Ikut Menangis Baca ''Broken Strings'' Aurelie Moeremans? Ini Bedanya Empati dan Retraumatisasi Menurut Ahli
Tangkapan layar buku Broken Strings Aurelie Moeremans yang dibagikan lewat akun Instagram milikinya @aurelie. Psikolog jelaskan alasan medis mengapa kisah trauma dalam buku Broken Strings milik Aurelie Moeremans bisa memicu reaksi fisik yang menyakitkan bagi pembacanya.(Instagram/@aurelie)
10:42
14 Januari 2026

Ikut Menangis Baca ''Broken Strings'' Aurelie Moeremans? Ini Bedanya Empati dan Retraumatisasi Menurut Ahli

Pernahkah Anda merasa dada mendadak sesak atau jantung berdebar saat membaca kisah trauma orang lain?

Reaksi fisik nyata ini sering dilaporkan para pembaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans saat menyelami momen kelam sang aktris.

Mengapa tubuh kita bisa bereaksi sehebat itu terhadap luka yang bukan milik kita?

Rahasia di balik saraf cermin

Psikolo RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar rasa haru biasa. Secara medis, otak manusia memiliki sistem unik yang disebut mirror neuron atau saraf cermin.

"Sistem ini membuat kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Saat kita membaca kisah trauma, otak memproses informasi tersebut seolah-olah kita sedang menyaksikan langsung kejadiannya," ujar Yustinus kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Bagaimana saraf cermin bekerja?

Ilustrasi depresi. Psikolog jelaskan alasan medis mengapa kisah trauma dalam buku Broken Strings milik Aurelie Moeremans bisa memicu reaksi fisik yang menyakitkan bagi pembacanya.Unsplash/Carolina Ilustrasi depresi. Psikolog jelaskan alasan medis mengapa kisah trauma dalam buku Broken Strings milik Aurelie Moeremans bisa memicu reaksi fisik yang menyakitkan bagi pembacanya.

Bayangkan otak Anda memiliki cermin yang secara otomatis memantulkan emosi orang di sekitar Anda.

Menurut Yustinus, fungsi utama mirror neuron adalah membangun empati, namun saraf ini juga bisa menjadi saluran "penularan emosi" (emotional contagion).

Ketika Aurelie menuangkan rasa takut dan intimidasi yang ia alami ke dalam tulisan, saraf cermin pembaca menangkap "getaran" emosi tersebut.

Hasilnya, otak mengirimkan sinyal bahaya ke tubuh yang bermanifestasi menjadi gejala fisik seperti napas pendek atau mual.

"Itulah sebabnya meskipun kita hanya membaca teks, tubuh bisa bereaksi nyata seolah-olah ancaman itu ada di depan mata kita sendiri," lanjut Yustinus.

Saat empati menjadi bumerang

Meskipun saraf cermin membantu kita menjadi manusia yang berempati, ada kalanya sistem ini bekerja terlalu kuat.

Hal ini terutama terjadi jika pembaca memiliki riwayat luka yang serupa dengan tokoh yang diceritakan.

Yustinus memperingatkan bahwa paparan emosi negatif yang terlalu intens bisa memicu retraumatisasi, kondisi di mana luka lama kita terbuka kembali.

"Ingatan traumatis itu tidak tersimpan seperti ingatan biasa, tapi bisa dalam bentuk sensasi tubuh. Jadi, ketika saraf cermin aktif karena cerita orang lain, tubuh bisa langsung 'mengingat' luka kita sendiri," jelasnya.

Cara menenangkan otak yang "terpicu"

Jika Anda mulai merasa kewalahan saat menyerap kisah penderitaan orang lain, Yustinus menyarankan langkah sederhana untuk menenangkan sistem saraf:

  • Berhenti Sejenak: Tutup buku atau sumber cerita tersebut untuk memberi jarak fisik.
  • Alihkan Perhatian: Fokuslah pada lingkungan sekitar saat ini untuk memberi tahu otak bahwa Anda sedang aman.
  • Teknik Napas 4-6: Tarik napas 4 detik, lalu hembuskan perlahan selama 6 detik guna menenangkan saraf yang tegang.

Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings memang mengajarkan tentang keberanian, namun menjaga kesehatan mental sendiri tetaplah prioritas utama.

"Healing itu bukan tentang seberapa kuat kita menahan sakit orang lain," pungkas Yustinus, "tetapi seberapa bijak kita bisa menjaga batas aman bagi diri kita sendiri."

Tag:  #ikut #menangis #baca #broken #strings #aurelie #moeremans #bedanya #empati #retraumatisasi #menurut #ahli

KOMENTAR