Broken Strings Aurelie Moeremans Ramai Dibaca, Psikolog Luruskan Salah Kaprah tentang Healing
Tangkapan layar buku Broken Strings Aurelie Moeremans di akun Instagram pribadinya @aurelie. Healing tidak selalu harus menghadapi trauma, psikolog menanggapi ramainya Broken Strings Aurelie Moeremans.(Instagram/@aurelie)
22:06
14 Januari 2026

Broken Strings Aurelie Moeremans Ramai Dibaca, Psikolog Luruskan Salah Kaprah tentang Healing

Banyak orang menganggap healing berarti berani menghadapi kembali luka lama.

Namun, psikolog mengingatkan bahwa membuka ulang trauma tanpa kesiapan justru bisa memperburuk kondisi psikologis.

Pemulihan diri, menurut psikolog, tidak selalu identik dengan menghadapi trauma secara langsung.

Ramainya kisah trauma dan salah kaprah tentang healing

Pandangan ini mengemuka seiring ramainya pembaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang mengangkat kisah hubungan toksik dan trauma masa lalu.

Buku tersebut dibagikan gratis melalui akun Instagram Aurelie dan banyak dibaca publik karena rasa penasaran terhadap kisah personal di balik figur publik.

Seiring cerita dibaca lebih dalam, sebagian pembaca justru mengaku merasa sedih, gelisah, atau teringat kembali pengalaman pribadi yang menyakitkan.

Healing tidak selalu berarti membuka luka lama

Psikolog Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., mengatakan anggapan bahwa healing harus selalu menghadapi trauma perlu diluruskan.

Menurutnya, menghadapi emosi memang penting, tetapi tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

“Dalam terapi ada konsep you have to feel it to heal it, tetapi itu bukan berarti semua emosi harus dihadapi kapan saja dan sendirian,” ujar Yustinus dalam wawancara dengan Kompas.com, Rabu (13/1/2026).

Ia menekankan bahwa healing yang sehat memiliki dua syarat utama, yaitu terasa aman secara emosional dan tetap berada dalam kendali diri.

Saat menghadapi trauma justru menjadi berbahaya

Yustinus menjelaskan, menghadapi trauma bisa menjadi tidak sehat ketika dilakukan tanpa kesiapan mental.

Jika setelah membaca atau mengingat trauma seseorang justru terus-menerus menangis, cemas berlebihan, sulit tidur, atau merasa semakin terpuruk, kondisi tersebut patut diwaspadai.

“Itu bukan healing, melainkan retraumatisasi, yaitu luka lama terbuka kembali tanpa dukungan yang cukup,” jelasnya.

Dalam kondisi ini, tubuh dan pikiran dinilai belum siap memproses emosi secara aman.

Healing harus aman dan terkendali

Menurut Yustinus, proses healing seharusnya membuat seseorang lebih mengenal dirinya, bukan semakin tenggelam dalam kesedihan.

Pemulihan diri dinilai berjalan sehat jika seseorang merasa lebih ringan dan lebih memahami luka batinnya.

“Kalau setelah menghadapi emosi justru semakin berat dan tidak terkendali, itu tanda prosesnya belum aman,” kata Yustinus.

Ia menambahkan bahwa kesiapan mental setiap orang berbeda dan tidak bisa dipaksakan dengan standar yang sama.

Berhenti bukan berarti gagal

Yustinus menegaskan bahwa memilih berhenti membaca kisah trauma atau menunda menghadapi luka lama bukanlah tanda kelemahan.

Keputusan tersebut justru dapat menjadi bentuk perlindungan diri.

“Berhenti bukan berarti lari dari masalah, tetapi cara menjaga diri agar tidak terluka lebih dalam,” ujarnya.

Mencari bantuan juga bagian dari healing

Jika perasaan terpicu terus berulang dan sulit dikelola sendiri, Yustinus menyarankan untuk mencari bantuan profesional.

Pendampingan psikolog dinilai membantu seseorang menghadapi trauma secara bertahap dan aman.

“Healing tidak harus dijalani sendirian,” kata Yustinus.

Ia menegaskan bahwa proses pemulihan setiap orang sah dan tidak perlu dibandingkan dengan pengalaman orang lain.

Tag:  #broken #strings #aurelie #moeremans #ramai #dibaca #psikolog #luruskan #salah #kaprah #tentang #healing

KOMENTAR