadi reflektif menjadi kunci terbentuknya pemulihan.

Ketika tekanan jual kehilangan momentum dan volatilitas mulai menurun, pasar akan membangun basis yang lebih sehat.

Rebound yang muncul dari kondisi seperti ini biasanya bersifat cepat dan signifikan, karena posisi pasar sebelumnya sudah terlalu ringan setelah aksi jual masif. "Kenaikan tersebut bukan didorong oleh euforia, melainkan oleh penyesuaian kembali harga saham menuju nilai intrinsiknya," kata Hendra.

Investor jangka panjang jadi penyangga

Lebih lanjut, Hendra bilang, dukungan terhadap peluang rebound juga datang dari struktur pelaku pasar domestik.

Peran investor lokal jangka panjang, termasuk institusi dan dana pensiun, berpotensi menjadi penyangga ketika harga saham telah berada di level yang menarik secara risiko dan imbal hasil.

Selain itu, stabilisasi sentimen global, sikap bank sentral yang cenderung akomodatif, serta tren komoditas yang masih positif dapat mempercepat proses pemulihan kepercayaan.

Dengan demikian, meskipun IHSG saat ini masih berada dalam tekanan dan bergerak volatil pasca trading halt, kondisi tersebut tidak menutup peluang terjadinya rebound besar dalam waktu relatif cepat ketika pasar sudah lebih tenang dan rasional.

Koreksi tajam yang terjadi lebih mencerminkan krisis sentimen dan tata kelola pasar, bukan pelemahan fundamental ekonomi.

Ia berpandangan, ketika kejelasan arah perbaikan kebijakan mulai terlihat dan tekanan jual mereda, IHSG berpeluang kembali dinilai berdasarkan kekuatan fundamentalnya. "Membuka ruang pemulihan yang lebih terukur dan berkelanjutan," ucap dia.

Grafik pergerakan IHSG setelah pemberlakuan trading halt oleh BEI, Rabu (28/1/2026)KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI BEI/RTI Grafik pergerakan IHSG setelah pemberlakuan trading halt oleh BEI, Rabu (28/1/2026)

Dua Skenario Usai Trading Halt IHSG

Chief Economist and Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pihaknya melihat ada dua skenario yang kemungkinan terjadi setelah trading halt di awal sesi kedua hari ini.

Skenario pertama yang dapat terjadi adalah sentimen ini hanya membuat investor melakukan aksi jual sementara waktu. "Pertama, sell-off bersifat sementara," kata dia kepada Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi karena pelemahan IHSG kali ini bukan merupakan pelemahan ekonomi atau kinerja perusahaan secara fundamental.

Dengan demikian, efek jangka panjang bergantung kepada seberapa cepat respons regulasi dan perbaikan dilakukan.

Kemudian, skenario kedua adalah pengumuman MSCI ini dapat menjadi sentimen negatif yang bersifat struktural. "Pasalnya, kesempatan ‘naik bobot’ Indonesia sementara ini ditutup," terang dia.

Adapun skenario yang lebih buruk lagi atau worst case scenario yang dapat terjadi adalah pengurangan bobot, atau bahkan downgrade ke frontier, jika transparansi tidak membaik sampai Mei 2026.

Profil Dana Asing Berubah

Rully menjelaskan, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah profil aliran dana asing berpotensi untuk berubah.

Ia mengungkapkan tesis “inflow pasif” berbasis kenaikan foreign inclusion factor (FIF) menjadi tidak relevan dalam beberapa waktu ke depan.

Di sisi lain risiko outflow berlanjut dapat muncul jika terjadi penurunan FIF atau pengurangan bobot Indonesia di MSCI emerging markets.

IHSG Tertekan Usai Pengumuman MSCI

Pada perdagangan kemarin, nilai IHSG merosot setelah MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.

Hal tersebut terjadi karena adanya kekhawatiran atas tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.

Penangguhan itu akan berlaku hingga otoritas pasar, termasuk BEI, dinilai mampu mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dianggap terlalu terkonsentrasi.

Kebijakan tersebut menjadi tekanan terbaru bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di Asia Tenggara.

Berdasarkan pengumumannya, MSCI menyebutkan akan menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.

Keputusan itu diambil dengan alasan masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi pembentukan harga saham.

MSCI juga mengingatkan bahwa apabila hingga Mei 2026 belum terdapat kemajuan memadai dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.

Peninjauan ulang ini berpotensi berdampak signifikan, mulai dari penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan perubahan status Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier.

Baca juga: Apa yang Bisa Terjadi Usai Trading Halt IHSG? Ini Kata Pengamat

Tag:  #efek #aksi #jual #usai #trading #halt #ihsg #bakal #rebound #besar

KOMENTAR