Faktor yang Meningkatkan Risiko Cacar Api, Diabetes hingga Stres
Ilustrasi lansia.(Dok. Freepik/Freepik)
20:06
19 Januari 2026

Faktor yang Meningkatkan Risiko Cacar Api, Diabetes hingga Stres

- Cacar api atau herpes zoster dapat terjadi ketika virus varicella zoster yang pernah menyebabkan cacar air kembali aktif di dalam tubuh. Kondisi ini lebih mudah muncul pada orang dengan daya tahan tubuh yang menurun akibat berbagai faktor.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR menjelaskan bahwa risiko cacar api tidak hanya dipengaruhi oleh usia, tetapi juga oleh penyakit yang diderita serta pengobatan yang dijalani seseorang, salah satunya diabetes.

“Diabetes meningkat 30 kali, itu penyakit yang umum. Banyak yang mengalami diabetes tapi tidak menyadari bahwa dia berisiko,” ujar dr. Sandra dalam acara Kenali Cacar Api Health Talk di Siloam Lippo Karawaci, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, tingginya jumlah penderita diabetes membuat kelompok ini perlu lebih waspada terhadap kemungkinan terjadinya cacar api.

Penyakit kronis dan pengobatan tertentu

Pada dasarnya, dr. Sandra menekankan bahwa apa pun yang menurunkan daya tahan tubuh dapat meningkatkan risiko reaktivasi virus penyebab cacar api.

Ia menjelaskan, penurunan sistem imun tidak hanya terjadi pada penderita diabetes, tetapi juga pada orang dengan penyakit kronis lain, maupun mereka yang menjalani pengobatan tertentu.

“Orang yang punya penyakit jantung kronis, penyakit ginjal kronis, punya autoimun dan mendapatkan obat penurun imun, ini juga berisiko. Punya kanker, dia kan mendapatkan obat-obatan kemoterapi, nah itu juga meningkatkan risiko,” jelas dr. Sandra.

Menurut dr. Sandra, kondisi tersebut membuat tubuh tidak lagi optimal dalam menahan virus varicella zoster yang sebelumnya tidak aktif di dalam tubuh.

Selain penyakit, pengobatan menjadi faktor penting yang kerap diabaikan. Penggunaan steroid jangka panjang, obat penekan imun, maupun kemoterapi dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh sehingga virus lebih mudah kembali aktif.

“Dan juga adalah pengobatan yang kita miliki,” terang dr. Sandra.

Stres ikut melemahkan daya tahan tubuh

Selain faktor medis, kondisi mental seperti stres juga berperan dalam menurunkan daya tahan tubuh. 

Stres berkepanjangan, kurang tidur, serta kelelahan fisik dan emosional dapat membuat sistem imun melemah sehingga virus lebih mudah kembali aktif. Kondisi ini membuat orang dengan faktor risiko medis menjadi makin rentan mengalami cacar api.

Usia tetap berpengaruh

Meski cacar api dapat terjadi pada usia muda, kelompok lansia tetap menjadi populasi dengan risiko tertinggi karena sistem imun menurun secara alami seiring bertambahnya usia.

Namun, dr. Sandra menegaskan bahwa usia bukan satu-satunya penentu. Kombinasi antara usia, penyakit, pengobatan, serta kondisi mental seperti stres menjadi faktor yang saling berkaitan dalam meningkatkan risiko cacar api.

Risiko tetap bisa dicegah

Cacar api disebabkan oleh virus varicella zoster yang sama dengan penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak benar-benar hilang dari tubuh, melainkan tetap berada di jaringan saraf dalam keadaan tidak aktif.

Virus tersebut dapat kembali aktif ketika daya tahan tubuh menurun akibat berbagai faktor risiko tersebut.

Maka dari itu, bagi yang pernah mengalami cacar air dianjurkan lebih memperhatikan kondisi kesehatan, menjaga daya tahan tubuh, serta mengenali gejala sejak dini agar risiko cacar api dapat ditekan.

Melakukan konsultasi medis untuk mendapatkan vaksinasi juga bisa menjadi salah satu langkah pencegahan, terutama bagi orang dengan faktor risiko tertentu.

Dengan perlindungan yang tepat dan gaya hidup sehat, risiko cacar api dapat ditekan sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

Tag:  #faktor #yang #meningkatkan #risiko #cacar #diabetes #hingga #stres

KOMENTAR