Hobi Menunduk Main HP Bisa Picu Saraf Terjepit, Ini Penjelasan Dokter
Gawai kini tak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari keseharian yang sulit dilepaskan dari genggaman.
Namun, di balik kemudahan akses informasi melalui layar ponsel maupun laptop, terselip ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian.
Kebiasaan menunduk dalam durasi lama saat menatap layar tak hanya memunculkan masalah pegal biasa, melainkan pintu masuk bagi kondisi medis serius, seperti saraf terjepit di leher atau cervical nerve entrapment
Pakar Orthopedi dan Traumatologi dari RS Fatmawati, Dr. dr. Didik Librianto, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K), menjelaskan bahwa saraf terjepit merupakan istilah umum yang merujuk pada gangguan saraf akibat penekanan dari struktur di sekitarnya.
"Jadi, saraf terjepit itu istilah umum untuk yang beredar di masyarakat Indonesia atau bahasa Inggrisnya, nerve entrapment. Ada gangguan saraf karena penekanan dari daerah sekitarnya. Biasanya karena kelainan di tulang atau di daerah struktur sekitarnya," ujar dr. Didik dalam siaran langsung radio Kemenkes, dikutip Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Mengapa menunduk berbahaya?
Leher manusia dirancang untuk menopang beban kepala dalam posisi tegak.
Saat seseorang menunduk untuk melihat ponsel, beban yang harus dipikul oleh tulang belakang leher meningkat secara drastis.
Jika posisi ini dilakukan terus-menerus tanpa istirahat, struktur tulang belakang, terutama bantalannya (disk), akan mengalami tekanan berlebih.
Dr. Didik menekankan bahwa aktivitas sehari-hari adalah pemicu utama.
"Seseorang itu bisa mengalami hal tersebut yang sering adalah karena aktivitas hari-hari. Pekerjaan, olahraga, posisi. Dari yang sederhana, misalnya kita sering nundukin kepala, main HP, itu juga bisa, atau komputer, laptop," jelasnya.
Selain posisi menunduk, faktor risiko lainnya meliputi olahraga dengan teknik yang salah, seperti menyundul bola dengan posisi leher yang tidak tepat, hingga kebiasaan membunyikan leher atau "kretek-kretek" abal-abal.
Mengenali gejala saraf terjepit: dari leher hingga ke kaki
Gejala saraf terjepit di leher sering kali menipu karena rasa sakitnya tidak selalu menetap di leher.
Menurut dr. Didik, keluhan yang sering timbul meliputi nyeri di leher, kepala, hingga pundak yang menjalar ke tangan. Pada tahap yang lebih berat, kondisi ini bisa memicu kelemahan pada ekstremitas.
"Kadang-kadang otot tangan menjadi kecil, menggenggam sering lepas, benda-benda seperti pulpen, garpu, atau mengancingkan baju menjadi sulit," kata dr. Didik.
Hal yang paling mengejutkan bagi orang awam adalah fakta bahwa masalah di leher bisa berdampak hingga ke kaki.
Dr. Didik menjelaskan bahwa penekanan saraf di leher yang parah dapat mengganggu jalur saraf ke bawah, sehingga pasien mengalami kesulitan berjalan atau merasa kakinya limbung.
Jika tidak ditangani dengan baik, stadium yang berat ini dapat memicu kelumpuhan.
Tahapan penanganan: tak selalu operasi
Banyak masyarakat yang takut berobat karena membayangkan meja operasi.
Padahal, dr. Didik menjelaskan bahwa penanganan saraf terjepit sangat bergantung pada stadiumnya.
Jika pasien datang pada tahap awal, pengobatan biasanya dimulai dengan metode konservatif.
"Biasanya pasien diberikan untuk istirahat dan obat-obatan tergantung dari beratnya hasil pemeriksaan. Dokter akan melihat apakah dengan obat, istirahat, dan fisioterapi bisa membaik," terangnya.
Pilihan terapi yang bisa diambil antara lain:
- Fisioterapi: Meliputi metode pemanasan, relaksasi otot, laser, hingga traksi.
- Obat-obatan: Anti-nyeri, anti-inflamasi, dan vitamin khusus untuk saraf.
- Terapi alternatif: Akupunktur dan injeksi steroid juga diakui efektif untuk manajemen nyeri (managing pain), asalkan tidak dilakukan secara berlebihan.
- Namun, jika kondisi sudah berat, seperti adanya tumor, infeksi, atau HNP yang parah, tindakan operatif seperti endoskopi mungkin diperlukan untuk melonggarkan jepitan saraf secara permanen.
Pencegahan dan posisi ergonomis
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Dr. Didik menyarankan masyarakat untuk menerapkan pola hidup ergonomis, terutama saat bekerja di depan layar.
"Posisi ergonomis adalah posisi ketika kita bekerja. Misalnya, pandangan kita saat menggunakan komputer atau laptop, mata kita sederajat dengan monitor. Jadi jangan menunduk, leher dalam posisi yang tegak," pesan dr. Didik.
Selain menjaga posisi duduk, pemilihan bantal tidur juga krusial.
Dr. Didik menyarankan untuk tidak menggunakan bantal yang terlalu tinggi karena dapat menyebabkan leher tertekuk (fleksi) dalam waktu lama, yang justru memperberat penekanan saraf.
Sebagai penutup, dr. Didik mengingatkan jika nyeri leher atau kesemutan tidak membaik dalam 1-2 hari setelah beristirahat, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis orthopedi atau saraf.
"Jangan sampai menjadi lebih berat, sehingga pasien tetap bisa meningkatkan kualitas hidupnya," pungkasnya.
Tag: #hobi #menunduk #main #bisa #picu #saraf #terjepit #penjelasan #dokter