Perhatian Bisa Jadi Bahaya, Ini Tanda Child Grooming yang Sering Tak Disadari
Child grooming sering luput disadari karena tidak selalu hadir sebagai kekerasan, melainkan dibungkus dalam perhatian yang tampak peduli dan melindungi.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa manipulasi psikologis ini berlangsung bertahap dan kerap baru disadari setelah anak mengalami luka emosional yang membekas hingga dewasa.
Kondisi inilah yang membuat child grooming menjadi ancaman serius bagi anak, meski sering dianggap sebagai bentuk kedekatan yang wajar.
Child grooming bukan kejadian seketika
Child grooming bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.
Proses ini berlangsung bertahap, dimulai dari upaya pelaku membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak.
Pelaku sering memosisikan diri sebagai orang yang paling peduli, paling mengerti, atau satu-satunya tempat aman bagi anak.
Pada tahap awal, tidak ada sentuhan atau perilaku yang tampak jelas sebagai pelanggaran.
“Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan,” kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Sabtu (17/1/2026).
Perhatian berlebihan yang perlu diwaspadai
ilustrasi anak dan orang dewasa. Child grooming kerap bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat menjadi manipulasi berbahaya yang meninggalkan luka jangka panjang pada anak.
Salah satu tanda awal child grooming adalah perhatian yang berlebihan dan eksklusif.
Pelaku membuat anak merasa istimewa, berbeda dari yang lain, dan lebih dekat secara emosional dibanding orang-orang terdekatnya.
Anak perlahan diarahkan untuk lebih percaya kepada pelaku dibanding orangtua atau keluarga.
Jika anak mulai merasa hanya satu orang yang benar-benar memahami dirinya, kondisi ini perlu diwaspadai.
“Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika,” ujar Lahargo.
Rahasia yang membuat anak terikat
Dalam proses grooming, pelaku kerap membangun hubungan berbasis rahasia. Anak diajak menyimpan cerita atau percakapan yang tidak boleh diketahui orang lain.
Rahasia ini membuat anak merasa terikat sekaligus takut kehilangan hubungan jika ia bercerita.
Pelan-pelan, anak dapat merasa bersalah jika ingin menjauh atau mengungkapkan ketidaknyamanan.
Ketika anak mulai bingung dengan perasaannya
Tanda lain yang sering muncul adalah kebingungan emosi pada anak.
Anak mungkin merasa nyaman sekaligus tidak nyaman dalam satu waktu. Ia tidak yakin apakah yang dialaminya salah, tetapi merasakan ada sesuatu yang janggal.
“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” kata Lahargo.
Mengapa sering tidak disadari?
Child grooming sering tidak disadari karena tidak melanggar batas secara langsung.
Pelaku perlahan menormalkan perilaku yang awalnya terasa asing atau tidak pantas. Seiring waktu, batasan anak melemah dan rasa tidak nyaman dianggap sebagai hal biasa.
Banyak korban baru menyadari bahwa mereka pernah dimanipulasi setelah beranjak dewasa.
“Oh, itu ternyata bukan kedekatan yang sehat,” menjadi kalimat yang sering muncul dalam refleksi korban, menurut Lahargo.
Peran orang dewasa dalam mengenali tanda awal
Kesadaran orang dewasa menjadi kunci dalam pencegahan child grooming.
Orangtua dan pengasuh perlu peka terhadap perubahan emosi anak, pola relasi, serta cerita yang tiba-tiba menjadi tertutup.
Membangun ruang aman agar anak berani bercerita tanpa takut dimarahi menjadi langkah awal yang penting.
“Anak yang aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi,” ujar Lahargo.
Bukan menakut-nakuti, tetapi melindungi
Mengenali tanda child grooming bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk melindungi anak.
Pemahaman yang tepat membantu orang dewasa membedakan antara perhatian yang sehat dan perhatian yang berbahaya.
Perhatian yang sehat membebaskan anak untuk tumbuh, sementara perhatian yang salah justru mengikat dan melukai.
Tag: #perhatian #bisa #jadi #bahaya #tanda #child #grooming #yang #sering #disadari