Boiyen Gugat Cerai, Mengapa Awal Pernikahan Rawan Konflik?
- Kasus perceraian Boiyen dengan suaminya, Rully Anggi Akbar, menarik perhatian publik. Sebab, Boiyen menggugat cerai Rully saat usia pernikahan baru dua bulan, yakni pada Januari 2026.
Bulan-bulan pertama setelah menikah memang kerap terasa jauh berbeda dari masa pacaran. Jika sebelumnya hanya bertemu dalam waktu terbatas, kini mereka harus berbagi ruang, rutinitas, hingga tanggung jawab setiap hari.
Banyak yang mengatakan bahwa perubahan besar di fase awal pernikahan ini merupakan periode paling rentan konflik. Mengapa?
“Karena ada transisi identitas adaptasi besar-besaran. Dari yang semula cuma mikirin ‘aku’, sekaran jadinya harus mikirin ‘kami’,” kata psikolog klinis dari NALA Mindspace, Shierlen Octavia, M.Psi, saat dihubungi pada Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Rully Digugat Cerai Boiyen, Pakar Sebut Pacaran Lama Tak Jamin Siap Nikah
Mengapa awal pernikahan rawan konflik?
Transisi kehidupan dari melajang
Transisi kehidupan dari melajang ke pernikahan membuat seseorang tidak lagi hanya memikirkan kebutuhan pribadi.
Ada perubahan peran dan tanggung jawab yang menuntut penyesuaian terus-menerus. Hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan saat masih sendiri, kini menjadi bagian dari rutinitas harian.
“Misalnya sebagai istri mungkin butuh bangun lebih pagi untuk membantu suami sebelum bekerja. Kalau tinggal dengan mertua, mungkin harus menyesuaikan rutinitas dengan mertua,” ucap Shierlen.
Baca juga: 8 Cara Menghadapi Mertua Toxic agar Rumah Tangga Tetap Harmonis
Komedian Boiyen dan suaminya, Rully Anggi Akbar, dalam acara pernikahannya pada November 2025.
Kaget dengan kebiasaan pasangan
Psikiater dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.K.J MSc, menuturkan bahwa kaget dengan kebiasaan pasangan merupakan salah satu pemicu utama konflik di awal pernikahan.
“Ternyata dia tidurnya ngorok, ternyata dia naruh handuk sembarangan. Hal-hal kecil kayak begini kan sifatnya sudah karakter. Yang satu karakternya rapi, yang satu karakternya berantakan,” tutur dia saat diwawancarai secara daring pada Kamis.
Meski terdengar sepele, perbedaan karakter seperti satu pihak sangat rapi dan yang lain cenderung berantakan bisa menjadi sumber ketegangan.
Menurut dr. Leonita, perbedaan karakter ini sering kali baru terasa berat saat sudah hidup bersama.
Baca juga: Boiyen Gugat Cerai, Kaget Realita Pernikahan atau Salah Pilih Pasangan?
Mencegah konflik berujung pada perceraian
Terkadang, konflik dalam rumah tangga bisa berujung pada perceraian. Lantas, bagaimana cara menyelesaikannya dengan kepala dingin?
Jangan dipendam karena bisa jadi bom waktu
Shierlen menyoroti kebiasaan sebagian pasangan yang membiarkan konflik selesai dengan sendirinya saat masih pacaran. Pola ini bisa menjadi masalah besar setelah menikah.
“Bisa banget menjadi bom waktu saat menikah karena tidak pernah ada konflik yang hilang dengan sendirinya. Yang ada adalah dipendam,” jelas dia.
Saat pacaran, dampak konflik mungkin terasa kecil karena interaksi belum seintens pernikahan. Namun setelah menikah, persoalan yang sama bisa muncul dalam konteks yang lebih kompleks, seperti keuangan, anak, atau hubungan dengan keluarga besar.
Jika pasangan tidak terbiasa menyelesaikan masalah kecil dengan sehat, emosi dapat menumpuk dan meledak ketika menghadapi persoalan yang lebih besar.
Baca juga: 5 Langkah Melindungi Diri dari Hubungan Pemicu Stres Emosional
Pahami fase awal pernikahan memang rawan konflik
Selanjutnya adalah memahami bahwa fase awal pernikahan memang rawan konflik, dan itu adalah hal yang wajar.
“Jadi, jangan fokus pada konflik, tetapi pada pemecahannya,” ucap Shierlen.
Ayu Ting Ting hingga Anwar BAB menghadiri pesta pernikahan Boiyen dan Rully Anggi Akbar yang digelar di ICE BSD, Tangerang Selatan, Sabtu (15/11/2025).
Oleh karena itu, baik suami maupun istri, perlu membangun kebiasaan yang jujur, terbuka, dan aman sejak awal pacaran.
Terapkan cara bertengkar yang sehat
Untuk dr. Leonita, ia menitikberatkan pada cara bertengkar yang sehat. Ketika sepasang kekasih bertengkar dan saling adu mulut, mereka tidak menyerang pribadi masing-masing pasangan.
Mereka tetap fokus pada masalah yang ada karena suami dan istri saling menyadari bahwa mereka berada di sisi yang sama.
Baca juga: 8 Pola Komunikasi Toxic yang Merusak Hubungan dan Cara Mengatasinya
“Pasangan dengan komunikasi yang baik bisa punya ketidaksetujuan yang membuat mereka berkonflik, tapi mereka sadar berada di sisi yang sama. Jadi yang diberantemin itu tentang halnya, masalahnya, idenya,” ujar dr. Leonita.
Sebaliknya, cara bertengkar yang tidak sehat adalah ketika konflik berubah menjadi serangan personal. SItuasi ini membuat pasangan seperti berada di kubu yang berlawanan.
Cari bantuan profesional
Apabila kamu dan pasangan sudah berupaya untuk menyelesaikan konflik, tetapi tetap tidak menemukan jalan keluar atau sulit berkompromi, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional.
Shierlen mengatakan, lebih baik meminta bantuan tenaga ahli daripada konflik malah saling menyakiti satu sama lain.
Baca juga: Angka Pernikahan Menurun: Ada Apa Gerangan?
Ketika nilai hidup sudah tidak sejalan
Apabila segala upaya perbaikan telah dilakukan, tetapi tidak menemukan titik temu, dr. Leonita menekankan pentingnya kembali pada nilai hidup masing-masing individu.
Keputusan untuk bertahan atau berpisah merupakan pilihan personal yang harus selaras dengan kesejahteraan psikologis jangka panjang.
“Kalau enggak bisa dikompromikan, sampai kapan pun kamu cuma menunda masalah. Jadi, untuk apa menghabiskan waktu dalam hubungan yang kamu tahu memang sudah tidak cocok,” ucap dr. Leonita.
Menurut dia, pilihan untuk berpisah terkadang diambil sebagai bentuk perlindungan diri agar seseorang tidak terjebak dalam konflik yang terus menyakiti di masa depan.
"Kalau kamu melihat bercerai lebih baik untuk menyelamatkanmu dari permasalahan lebih lanjut di masa depan, silakan,” sambung dr. Leonita.
Baca juga: 78 Persen Kasus Cerai di Indonesia 2024 Berasal dari Gugatan Istri, Ini Laporannya
Tag: #boiyen #gugat #cerai #mengapa #awal #pernikahan #rawan #konflik