Jangan Abaikan Stres Sebelum Operasi, Bisa Memperpanjang Masa Pemulihan
- Menjelang operasi, banyak orang fokus mempersiapkan fisik, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga puasa sebelum tindakan medis.
Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kesiapan mental, khususnya kemampuan mengelola stres, juga memegang peranan penting dalam menentukan proses pemulihan pascaoperasi.
Penelitian ini menegaskan bahwa menurunkan tingkat stres sebelum masuk ruang operasi dapat membantu mengurangi rasa nyeri, mempercepat pemulihan, serta menurunkan risiko komplikasi.
Studi yang dipublikasikan dalam edisi Januari Jurnal Anesthesiology ini menemukan, bahwa pasien yang mengalami stres sebelum operasi cenderung merasakan nyeri yang lebih berat setelah tindakan medis dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.
Bahkan, stres dalam tingkat yang tergolong ringan hingga sedang, tetap dapat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi pasien.
Stres sebelum operasi tak bisa dianggap ringan
Peneliti utama, Dr. Leah Acker, seorang ahli anestesi dari Duke University School of Medicine di Durham, North Carolina, menekankan pentingnya memahami kondisi emosional pasien.
“Sebagai ahli anestesi, saya memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan pasien, tetapi pasien juga memiliki kekhawatiran mereka sendiri,” ungkapnya dilansir US News, Selasa (13/1/2026).
Menurut Acker, kondisi emosional pasien sering kali luput dari perhatian karena fokus tim medis lebih tertuju pada kesiapan fisik.
Padahal, stres yang menumpuk dapat memengaruhi respons tubuh terhadap operasi dan proses penyembuhan.
Penelitian ini melibatkan 132 pasien yang diukur tingkat stresnya menggunakan kuesioner digital berdurasi sekitar tiga menit.
Pengambilan data dilakukan antara November 2022 hingga Februari 2024. Kuesioner ini dirancang untuk menangkap berbagai aspek kekhawatiran pasien menjelang operasi.
“Survei ini hanya membutuhkan beberapa menit dan memberi kami gambaran tentang hal-hal yang paling penting bagi pasien, sehingga kami bisa menyesuaikan percakapan atau intervensi sederhana yang dapat membuat perbedaan,” tambah Acker.
Bukan intensitas, tapi jumlah sumber stres
Salah satu temuan menarik dari studi ini adalah bahwa jumlah sumber stres yang dimiliki pasien ternyata lebih berpengaruh dibandingkan seberapa berat stres tersebut dirasakan.
Banyaknya masalah kecil yang menumpuk, dapat lebih berdampak buruk daripada satu masalah besar.
Acker menggambarkan kondisi ini sebagai perasaan kewalahan. Ia menilai, tekanan kecil yang terus bertambah dapat menguras energi mental pasien dan menghambat pemulihan pascaoperasi.
Pasien dengan lebih banyak sumber stres tercatat lebih mungkin menjalani perawatan rumah sakit yang lebih lama dan merasakan nyeri yang lebih berat setelah operasi. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami delirium.
Risiko delirium meningkat karena stres
Delirium adalah kondisi kebingungan akut yang dapat muncul secara tiba-tiba setelah operasi, terutama pada pasien lanjut usia. Kondisi ini termasuk salah satu komplikasi pascaoperasi yang paling serius.
Penelitian menemukan bahwa risiko delirium meningkat sebesar 19 persen setiap kali satu sumber stres tambahan dialami pasien.
Semakin banyak kekhawatiran yang dibawa pasien ke ruang operasi, semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan mental sementara ini.
Peneliti menekankan, delirium tidak hanya memperpanjang masa rawat inap, tetapi juga meningkatkan biaya perawatan dan berpotensi menaikkan risiko demensia dalam jangka panjang.
Peran tim medis dalam menurunkan stres pasien
Para peneliti menilai bahwa tim bedah dapat berperan lebih aktif dalam membantu pasien mengelola stres sebelum operasi.
Salah satunya dengan melakukan penilaian singkat terhadap kondisi psikologis pasien dan memberikan dukungan emosional yang sesuai.
Pasien yang merasa kewalahan sering kali berusaha menyelesaikan semua kekhawatiran mereka sebelum hari operasi.
Upaya ini justru dapat menguras energi, mengganggu kualitas tidur, dan pada akhirnya memperburuk rasa nyeri setelah operasi.
Peneliti mengingatkan bahwa kualitas tidur yang buruk telah lama dikaitkan dengan peningkatan persepsi nyeri.
Acker menambahkan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah jenis stres tertentu lebih berpengaruh terhadap hasil operasi, serta sejauh mana tim medis dapat membantu pasien dengan intervensi sederhana sebelum hari tindakan.
Bagi pasien yang akan menjalani operasi, mengelola kecemasan, berbicara terbuka tentang kekhawatiran, dan menerima dukungan dari tenaga kesehatan dapat menjadi langkah sederhana, namun bermakna untuk mempercepat pemulihan.
Tag: #jangan #abaikan #stres #sebelum #operasi #bisa #memperpanjang #masa #pemulihan