Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
Dokter mempersiapkan vaksin influenza Flubio di Klinik Pratama Dermaga Raya, Jakarta, Rabu (7/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
09:00
12 Januari 2026

Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia

Fenomena "superflu" tengah memicu kekhawatiran di ruang publik dan media sosial sejak awal tahun 2026. Meskipun istilah ini terdengar seperti penyakit baru yang misterius, secara medis superflu sebenarnya merujuk pada lonjakan kasus Influenza A subtipe H3N2, khususnya varian subclade K.

Penyakit ini bukanlah jenis virus baru, melainkan mutasi dari virus influenza tipe A yang memang dikenal paling mudah berubah dan sering memicu peningkatan kasus secara global.

Di Indonesia, virus ini telah terdeteksi di sejumlah daerah dengan kelompok anak-anak dan perempuan sebagai penderita terbanyak.

Penyebutan "superflu" oleh masyarakat muncul karena varian ini cenderung memberikan dampak kesehatan yang lebih berat, durasi sakit yang lebih lama, hingga potensi terjadinya infeksi ganda dengan virus lainnya secara bersamaan.

Gejala Spesifik pada Dewasa dan Anak

Karakteristik utama dari superflu adalah kemunculan gejalanya yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya dua hingga tiga hari pasca-kontak dengan virus.

Berbeda dengan flu biasa yang gejalanya cenderung ringan, superflu sering kali melumpuhkan aktivitas sehari-hari karena tingkat kelelahan yang ekstrem.

Pada orang dewasa, gejala yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, batuk kering yang menetap, nyeri otot yang hebat, hingga sakit kepala intens.

Beberapa pasien juga melaporkan nyeri pada mata atau mata yang menjadi sangat sensitif terhadap cahaya.

Sementara itu, gejala pada anak-anak sering kali lebih kompleks dan sulit dideteksi secara spesifik. Selain demam, anak yang terinfeksi superflu cenderung menjadi sangat rewel, mengalami nyeri telinga, sakit perut, hingga gangguan pencernaan seperti muntah dan diare.

Orang tua diimbau segera membawa anak ke dokter jika gejala tidak membaik dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari.

Beda Super Flu dengan Flu Biasa

Meski sekilas mirip, ada perbedaan mendasar antara superflu dan flu biasa (common cold). Flu biasa umumnya hanya menyerang saluran pernapasan atas dengan gejala yang masih memungkinkan penderitanya melakukan aktivitas ringan.

Sebaliknya, superflu memiliki tingkat penularan yang jauh lebih agresif, di mana satu pasien dapat menularkan virus ke lebih dari dua orang dengan sangat cepat.

Selain itu, tingkat keparahan gejala menjadi pembeda utama. Superflu dapat memicu kelelahan yang luar biasa dan demam yang sulit turun meski sudah diberikan obat penurun panas biasa.

Durasi infeksi yang panjang juga membuat tubuh penderita terasa jauh lebih lemah dibandingkan saat terkena flu musiman pada umumnya.

Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi varian H3N2 ini, tim medis biasanya akan menyarankan pemeriksaan swab influenza tipe A melalui sampel lendir hidung atau tenggorokan. Penanganan sejak dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Beberapa langkah pengobatan yang disarankan meliputi konsumsi obat antivirus seperti oseltamivir berdasarkan resep dokter, istirahat total, serta pemenuhan hidrasi yang cukup melalui air putih atau sup hangat.

Penggunaan obat penurun panas dan dekongestan juga efektif untuk meringankan keluhan di saluran pernapasan selama masa pemulihan.

Dalam hal pencegahan, vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi tameng utama, terutama karena virus influenza terus bermutasi setiap tahun.

Selain itu, menjaga pola hidup bersih dengan rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan, serta menjaga daya tahan tubuh melalui asupan bergizi adalah langkah preventif yang tidak boleh diabaikan.

Kontributor : Rizqi Amalia

Editor: M Nurhadi

Tag:  #beda #super #dengan #biasa #penyakitnya #sudah #indonesia

KOMENTAR