Mengenal Peter Pan Syndrome, Ketika Orang Dewasa Menolak Menjadi Dewasa
Ilustrasi Peter Pan. Peter Pan Syndrome ialah istilah yang menggambarkan pola perilaku seseorang menolak tumbuh dewasa. Ciri-cirinya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.(Wikimedia Commons)
13:20
1 Februari 2026

Mengenal Peter Pan Syndrome, Ketika Orang Dewasa Menolak Menjadi Dewasa

- Menjalani kehidupan sebagai orang dewasa memang terasa berat pada waktu-waktu tertentu.

Wajar jika sebagian orang membayangkan betapa enaknya jika mereka bisa lolos dari tanggung jawab untuk selamanya, seperti ketika masih menjadi anak-anak.

Namun pada sebagian orang, proses menjadi dewasa bukan sekadar terasa berat, tetapi seperti sesuatu yang hampir mustahil dilakukan.

Baca juga: Mengenal Empty Nest Syndrome, Saat Orangtua Kesepian Melihat Anak Sudah Mandiri

Ketidakdewasaan ini bukan cuma soal sikap manja, lantaran bisa merusak hubungan, menghambat pekerjaan, dan memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental maupun fisik.

Belum lama ini, setelah lepas dari rehabilitasi, Onadio Leonardo atau yang kerap disapa Onad mengakui dirinya memiliki Peter Pan Syndrome.

Pada orang-orang yang mengidap Peter Pan Syndrome, proses pendewasaan bukan terasa berat lagi, tetapi sangatlah sulit. Apa itu Peter Pan Syndrome?

Mengenal Peter Pan Syndrome

Apa itu Peter Pan Syndrome?

Dikutip dari Cleveland Clinic, Minggu (1/2/2026), Peter Pan Syndrome (PPS) adalah istilah psikologis yang digunakan untuk menggambarkan orang dewasa yang kesulitan untuk tumbuh dewasa.

Peter Pan Syndrome bukanlah diagnosis resmi dalam dunia medis atau psikologi. Istilah ini berasal dari tokoh fiksi Peter Pan, anak laki-laki ajaib yang tidak pernah menua, ciptaan J.M. Barrie pada tahun 1902.

Orang yang menunjukkan kecenderungan sindrom ini biasanya menampilkan berbagai perilaku sosial, pola pikir, dan sifat yang dianggap tidak matang.

Dalam banyak kasus, mereka kesulitan berkomitmen, mempertahankan pekerjaan, mengerjakan tugas rumah tangga, memenuhi tanggung jawab, serta menentukan arah hidup yang jelas dan bermakna.

Baca juga: Depleted Mother Syndrome, Saat Ibu Terlihat Kuat tapi Sebenarnya Kelelahan

Meskipun lebih sering dikaitkan dengan laki-laki, siapa pun sebenarnya bisa mengembangkan pola perilaku yang terkait dengan sindrom ini.

“Seperti Peter Pan, individu-individu ini mengalami kegagalan untuk meluncur ke fase dewasa, atau penolakan untuk tumbuh dewasa,” kata psikoterapis di Cleveland Clinic Kanada, Natacha Duke, RP.

“Ada sifat egosentris pada diri mereka, dan mereka terus-menerus menghindari tanggung jawab serta komitmen, dan tidak mengambil tanggung jawab orang dewasa seperti yang dilakukan kebanyakan orang," sambung dia.

Cenderung mencari pasangan dengan sindrom Wendy

Karena ketidakmampuan menjalankan tugas-tugas orang dewasa, orang-orang dengan Peter Pan Syndrome sering kali mencari orang lain yang memiliki apa yang disebut sindrom Wendy.

Nama ini diambil dari tokoh Wendy Darling dalam cerita Barrie, yang diciptakan pada 1904 sebagai teman Peter Pan.

Sama seperti Peter Pan Syndrome, sindrom Wendy juga bukan diagnosis resmi, melainkan istilah populer untuk menggambarkan orang dewasa yang empatik, pengasih, dan bahkan rela berkorban.

Meskipun lebih umum dikaitkan dengan perempuan, siapa pun bisa menunjukkan perilaku ini, sama halnya dengan PPS.

“Di awal, ini seperti pasangan yang dibuat di surga. Kamu punya seseorang dengan PPS yang sangat menyenangkan dan karismatik sehingga menarik orang lain," ucap Duke.

"Dan orang dengan sindrom Wendy bisa hadir untuk mereka, mendukung mereka, dan memberi saran untuk mencoba membuat mereka lebih baik. Masalahnya, pada akhirnya ini berbalik menjadi bumerang, dan orang dengan sindrom Wendy pasti mulai merasa dimanfaatkan," lanjut dia.

Dalam dinamika sindrom Peter Pan dan Wendy, hubungan pada akhirnya runtuh ketika kedua orang tersebut mulai berbenturan, karena perilaku masing-masing.

“Orang dengan sindrom Wendy cenderung mengalami kelelahan emosional karena mereka terus merasa seperti memberi dan memberi tanpa mendapatkan apa pun sebagai balasan,” kata Duke.

Pada saat yang bersamaan, mereka dengan PPS mungkin merasa bahwa pasangannya mengontrol, mencoba mengubah mereka, atau mengekang mereka.

Karena orang-orang dengan PPS kesulitan mempertahankan batasan yang sehat, mereka sering melompat dari satu orang atau hubungan, ke hubungan lain.

Baca juga: Fenomena From Zero to Hero Syndrome, Kenapa Perempuan Ditinggalkan Setelah Pasangan Sukses?

Tujuannya adalah untuk mencari orang yang "mewajarkan" perilaku mereka, dan mendukung mereka dalam hal-hal yang sebenarnya sulit mereka lakukan sendiri.

“Apa yang terjadi pada akhirnya adalah, tidak pernah ada pembelajaran yang benar-benar terjadi dari kedua belah pihak,” ungkap Duke.

Apakah Peter Pan Syndrome itu nyata?

Walaupun Peter Pan Syndrome bukan kondisi yang bisa didiagnosis secara resmi, sindrom ini memiliki cukup banyak kesamaan dengan gangguan kepribadian narsistik (NPD).

Pengidap NPD menunjukkan pola mementingkan diri sendiri yang mirip dengan Peter Pan Syndrome, tetapi biasanya disertai tingkat rasa penting diri dan perasaan berhak yang jauh lebih tinggi.

“Dengan NPD, orang tersebut bukan hanya egosentris, tetapi ada manipulasi yang lebih besar. Seseorang dengan NPD cenderung sangat sensitif terhadap kritik dan bisa berubah menjadi marah dalam sekejap," jelas Duke.

Orang dengan Peter Pan Syndrome mungkin tidak secepat itu marah atau ingin membalas dendam, tetapi mereka cenderung menghindari penyelesaian konflik dan lebih mengandalkan mekanisme koping yang tidak sehat.

“Ada kecenderungan untuk ingin melarikan diri dan menghindari komitmen,” kata Duke.

Penyebab Peter Pan Syndrome

Ada sebuah penelitian berjudul "Overprotecting Parents Can Lead Children to Develop 'Peter Pan Syndrome'" yang dipublikasi pada tahun 2007.

Penelitian menemukan, pola asuh permisif maupun terlalu protektif, bisa menjadi faktor yang berkontribusi pada Peter Pan Syndrome. Dalam pola asuh permisif, anak mungkin kesulitan mempelajari pentingnya batasan yang sehat.

“Batasan sangat penting saat kita mengambil tanggung jawab orang dewasa, semakin kita belajar dan berkembang,” tutur Duke.

Sementara itu, pola asuh terlalu melindungi atau helicopter parenting, meskipun berniat baik, bisa membuat anak kesulitan mengurus dirinya sendiri di beberapa aspek saat dewasa nanti.

“Memiliki pola asuh ini tidak selalu berarti seseorang akan mengembangkan NPD atau Peter Pan Syndrome, tetapi ini adalah faktor risiko,” jelas Duke.

Baca juga: Korban Selamat Kecelakaan Air India Bisa Alami Survivor Syndrome, Apa Itu?

Faktor lain mencakup trauma masa kecil. Selain itu, tekanan sosial dan penerimaan di dunia maya terhadap gaya hidup yang menonjolkan kebebasan, petualangan, dan perilaku kekanak-kanakan, juga sering berperan dalam mendukung berkembangnya pola ini.

“Dalam kasus ketika anak tumbuh dalam keadaan yang sangat sulit, terkadang ada kebutuhan untuk mengulang masa kecil saat sudah dewasa,” ucap Duke.

Kapan perlu mencari bantuan?

Jika kamu diberi tahu bahwa kamu kesulitan tumbuh dewasa atau memikul tanggung jawab, atau kamu merasa hubunganmu meregang, mungkin sudah waktunya berbicara dengan terapis.

Terapis dapat membantumu menavigasi area kehidupan ini, serta meningkatkan pemahaman diri, keterampilan interpersonal, dan kemampuan berpikir kritis.

Baca juga: Lansia Rentan Terkena Post Power Syndrome, Apa Itu?

Tag:  #mengenal #peter #syndrome #ketika #orang #dewasa #menolak #menjadi #dewasa

KOMENTAR